Midnight Stories

Maghfira Izani
Chapter #10

Rumah angker

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2007. Saat itu saya harus keluar kota untuk koas. Ya, saya adalah seorang mahasiswa kedokteran. Kebetulan saat itu saya koas di kota Surabaya untuk satu bulan, saya bekerja di sebuah rumah sakit swasta di kota Surabaya. Supaya praktis, saya menyewa sebuah rumah untuk saya tinggali selama satu bulan ke depan. Rumah itu sebenarnya terlalu besar untuk saya tinggali, karena saya hanya sendirian. Tapi apa boleh buat, saya tidak punya pilihan.

Hari demi hari saya lewati, karena cukup sibuk saya hampir tidak pernah memperhatikan rumah itu. Rumah itu hanya saya gunakan untuk tidur, sisanya saya di rumah sakit. Tapi memang rumah itu seperti rumah Belanda jaman dulu, penataan ruangnya pun bergaya asing. Rumah itu mempunyai lorong yang cukup panjang yang menghubungkan ruang tamu dan dapur, kebetulan kamar saya tepat berada di ujung lorong dekat ruang tamu. Sebenarnya masih ada sebuah kamar lagi di antara dapur dan kamar saya, tapi kamar itu kosong, karena memang saya hanya sendirian. Tapi tidak mengapa, toh saya pulang hanya untuk tidur dan melepas lelah. Waktu saya habis di rumah sakit, tidak ada waktu untuk memerhatikan detail rumah itu.

Saya tidak mengira bahwa ternyata rumah itu menarik perhatian saya, tepat pada suatu malam. Malam itu sudah tengah malam, sekitar pukul dua dini hari. Saya sedang berbaring di kamar, malam itu saya pulang pukul setengah satu dini hari. Mata saya sudah hampir terpejam, hingga kemudian saya mendengar seorang wanita bersenandung. Lebih tepatnya saya mendengar suara wanita bernyanyi, tapi lagu yang dinyanyikan sangat asing sekali. Seketika saya jadi segar lagi dan rasa penasaran mulai ada.

Saya coba keluar kamar untuk memeriksa asal suara, pelan-pelan saya buka pintu. Ternyata suara itu berasal dari lorong dapur, awalnya saya agak ragu tapi kemudian saya beranikan diri melihat ke luar kamar. Ketika saya pelan-pelan mengintip dari balik kusen kamar saya, saya seperti melihat kelebatan seorang wanita melewati lorong. Seketika nyanyian pun berhenti, lorong sepi. Tapi aehnya kamar dekat dapur terbuka, seingat saya kamar itu terkunci. Lalu kenapa terbuka? Perasaan saya tidak enak, ditambah lagi udara di ruang tamu sangat dingin. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk penasaran, saya masuk lagi ke dalam kamar dan memutuskan untuk tidur.

Keesokan harinya ketika saya melewati lorong menuju dapur untuk sarapan, saya lihat kamar itu tertutup. Ketika saya coba buka pun memang terkunci, semenjak saat itu saya merasa saya tidak sendirian di rumah itu. Tapi saya coba untuk tetap tenang, karena panik juga bukan jalan keluarnya.

Karena saya akan tinggal di rumah ini dalam waktu yang cukup lama.

Semenjak saat itu, hampir setiap malam saya sering mendengar suara yang sama, itu cukup membuat bulu kuduk saya berdiri. Kadang saya sengaja memutar lagu agak kencang agar suara itu tertutupi, tetapi tiba-tiba alat pemutar musik saya mati. Saya pun segera tidur. Saya masih mencoba untuk tenang, saya yakin jika saya tenang maka apapun itu yang tinggal bersama saya di rumah ini tidak akan mengganggu.

Lihat selengkapnya