Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #6

Tatapan yang Membakar

Suasana rumah besar Virendra menjelang malam hari selalu sunyi. Terlalu sunyi.

Seperti tidak ada kehidupan selain Alea dan Aslan. Kadang terdengar langkah kaki pelayan, kadang suara jam antik berdentang, tapi selain itu... semuanya diam. Seperti waktu berhenti berputar di tempat ini.

Dan dalam keheningan itu, Alea jadi terlalu sadar. Terlalu sadar pada detail kecil—seperti langkah Aslan di lorong, suara pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat, atau bagaimana udara di kamar mendadak terasa lebih berat saat ia tahu pria itu sedang berada satu lantai dengannya.

Malam ini, ia duduk di ruang baca keluarga. Buku terbuka di pangkuannya, tapi mata Alea tak membaca. Ia hanya menatap halaman kosong, pikirannya jauh entah ke mana.

Sampai suara langkah kaki berat terdengar mendekat.

Alea tak perlu menoleh. Ia tahu siapa yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.

Aslan.

Ia tahu caranya berjalan—tegak, mantap, seperti seseorang yang selalu tahu ke mana akan melangkah. Bahkan napasnya pun tenang, seolah tak ada hal di dunia ini yang bisa membuatnya gentar.

“Sudah makan malam?” tanya Aslan sambil berdiri di ambang pintu.

Alea tak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil.

Aslan masuk, duduk di kursi seberang. Mata mereka bertemu.

Dan di itulah semuanya mulai terasa berbeda.

Mata hitam itu menatapnya—tajam, tapi juga dalam. Bukan seperti pria yang melihat keponakannya. Bukan seperti keluarga.

Tatapan itu... menyapu tubuhnya pelan. Seperti sedang membaca, menilai, dan memilikinya dalam diam.

Alea merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

“Om…” bisiknya.

“Hm?” suaranya dalam. Tenang.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Aslan tidak segera menjawab. Ia bersandar ke kursi, kaki disilangkan. Lalu, perlahan, tersenyum tipis. Senyum yang bukan untuk ditampilkan. Senyum yang muncul dari niat yang tak terucapkan.

“Kau tahu, Alea,” katanya, “sulit untuk menjauhkan mataku darimu… saat kau duduk seperti itu.”

Alea menunduk cepat.

Baru saat itu ia sadar—kemeja rumahnya agak terbuka di bagian dada. Roknya sedikit tersingkap, menampakkan lutut. Ia menutupinya spontan.

“Kenapa?” tanya Aslan, lembut tapi menusuk. “Malu?”

“Kau pamanku.”

“Aku tahu.”

“Tapi kau… menatapku seperti—”

“Seperti apa?”

Alea diam. Bibirnya kering.

Seperti seorang pria melihat wanita. Bukan keponakan. Bukan anak kecil.

Aslan berdiri. Langkahnya pelan, tapi mendekat tanpa bisa dihentikan. Ia berdiri tepat di depan Alea. Menunduk. Menatap wajah gadis itu.

“Tatapan itu,” gumam Alea, “selalu seperti itu. Sejak aku pulang.”

“Kau menyadarinya?”

Alea mengangguk pelan.

Lalu, seolah tak sadar apa yang ia lakukan, Aslan mengangkat tangannya—jari-jari panjangnya menyentuh pipi Alea. Lembut. Tapi mengguncang.

“Kenapa kau tak menjauh?” bisik Aslan.

Lihat selengkapnya