Malam itu dingin, dan hujan turun nyaris tanpa henti sejak sore.
Alea menatap jendela kamarnya yang dipenuhi titik-titik air. Petir kadang menyambar di kejauhan, menerangi langit yang gelap seperti kelam pikirannya. Rumah besar Virendra terasa seperti ruang gema. Segala suara, bahkan detak jantungnya sendiri, seakan terdengar lebih nyaring.
Ia mengenakan piyama tipis lengan panjang berwarna pucat. Rambutnya digerai. Ia duduk di ujung ranjang dengan tangan meremas jemari sendiri.
Ia tidak bisa tidur.
Bukan karena petir, bukan karena hujan—melainkan bayangan itu. Bayangan pria yang tinggal beberapa kamar darinya. Tatapannya, sentuhannya di pipi, bisikannya malam kemarin.
"Asal bukan benci... aku akan menerima apapun."
Alea menutup matanya.
Bagaimana bisa ia menjauh saat dirinya sendiri tak yakin apakah ingin menjauh?
Ketukan pelan terdengar.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Alea menoleh ke arah pintu. Ia tahu ritme itu. Itu bukan pelayan. Bukan pengurus rumah.
Itu dia.
“Om Aslan?” gumamnya, pelan.
Ia berdiri, kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Langkahnya pelan menuju pintu. Jantungnya berdegup semakin cepat.
Ia membuka pintu itu.
Dan Aslan berdiri di sana. Tanpa jaket, hanya mengenakan kaus tipis dan celana panjang. Rambutnya sedikit basah, entah karena hujan atau karena mandi. Sorot matanya seperti biasa—tenang, namun menenggelamkan.
“Hujan deras,” katanya. “Petir… mungkin mengganggumu.”
Alea hanya mengangguk.
“Aku tidak bisa tidur juga,” lanjut Aslan. “Aku… hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”
Alea menelan ludah. “Aku baik-baik saja.”
Tapi Aslan tidak beranjak.
Sebaliknya, ia menatap lurus ke mata gadis itu. Dalam diam, dalam jeda yang seharusnya dihentikan oleh logika—tapi tidak oleh mereka.
“Boleh aku masuk sebentar?”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi tidak ada yang sederhana malam itu.
Alea tak tahu apa yang mendorongnya. Tapi ia mundur sedikit, membiarkan Aslan masuk ke dalam kamar yang remang dan sunyi.
Aslan menutup pintu di belakangnya. Mereka berdiri beberapa langkah berjauhan, saling memandangi dalam diam. Hujan menjadi latar yang sunyi dan menghantui.
“Aku merasa seperti pria gila,” katanya pelan. “Tiap malam memikirkanmu. Mencoba menahan diri. Berpura-pura jadi pelindungmu… padahal aku ingin memilikimu.”
Alea bergidik.
“Om…”
“Kalau kau takut, aku akan pergi,” katanya cepat. “Kalau kau ingin aku menjauh… katakan saja.”
Tapi Alea tidak menjawab.
Karena ia tidak tahu jawabannya.