Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #1

Puluhan Langkah Menuju Rumah Itu

Langkah Alea terasa berat saat menapaki jalan setapak menuju rumah besar di ujung bukit itu. Lima tahun tak pernah kembali, dan kini ia berdiri lagi di depan bangunan yang membesarkannya seperti mimpi buruk yang tak pernah benar-benar mati. Rumah itu masih sama-megah, dingin, dan terlalu hening. Seolah waktu tak pernah benar-benar bergerak di dalamnya.

Angin sore menyeret helaian rambut panjangnya, membelai pipinya yang pucat karena lelah selama perjalanan. Sepatu sneakers putihnya menginjak kerikil kecil dengan suara gemeretak pelan. Koper beroda yang ia tarik di belakang juga mengeluarkan suara berisik yang mengganggu, kontras dengan keheningan yang menyelimuti rumah itu.

Jantungnya berdetak tak menentu, bukan karena lelah. Tapi karena satu nama.

Aslan.

Pria yang selama lima tahun ini hanya jadi bayangan. Pria yang membiayai sekolahnya di luar negeri, mengatur semua jadwal hidupnya, menghilang dari pandangan tapi tak pernah hilang dari kendali. Dan kini... ia akan tinggal serumah dengannya lagi. Di rumah yang sama. Di bawah langit-langit yang sama.

Pintu depan terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pria tinggi bersetelan gelap berdiri di ambang pintu. Wajahnya tetap dingin seperti dulu. Mata kelamnya menusuk seperti dua pisau yang menyelidik tanpa belas kasih. Tak ada senyum, tak ada sapaan hangat. Hanya tatapan tajam yang tak berubah sedikit pun sejak terakhir Alea melihatnya.

"Om..." Alea berbisik, hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.

Pria itu tak bergerak. Hanya berdiri memandangi gadis itu dari ujung kaki hingga kepala, seolah ingin memastikan tak ada yang berubah. Tapi ekspresi wajahnya tetap tak bisa ditebak. Beku. Diam. Penuh Kuasa.

"Kau terlambat dua hari dari jadwal," ujarnya dingin.

Suara itu. Baritonnya dalam, bergetar halus seperti gemuruh dari dasar bumi. Alea menarik napas, mencoba menahan gelombang emosi yang datang tiba-tiba. Rindu? Takut? Tegang? Ia sendiri tak tahu.

"Aku ingin melihat teman-temanku dulu, sebelum kembali ke sini," jawab Alea pelan, mengangkat dagu sedikit.

Ada jeda. Aslan masih diam. Lalu bahunya bergeser sedikit ke samping, memberikan jalan masuk. Tanpa kata sambutan.

Begitulah Aslan. Ia tidak pernah menyambut siapa pun.

Alea melangkah masuk. Aroma khas rumah itu langsung menghantam indra penciumannya. Wangi kayu tua, sedikit vanilla dari lilin aromaterapi yang biasa digunakan di ruangan tengah, dan... wangi yang hanya bisa ia asosiasikan dengan satu hal: Aslan.

Setiap sudut rumah ini masih sama. Tangga spiral kayu yang mengarah ke lantai dua. Dinding putih bersih yang memantulkan cahaya sore. Lukisan keluarga besar Virendra yang tergantung di lorong. Dan kursi kulit hitam besar di ruang kerja-tahta Aslan yang tak pernah disentuh siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Alea menggenggam pegangan koper lebih erat.

"Kamarku masih di lantai dua?"

Aslan menatapnya sesaat sebelum menjawab. "Tidak. Sekarang di lantai tiga."

Alea menoleh cepat. "Lantai tiga? Itu bagian yang tertutup..."

"Tidak lagi," potong Aslan dingin. "Kamar lamamu terlalu dekat dengan balkon belakang. Terlalu mudah untuk keluar malam."

Alea mengerutkan kening. Ia ingin protes, tapi bibirnya membeku. Ia tahu percuma.

Lihat selengkapnya