Hari Senin datang tanpa ampun, membawa Alea kembali ke rutinitas kuliah yang terasa semakin menyesakkan. Tapi setelah kejadian kemarin—setelah ia memasuki ruang kerja Aslan dan menemukan semua foto serta catatan itu—dunia yang dulu tampak luas, kini berubah menjadi ruang sempit tanpa jendela.
Alea berjalan pelan ke kelas. Di tangannya, buku catatan yang seharusnya penuh tugas, kini kosong. Di kepalanya, suara Aslan masih bergema. “Aku mencintaimu... bahkan sebelum kau tahu bagaimana rasanya dicintai.”
Langkah Alea berhenti saat seseorang memanggil namanya.
"Alea!"
Ia menoleh. Reyan.
Laki-laki itu datang tergesa, membawa sebotol minuman isotonik dan selembar kertas.
“Aku nitipin ini ke Meja Sekretariat, tapi katanya kamu belum sempat ambil.” Ia menyerahkan lembar tugas yang seharusnya mereka kerjakan berdua.
Alea mengangguk kaku. “Makasih.”
Reyan menatapnya sejenak. “Kamu… baik-baik aja? Mukamu kelihatan pucat.”
Alea menggigit bibir. Dia ingin menjawab iya, tapi kebohongan terasa makin sulit hari ini. “Cuma... kurang tidur.”
Reyan tersenyum, lembut. “Kalau butuh teman cerita, aku selalu ada, ya.”
Sederhana. Hangat. Tidak menekan. Tidak menuntut. Dan justru karena itu, air mata Alea hampir jatuh. Karena ini kontras sekali dengan Aslan. Terlalu kontras.
Mereka berjalan bersama menuju kantin kampus. Hanya beberapa langkah.
Dan dari kejauhan...
Aslan melihatnya.
Aslan duduk di dalam mobil hitam, jendela sedikit terbuka. Supirnya menunggu di depan, sementara Aslan memandangi keponakannya yang tersenyum kepada lelaki lain.
Rahangnya mengeras.
Tangannya mencengkeram lengan kursi.
Dia tersenyum. Padanya.
Alea tidak pernah tersenyum seperti itu padanya.
Laki-laki itu—Reyan, si mahasiswa sok akrab—berjalan terlalu dekat. Cara dia menatap Alea terlalu lembut. Dan Aslan tahu… pria itu menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.
Sesuatu yang hanya milik Aslan.
***
Malamnya, saat Alea baru pulang, suasana rumah terasa… ganjil.
Lampu ruang tengah menyala, dan sepatu Aslan ada di rak. Alea mengganti sepatunya dengan pelan, mencoba tak menimbulkan suara.
Tapi suara berat Aslan langsung memanggil dari ruang duduk.
“Alea. Ke sini sebentar.”
Langkah Alea berat. Tapi ia tahu, melawan malam ini hanya akan memperburuk segalanya.
Aslan duduk di sofa, satu tangan memegang gelas berisi whiskey, yang lain bermain dengan korek api kecil. Di depannya, layar tablet menyala dengan rekaman CCTV kampus.
Alea menahan napas.
Ia tahu.
"Apa kau bersenang-senang hari ini?" tanya Aslan pelan, seolah sedang membahas cuaca.