Pagi ketiga di rumah Virendra, dan langit Jakarta masih kelabu seperti malam sebelumnya. Udara lembap, awan menggantung rendah, dan suasana hati Alea pun sama—berat dan nyaris membeku.
Ia berdiri di depan cermin, mengenakan blouse putih yang dipilihkannya sendiri. Kali ini, cukup sopan untuk standar Aslan, tapi cukup pas badan untuk memprovokasi sedikit. Ia ingin tahu seberapa jauh pria itu bisa bertahan dengan "permainan kecil" ini.
Alea berjalan ke ruang makan. Aslan sudah ada di sana, seperti biasa, duduk dengan rapi, membaca tablet, secangkir kopi di sebelah kanan dan piring sarapan yang tak tersentuh di depan.
Saat ia masuk, mata pria itu langsung terangkat. Hanya beberapa detik. Tapi cukup lama untuk membuat jantung Alea berdebar tak wajar.
Tak ada komentar pagi ini. Hanya tatapan.
Dan justru itu yang membuat Alea makin gelisah.
“Om,” ucap Alea, duduk di kursinya, “kenapa semua pintu di rumah ini dikunci?”
Pria itu tak langsung menjawab. Ia menutup tablet, lalu menatap gadis itu seperti dokter mengamati pasiennya.
“Ada hal-hal yang tidak perlu kau lihat.”
“Termasuk masa laluku?”
Tatapan Aslan berubah. Sejenak. Tapi cepat sekali disembunyikan. Ia menegakkan bahu, memutar cangkir kopinya perlahan. “Masa lalu bisa membuatmu lemah, Alea.”
Alea menyipitkan mata. “Atau membuatku sadar bahwa aku tidak benar-benar punya hidupku sendiri?”
Aslan menyandarkan punggung di kursi. Senyum tipis muncul di wajahnya. Tapi bukan senyum damai. Itu senyum pemangsa yang baru saja mendengar suara mangsanya berani melawan.
“Kau tahu,” katanya tenang, “pemberontakan itu hanya menarik kalau kau tahu konsekuensinya.”
Alea diam. Tapi tak mundur. Ia menatap pria itu balik, mencoba membaca pikirannya—sesuatu yang sejak dulu nyaris mustahil dilakukannya.
“Om... sejak aku kembali, aku tidak pernah keluar rumah sendirian. Aku tidak punya teman bicara. Dan bahkan... aku tidak tahu apakah aku bebas tertawa tanpa diatur.”
“Apa kau merasa dikurung?” tanya Aslan perlahan.
“Aku merasa... diawasi. Bahkan saat aku tidur.”
Ada jeda. Ketegangan menggantung di udara.
Aslan menatapnya lama. Sangat lama. Lalu ia berdiri, berjalan memutar meja, dan berhenti di belakang kursi Alea. Tangannya menyentuh bahu gadis itu. Lembut, tapi dingin. Menegangkan.
“Karena aku tahu dunia luar lebih kejam dariku, Alea.”
Ia membungkuk, berbisik di dekat telinganya. “Dan karena aku tahu... betapa mudahnya kau jatuh.”
Alea menahan napas. Helaan napas Aslan terasa di lehernya. Suhu tubuh pria itu hangat, tapi entah kenapa justru membuat darah Alea membeku.
Dalam sepersekian detik, ia tahu: pria ini menyimpan lebih banyak dari yang ia tunjukkan.
Dan mungkin, cintanya lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
***
Hari itu, Alea memutuskan membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Udara segar masuk, bersama suara burung dan hiruk-pikuk samar dari jalanan jauh di bawah. Ia duduk di ambang jendela, menatap ke luar, membayangkan kehidupan normal di luar sana—universitas, perpustakaan, kafe kecil, obrolan dengan teman sebaya.
Tapi yang ia punya adalah rumah sunyi bertembok tebal, seorang om yang terlalu tampan, terlalu mapan, dan terlalu mengendalikan.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu mengusik lamunannya. Dira masuk, membawa sepucuk surat.
“Dari siapa?” tanya Alea, bingung.
“Kurir pribadi mengantarkan. Tertulis dari—” Dira terdiam sebentar, lalu melanjutkan, “—dari seseorang bernama Fadhlan.”
Alea membeku.
Fadhlan.