Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #12

Kurungan Tak Terlihat

Pagi di rumah keluarga Virendra datang seperti biasa. Matahari menyusup lembut melalui tirai putih yang tipis, aroma kopi menguar dari dapur, dan suara langkah kaki para pelayan menggema pelan di lantai marmer.

Tapi tidak ada yang biasa bagi Alea hari ini.

Ia duduk di pinggir ranjang, memeluk lututnya sambil menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Sudah tiga hari sejak ia terakhir melihat Reyan. Sudah tiga hari juga sejak Aslan menyerahkan kotak kecil berisi cincin itu.

Dan sejak malam itu… ponselnya dikunci.

Ia tak bisa menelepon siapa pun.

Bahkan aplikasi sosial media yang biasa digunakannya kini menghilang dari layar. Laptopnya disita. Televisi di kamarnya dicabut.

Semua akses ke dunia luar dicabut secara sistematis.

Dan tidak ada yang melarangnya secara langsung.

Tidak ada rantai.

Tidak ada kata-kata kasar.

Tapi justru itulah yang membuatnya merasa seperti ditelan oleh dinding rumah ini.

Rumah ini telah berubah menjadi kurungan tak terlihat.

***

Alea akhirnya keluar kamar saat pelayan bernama Ibu Retno mengetuk pintu dengan lembut.

“Bapak Aslan menunggu di ruang sarapan, Nona Alea.”

Alea hanya mengangguk, mengganti pakaian tanpa semangat, lalu turun ke lantai bawah.

Aslan duduk dengan anggun di ujung meja panjang, mengenakan setelan kasual abu-abu. Tangannya menyentuh gelas teh, dan wajahnya nyaris netral. Tapi matanya—mata itu masih menyimpan bara yang membakar.

“Duduklah,” katanya singkat.

Alea menarik kursi di seberangnya. Mereka makan dalam diam selama beberapa menit.

Lalu Aslan membuka percakapan.

“Aku sudah mengatur jadwal les privat untukmu.”

Alea mengerutkan kening. “Les privat?”

“Kamu tidak akan kuliah dalam beberapa minggu ke depan,” jawabnya tanpa melihat Alea. “Kampusmu sedang… tidak aman.”

“Tidak aman?” Alea mengulang, nyaris tertawa getir. “Apa maksudmu, karena Reyan?”

Aslan menatapnya datar. “Karena aku tidak ingin kau terganggu.”

“Dengan kata lain, karena kau tidak bisa mengawasi aku di sana.”

Aslan tidak membantah. “Benar.”

Alea mendorong piringnya perlahan, kehilangan nafsu makan.

“Apa kau sadar kau sedang menghancurkan hidupku, Om?”

“Aku sedang menyelamatkannya,” jawab Aslan tenang. “Aku menyelamatkanmu dari dunia yang penuh kebohongan, manipulasi, dan dari laki-laki yang hanya ingin tubuhmu.”

“Termasuk dirimu?” tanya Alea tajam.

Pertanyaan itu menggantung di udara. Dan untuk sesaat, mata Aslan berubah. Ada luka yang mendalam di sana, sebelum ia menunduk dan berbisik.

Lihat selengkapnya