Hari itu, Alea akhirnya keluar rumah setelah tiga hari dikurung. Ia memaksa Aslan untuk membiarkannya hadir di pertemuan kelompok kampus. Dengan syarat: ia harus dijemput dan diantar oleh sopir pribadi Aslan, dan tidak boleh melepas ponsel pengawas yang baru diberikan pria itu.
Alea tidak peduli.
Ia butuh napas. Butuh wajah-wajah baru selain dinding rumah megah yang mulai menelannya bulat-bulat.
Pertemuan itu berlangsung di sebuah kafe dekat kampus. Tempat itu sederhana tapi hangat. Dan lebih dari segalanya—bebas. Tak ada mata Aslan di setiap sudut. Tak ada kamera tersembunyi. Tak ada aroma aftershave yang menghantui.
Setidaknya… begitu pikir Alea.
"Alea! Duduk sini!" seru Reyan, teman kelompoknya.
Reyan adalah mahasiswa arsitektur semester enam. Usianya hanya dua tahun lebih tua dari Alea. Sopan, cerdas, dan cukup lucu untuk membuat Alea bisa tertawa tanpa rasa takut.
Hari ini, hanya ada lima orang di pertemuan kelompok. Tapi entah kenapa, Reyan terus duduk terlalu dekat.
"Ini kertas print-nya, aku bantu fotokopi barusan," katanya sambil menyodorkan lembaran.
Alea tersenyum. "Makasih, Rey."
"Eh," Reyan tertawa. "Akhirnya kau panggil aku Rey juga."
"Apa bedanya?"
"Lebih akrab. Dan… lebih manis," jawab Reyan sambil mengedip.
Alea tertawa kecil. Tapi belum sempat menjawab, ia melihat sesuatu dari sudut matanya.
Seseorang berdiri di depan pintu kaca kafe.
Seperti bayangan.
Tegap. Hitam. Tatapannya menusuk langsung ke dalam tubuh Alea.
Aslan.
Alea membeku.
Dunia seperti berhenti. Musik latar kafe, obrolan teman-teman, bahkan senyum Reyan—semuanya hilang. Yang tersisa hanya tatapan dingin Aslan dari luar kaca.
Tatapan yang bukan sekadar mengawasi.
Tapi mengancam.
"Maaf, aku harus ke kamar mandi sebentar," gumam Alea buru-buru.
Ia beranjak, berlari ke arah pintu belakang, lalu memutar ke luar kafe. Saat ia tiba di samping gedung, Aslan sudah menunggu di sana.
Seperti hantu yang tak bisa diusir.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alea, suaranya gemetar.
Aslan tidak menjawab. Ia hanya mendekat pelan. Tangannya masuk ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus, tajam, penuh badai yang ditahan.
"Aku sudah bilang," katanya pelan, tapi penuh tekanan, "jangan biarkan lelaki lain menyebut namamu dengan cara seperti itu."
"Apa maksudmu?"
"'Rey'," ejeknya. "Akrab sekali kalian. Sampai aku yang menontonnya merasa ingin—"
"Om!" Alea menatapnya tajam. "Kau mengikutiku? Lagi?!"
"Aku menjagamu."
"Bukan begitu caranya!"
"Kalau kau milikku," ucap Aslan lebih dingin, "aku berhak memastikan tidak ada yang mencoba menyentuh yang menjadi milikku."
Alea memutar bola mata, frustrasi. "Kau tidak bisa mengklaim aku seenaknya. Aku bukan benda!"
"Aku tidak menganggapmu benda." Aslan mendekat. Wajahnya hanya sejengkal dari Alea. "Aku menganggapmu… satu-satunya yang membuatku tetap waras. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kewarasanku."
"Aku juga butuh hidup, Om Aslan. Teman. Kebebasan. Dunia luar!"