Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #4

Lelaki Pertama yang Menyentuhku

Tubuh Alea menggigil saat hujan pertama bulan itu menghantam kaca jendela kamarnya. Suhu ruangan turun beberapa derajat, dan meski selimut sudah membalut tubuhnya, dingin itu menembus tulang.

Ia memeluk lutut di balik selimut, tubuhnya berkeringat dingin dan kepalanya berdenyut hebat. Sudah sejak sore tadi perutnya mual, dan dunia mulai berputar setiap kali ia mencoba berdiri.

Ia sakit.

Dan anehnya, tidak ada yang menyadarinya—tidak Dira, tidak sopir, bahkan dirinya sendiri tidak menyadarinya sampai tubuhnya benar-benar tumbang. Ia pikir hanya lelah biasa. Tapi malam ini, demam mulai merayap naik.

Suara hujan di luar seolah ikut memperparah sesak di dadanya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Napasnya berat.

Lalu, suara itu datang.

Tok tok tok

Pintu kamarnya diketuk. Lalu terbuka perlahan. Tanpa menunggu izin.

Alea hanya sempat menoleh sekilas—dan mengenali sosok tinggi di balik cahaya remang lorong.

Aslan.

Pria itu berjalan masuk tanpa suara. Langkahnya ringan tapi tegas, mata hitamnya langsung mengunci arah ke tempat Alea terbaring. Sorotnya berubah. Tidak sekaku biasa.

"Apa yang kau lakukan di tempat tidur sejak sore?" tanyanya tanpa emosi.

Alea membuka bibir, tapi suaranya tak keluar. Tenggorokannya perih. Napasnya terlalu berat untuk menjawab.

Aslan langsung mendekat.

Ia menurunkan selimut perlahan dari wajah Alea, menyentuh dahinya dengan punggung tangan.

"Alea... kau demam tinggi."

Suara Aslan terdengar tegas, tapi ada nada tegang di sana. Nada yang biasanya tersembunyi di balik ketenangan sempurna pria itu.

Alea hanya bisa mengerang pelan. Matanya berair. Napasnya sesak.

Tanpa banyak bicara, Aslan langsung berbalik dan keluar kamar. Tak lama, ia kembali dengan mangkuk air dingin dan handuk kecil di tangannya.

Alea menatapnya dari balik kabut demam.

Dan saat ia mendekat, duduk di tepi ranjang, dan mulai mengusap dahi serta lehernya dengan handuk basah… dunia seolah melambat.

Sentuhan itu…

Tidak seperti milik seorang paman.

Sentuhan itu… terlalu halus.

Terlalu sadar.

Terlalu lama berhenti di lekuk-lekuk kulitnya yang demam.

"Om..." bisiknya lemah.

Aslan tak menjawab. Ia hanya menyeka keringat dari leher Alea, lalu merapikan rambut panjang gadis itu yang basah oleh keringat dingin.

“Aku akan menurunkan demammu malam ini. Kalau kau tak membaik sampai pagi, kita ke rumah sakit,” ujarnya sambil menuangkan air baru ke mangkuk.

Alea menatap wajah itu dari dekat. Pria yang selama ini hanya berdiri di atas—memandangnya dari jauh, mengatur semuanya tanpa menyentuh. Kini duduk di sisinya, menyentuhnya... seperti lelaki. Bukan wali.

“Om…”

“Apa?”

“Kenapa kau sendiri yang merawatku?”

Ia menatap gadis itu tajam. “Karena aku tak akan mempercayakan tubuhmu pada siapa pun.”

Alea menelan ludah. “Aku bukan milikmu.”

Kata itu lirih, tapi kuat. Tapi bukannya mundur… Aslan justru menatapnya lebih dalam.

Lihat selengkapnya