Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #10

Rahasia di Ruang Kerjanya

Hari Minggu datang dengan langit mendung dan udara yang menggantung lembap. Rumah keluarga Virendra seperti biasa—hening, rapi, dan terlalu besar untuk seseorang seperti Alea yang masih merasa asing dengan semua dinding mewah ini.

Aslan pergi pagi-pagi, katanya ada rapat mendadak di kantor pusat maskapai. Tidak ada pelukan, tidak ada cium tangan seperti biasanya. Hanya tatapan singkat dan kalimat berat:

“Jangan ke mana-mana. Jangan buka pintu untuk siapa pun. Jangan cari masalah.”

Alea hanya mengangguk, meski dadanya mulai terasa sesak.

Dia ingin bebas.

Tapi lebih dari itu, dia ingin tahu: Siapa sebenarnya Aslan Julian Virendra? Bukan yang selama ini tampil dingin, dominan, dan menyakitkan… tapi sosok di balik semua sikap itu. Karena jauh di dalam dirinya, Alea merasa… ada sesuatu yang jauh lebih kelam daripada sekadar cinta posesif.

Dan jawabannya mungkin ada di ruang kerja Aslan.

Selama ini, ruangan itu selalu terkunci. Letaknya di sayap timur lantai dua, dan hanya Aslan yang punya akses.

Tapi hari ini, entah karena terburu-buru atau merasa terlalu percaya, Aslan meninggalkan rumah tanpa mengunci ruang itu.

Alea berdiri di depan pintunya hampir sepuluh menit. Tangan gemetar memegang gagang pintu. Jantungnya berpacu.

Dan akhirnya, dengan satu dorongan…

Pintu terbuka.

Ruangan itu gelap. Tidak ada cahaya masuk karena tirai ditutup rapat. Tapi Alea menemukan saklar di samping pintu. Saat lampu menyala, napasnya tercekat.

Dinding-dindingnya dipenuhi rak buku, lemari dokumen, dan berbagai tumpukan file yang rapi. Ada meja kerja besar di tengah ruangan, lengkap dengan dua layar monitor dan ratusan catatan tertempel.

Semuanya tampak biasa.

Sampai Alea melihat satu rak kaca tertutup di sudut ruangan. Rak itu dikunci, tapi kuncinya tergantung di bawah meja.

Dengan tangan gemetar, Alea membukanya. Dan di situlah ia menemukan mimpi buruknya.

Puluhan… bahkan ratusan foto. Semuanya… foto dirinya.

Alea.

Ada foto dirinya saat umur 15 tahun, saat berlibur ke pegunungan bersama keluarganya. Ada foto saat ia ulang tahun ke-17 di Paris. Foto saat ia tertidur di pesawat. Bahkan foto candid dirinya saat berada di taman, mengenakan rok putih dan membaca buku.

Semua tersimpan dalam bingkai dan plastik pelindung, seolah-olah itu adalah benda koleksi berharga.

Alea bergidik. Napasnya menyesak. Matanya mulai berair.

Ini bukan sekadar obsesi.

Ini pengawasan. Ini penguntitan. Ini... sesuatu yang melampaui batas.

Tangannya menyentuh salah satu map kecil. Ia membukanya, dan mendapati salinan paspornya sendiri, rapor, surat dokter, dan… laporan psikologis dari masa kecil.

"Apa… ini?"

Tangannya mulai gemetar hebat saat membuka satu dokumen bertuliskan:

"Rekomendasi psikologis terhadap kecenderungan afeksi terhadap figur dewasa. Alea Nadeera Virendra, usia 16 tahun."

Alea membaca ulang. Berulang kali.

Aslan… menyimpan ini semua?

Sejak kapan dia mulai mengawasi?

Lihat selengkapnya