Pagi pertama Alea di rumah besar itu dimulai bukan dengan cahaya matahari, tapi suara ketukan halus di pintu kamarnya. Tiga kali. Rapi. Tegas. Seperti segala sesuatu di rumah ini—di bawah aturan Aslan Julian Virendra.
Alea membuka mata perlahan. Dunia terasa asing. Udara kamar ini lebih dingin dari yang ia ingat. Tidak ada suara burung, tidak ada aroma roti hangat seperti di asrama luar negerinya. Yang ada hanya aroma steril linen bersih dan suara langkah kaki yang menjauh.
Dia bangkit. Tak ada pesan, tak ada ucapan "selamat pagi". Hanya setelan pakaian di kursi dekat ranjang: blouse putih berkerah tinggi, rok panjang berwarna gelap, dan sepatu flat hitam.
Tanpa embel-embel. Tanpa pilihan lain.
Alea memandangi pakaian itu lama. Ada sesuatu yang mengusik. Bahwa seseorang telah masuk ke kamarnya saat ia tidur. Bahwa seseorang memutuskan apa yang harus ia kenakan. Bahwa itu bukan hanya pengawasan—tapi kekuasaan.
Dan dia tahu siapa yang melakukannya.
***
Tangga menuju lantai bawah berderit lembut saat Alea turun. Ruang makan sudah tertata sempurna. Aslan duduk di ujung meja, membolak-balik lembaran dokumen. Kemeja putih bersih, jam tangan logam di pergelangan tangan kirinya, rambutnya disisir rapi ke belakang.
Alea berdiri sejenak sebelum duduk. Ia ingin tahu apakah Aslan akan menyapanya dulu. Tapi pria itu tetap sibuk. Wajahnya dingin, fokus, tanpa cela.
Sampai akhirnya ia berkata tanpa menoleh. “Kau terlambat sepuluh menit dari jadwal sarapan.”
Alea menggertakkan gigi. Ia tidak tahu apakah itu gurauan atau ancaman.
“Aku tak menyangka ada jadwal yang harus kuikuti di rumah ini,” katanya pelan, mencicipi roti panggang di piring.
“Segalanya diatur di rumah ini. Termasuk waktumu,” jawab Aslan singkat, menutup dokumen dan akhirnya menatap ke arahnya.
Tatapan itu membuat Alea menggenggam pisau dan garpu lebih erat. Bukan karena takut. Tapi karena… ada sesuatu dalam cara Aslan menatapnya. Mata itu tak hanya mengawasi. Ia merasa seperti sedang ditelanjangi.
"Kuliahmu dimulai minggu depan. Aku sudah daftarkan dirimu di jurusan psikologi, sesuai minat yang kau sebutkan saat SMA,” ujar Aslan, menyeruput kopi hitamnya.
Alea tertegun. “Kau… mendaftarkanku tanpa bertanya?”
“Kalau aku bertanya, kau akan ragu. Sekarang tidak ada alasan untuk ragu.”
Alea meletakkan sendoknya pelan. “Dan kau juga sudah menentukan jurusannya?”
Aslan menatap langsung ke matanya. “Kau terlalu mudah dipengaruhi orang. Jurusan ini membuatmu lebih peka. Lebih memahami dirimu sendiri.”
Atau lebih mudah dipelajari? pikir Alea.
Ia tahu kalimat itu terdengar masuk akal. Bahkan logis. Tapi logika dalam rumah ini sering menyamar sebagai kendali. Kendali yang diam-diam tumbuh menjadi penjara.
***
Pukul sembilan, Alea diajak mengelilingi rumah oleh seorang pembantu rumah tangga baru bernama Dira—seorang wanita muda berwajah lembut dan kaku. Setiap ruang di rumah ini tampak steril. Tidak ada sudut yang benar-benar hidup.
"Ruangan mana saja yang tidak boleh dimasuki?" tanya Alea spontan saat melewati lorong timur.
Dira ragu. Lalu menunduk sedikit. "Ruang kerja Tuan Aslan. Juga ruang di ujung lorong bawah. Kunci selalu bersamanya."
Alea hanya mengangguk. Tapi ia mencatat semuanya dalam kepalanya.
***
Menjelang siang, Alea mencoba berjalan keluar menuju taman depan. Tapi seorang penjaga keamanan menghampirinya dengan sopan.
“Maaf, Nona Alea. Taman hanya bisa diakses setelah pukul lima sore. Ini perintah Tuan Aslan.”
Alea mematung.
“Jadi... aku tidak bisa keluar rumah?”
“Sesuai instruksi beliau, semua akses dikendalikan. Kecuali untuk jadwal kuliah dan keperluan penting, harus ada pendampingan.”
Pendampingan?
Alea menahan napas.