Pagi itu, langit lebih terang dari biasanya. Tapi hati Alea justru terasa lebih berat dari malam sebelumnya. Ia duduk sendiri di meja sarapan, memutar-mutar sendok dalam cangkir teh yang sudah dingin. Sejak bangun dan meninggalkan kamar, ia belum melihat Aslan lagi.
Malam itu terlalu nyata. Terlalu jujur.
Dan kini pagi datang membawa realitas yang tak bisa disangkal.
Ia tidur dalam pelukannya.
Ia menyerahkan dirinya—bukan tubuh, tapi hatinya—pada lelaki yang seharusnya hanya jadi paman.
Dan yang membuatnya paling takut: ia tidak menyesal.
Ketukan pelan di lantai marmer terdengar. Langkah sepatu kulit maskulin. Aroma khas parfum Aslan menyusup lebih dulu sebelum tubuh tinggi itu muncul di ambang pintu ruang makan.
Ia datang seperti biasa—dalam jas rapi, rambut tersisir ke belakang, mata tajam penuh kuasa.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya saat melihat Alea pagi itu.
Seolah malam tadi telah meruntuhkan dinding terakhir antara mereka.
“Om…” Alea berdiri refleks.
Pria itu tak menjawab. Ia hanya berjalan pelan, mendekat. Langkahnya mantap, tapi matanya tak lepas dari wajah gadis itu.
Sesampainya di hadapan Alea, ia menghentikan langkah.
Mereka hanya berdiri satu meter jauhnya.
“Kenapa kau bangun lebih dulu?” tanya Aslan, suaranya dalam dan tenang, tapi ada sesuatu di balik itu. Seperti... kepemilikan.
“Aku… hanya tidak ingin membuatmu tidak nyaman,” jawab Alea pelan. “Kupikir kau mungkin menyesal.”
Aslan menyipitkan mata. “Menyesal?”
Alea menunduk. “Ya. Karena kita… tidur di ranjang yang sama.”
Hening. Lalu Aslan tertawa pelan. Bukan tawa hangat. Tapi tawa getir, seperti menertawakan betapa naifnya Alea.
Ia mendekat. Hanya beberapa inci dari wajah Alea. Tangannya mengangkat dagu gadis itu, memaksanya menatap.
“Alea,” gumamnya. “Aku tidak akan pernah menyesal tidur denganmu. Justru aku menyesal karena menahannya terlalu lama.”
Alea terdiam. Matanya membelalak. Dadanya berdegup.
“Aku bukan pria baik, Alea,” lanjut Aslan. “Kau harus tahu itu sejak awal. Aku bukan paman yang akan menjaga jarak. Bukan keluarga yang tahu diri. Aku…”
Ia menggenggam bahu Alea.
“...pria yang jatuh cinta padamu sejak kau berumur lima belas tahun. Dan sekarang kau di sini. Di rumah ini. Di ranjangku.”
“Om, jangan—”
“Dengarkan aku dulu.”
Suaranya tajam. Tapi tangannya tetap lembut.
“Aku tahu apa kata orang di luar sana. Aku tahu dunia akan mengutuk kita. Tapi aku tidak peduli.”
Ia menarik napas.
“Kau milikku, Alea. Bahkan sebelum kau sadar. Bahkan sebelum kau kembali ke rumah ini. Kau… selalu milikku.”
Alea memundurkan tubuhnya sedikit. Bingung. Takut. Tapi juga tergetar.
“Tidak bisa begitu saja… kau tidak bisa menyatakan itu semudah itu,” katanya. “Kita masih keluarga.”
“Aku tak pernah melihatmu sebagai keluarga.”