Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #5

Tidak Ada yang Boleh Mendekatimu

“Om, aku cuma ke toko buku,” kata Alea dengan nada hati-hati. “Dekat, kok. Aku bawa supir.”

Tapi Aslan hanya menatapnya dengan dingin dari balik meja kerjanya yang besar. Ruangan itu—dinding kayu gelap, pencahayaan hangat, dan lemari-lemari penuh buku hukum serta dokumen penting—mendadak terasa seperti ruang interogasi.

“Dengan siapa?” tanya Aslan tenang. Tapi Alea tahu, nada suaranya tak pernah benar-benar tenang.

“Sendiri,” jawab Alea. “Aku butuh buku kuliah.”

“Aku bisa menyuruh staf membelikan.”

Alea mendesah pelan. “Aku butuh lihat langsung. Aku tidak belanja tas atau baju, Om. Ini buku.”

Aslan berdiri. Dengan langkah perlahan ia mendekati Alea, tinggi tubuhnya menjulang, aura kekuasaan memancar dari setiap gerakannya.

“Kau tahu siapa aku di kota ini, Alea?”

Alea menatap mata hitam itu. Dalam. Dingin. Tajam.

“Semua orang tahu aku adalah orang terakhir yang ingin mereka ganggu,” lanjutnya. “Jadi ketika mereka melihatmu di luar, mereka tahu kau milikku.”

Alea menegang.

“Om…” bisiknya.

Aslan berdiri sangat dekat sekarang. Terlalu dekat. Tubuh mereka nyaris bersentuhan.

“Aku tidak suka jika orang lain menatapmu.”

“Itu hanya toko buku, bukan klub malam.”

“Aku tidak suka jika pria lain ada di ruangan yang sama denganmu,” jawabnya tegas.

Alea mundur setengah langkah, tubuhnya membentur rak buku di belakangnya. Ia merasa napasnya pendek, bukan hanya karena ucapan Aslan, tapi karena jantungnya berdetak terlalu kencang.

“Ini tidak normal,” gumamnya.

“Aku tidak pernah peduli soal normal,” jawab Aslan pelan, tapi pasti. “Yang penting, kau aman. Dan untuk itu, aku harus mengendalikan semuanya.”

***

Satu jam kemudian, semua akun media sosial Alea—Instagram, Twitter, bahkan akun e-learning kampus—tak lagi bisa diaksesnya.

“Akunmu kami nonaktifkan sementara,” kata Dira saat membawakan teh ke kamar Alea. “Om Aslan yang minta. Katanya, fokus saja ke kuliah dulu.”

Alea terdiam. Tangannya menggenggam cangkir teh, tapi otaknya kosong.

Dalam tiga hari terakhir, ia kehilangan kebebasan kecil yang dulu ia anggap remeh: keluar rumah sendirian, memutuskan akan makan apa, bahkan sekadar memeriksa pesan dari teman.

Aslan menyita semuanya.

Dan anehnya, tak ada yang menganggap itu masalah.

Karena ia Aslan Julian Virendra.

Karena semua orang patuh padanya.

***

Di kampus, Alea mulai merasa seperti bayangan. Ia datang dan pulang diantar supir. Tidak boleh makan di luar. Tidak boleh terlibat dalam kegiatan organisasi.

Dan setiap kali ada pria mendekat…

Aslan selalu tahu.

***

Lihat selengkapnya