Milik Mutlak Sang Satria Gelap

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Dijual, Dibawa, dan Bertemu Sang Penguasa

"Mau uang dan barang-barang itu? Cih, rakus sekali kau!"

Pria tampan berrahang tegas dan beralis lebat itu menghisap rokoknya dalam-dalam, mengepulkan asap ke udara sambil menatap meremehkan sosok yang bersimpuh di hadapannya.

"Apa yang sanggup kau serahkan sebagai gantinya?"

Duduk bersandar di sofa tunggal yang megah, diapit dua penjaga bertubuh kekar di sisi kanan dan kiri, ia menyilangkan kaki dengan wajah penuh keangkuhan.

"Saya memiliki sesuatu yang sangat menarik, Tuan. Saya yakin Anda tak akan menyesal menerimanya." Pria paruh baya itu menunduk dalam, sepenuhnya sadar betapa ditakutinya pemuda di hadapannya itu.

Pemuda itu menyeringai sinis, menatapnya dengan pandangan merendahkan.

"Memangnya apa yang kau punya selain nyawamu yang tak berharga itu?"

Ucapannya tajam dan sarkas. Ia tak peduli apakah orang yang ia hinakan itu terluka atau tidak—begitulah cara ia berbicara, tanpa belas kasih.

Sementara pria tua itu tak berdaya menerima setiap hinaan. Baginya, pemuda ini bukan sekadar sumber kekayaan, melainkan sosok yang disegani bahkan ditakuti oleh kalangan penjahat kelas kakap.

"Saya punya seorang putri yang bisa saya serahkan pada Tuan. Ia cantik, dan saya jamin ia masih suci. Saya yakin Tuan pasti akan menyukainya."

Pemuda itu tampak tak tertarik sedikit pun. Ia memadamkan puntung rokoknya tanpa sepatah kata pun, seolah tawaran itu tak lebih berharga dari debu.

"Bukankah kau sudah tahu saya tak tertarik pada wanita? Lalu apa gunanya saya menerima putrimu?" tanyanya datar, tanpa menoleh sedikit pun.

"M-maaf, Tuan... tapi kali ini saya jamin Anda akan berubah pikiran. Tuan boleh melihatnya sendiri jika berkenan?" tawar pria tua itu dengan suara gemetar.

"Berapa yang kau minta? Setelah saya transfer uangnya, wanita itu harus sudah ada di hadapan saya!"


* *


"Ayah, Rindu nggak mau ikut, Yah!"

"Kamu harus ikut! Ayah sudah dibayar mahal untuk kamu. Mulai sekarang, kamu bukan lagi putri Ayah!"

Gadis berhijab berusia dua puluh tahun itu ditarik paksa, diseret menuju mobil mewah yang sudah terparkir menunggu di depan rumah sederhana mereka.

Ia adalah Rindu Sekar Wangi. Gadis yang hidup sederhana bersama dua adik angkatnya—Lia yang masih duduk di bangku kelas sebelas, dan Faiz yang baru menginjak usia empat belas tahun—serta ayah angkatnya, Edi.

Sejak ibu angkatnya tiada, Rindu lah yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja keras siang dan malam demi menghidupi serta membiayai sekolah kedua adiknya. Sementara Edi, sang ayah, hanyalah seorang pengangguran yang menghabiskan waktunya hanya untuk mabuk-mabukan dan berjudi. Ia tak pernah peduli betapa susahnya ketiga anaknya bertahan hidup karena ulahnya.

Lihat selengkapnya