Udara malam begitu dingin. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah dan kesunyian yang menggema. Alea berdiri di balik jendela kamarnya, tangannya menyentuh kaca yang berkabut. Di luar, taman keluarga Virendra yang megah tampak seperti lukisan kelabu—indah, tapi terasa jauh dan tak hidup.
Beberapa hari berlalu sejak ia menemukan map berisi foto-fotonya di ruang kerja Aslan untuk yang kedua kalinya. Ia tidak berani bertanya. Tidak berani menyebutnya dalam percakapan.
Tapi yang membuatnya ketakutan bukan hanya map itu.
Yang membuatnya sesak adalah fakta bahwa ia tidak bisa membenci pria itu sepenuhnya.
Aslan telah melewati batas. Ia telah menghancurkan kebebasannya, merusak relasinya dengan dunia luar, bahkan mengintainya selama bertahun-tahun. Tapi setiap kali pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan, dunia Alea kembali berdenyut.
Alea menarik napas dalam.
Lalu terdengar ketukan di pintu.
Perlahan.
Berirama.
Seperti selalu melewati detik waktu.
Ia tahu itu Aslan.
“Alea.” Suara itu dari balik pintu. Dalam dan tenang. “Boleh aku masuk?”
Ia tak menjawab. Tapi pintu terbuka perlahan. Aslan masuk, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Basah. Beberapa helai rambutnya menempel di dahi, seolah ia baru saja berjalan di bawah hujan.
Alea menoleh. Menatapnya tanpa kata.
"Aku tidak bisa tidur," katanya akhirnya.
"Aku juga tidak," jawab Aslan.
Hening.
Mereka saling menatap. Tak ada dinding yang cukup kuat malam itu untuk menahan segalanya.
Alea mundur satu langkah. Tapi langkah itu justru membawa Aslan lebih dekat.
“Aku tahu apa yang kau lihat di ruang kerjaku,” ujarnya lembut.
Alea menggigit bibir. “Kenapa, Om? Kenapa kau melakukannya?”
Aslan menghela napas panjang. “Karena aku takut kehilanganmu… bahkan sebelum aku memilikimu.”
"Aku bukan milik siapa-siapa."
Aslan mendekat lagi. “Tapi kau sudah hidup dalam pikiranku sejak bertahun-tahun lalu, Alea. Sejak aku melihatmu berlari-lari kecil di taman rumah ini, dengan rambut kuncir dua dan mata yang selalu menatap penuh rasa ingin tahu.”
“Itu… waktu aku masih anak-anak.”
"Aku tahu."
"Itu salah, Om."
“Aku tahu.”
"Lalu kenapa kau tetap mencintaiku?” Suara Alea pecah. Nyaris seperti isak. “Kenapa bukan wanita lain? Kenapa bukan seseorang yang bukan keponakanmu sendiri?”
Aslan mengangkat tangan, menyentuh pipinya pelan. “Karena tak ada yang membuatku merasa hidup seperti dirimu.”
Jarak mereka menghilang.
Dan untuk pertama kalinya—tanpa perintah, tanpa paksaan—Alea tidak mundur.
Ia menatap mata Aslan yang hitam dan dalam, lalu perlahan, bibir mereka bertemu.
Tidak terburu-buru. Tidak liar.
Tapi penuh tekanan.
Penuh emosi yang telah lama terpendam dan akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung.
Ciuman itu dimulai seperti bisikan, lalu berubah menjadi badai kecil yang memusingkan kepala. Alea tak tahu siapa yang menarik lebih dulu. Siapa yang menekan lebih dalam. Yang ia tahu hanya satu hal—ia tidak ingin melepaskan.
Aslan menarik wajahnya, menatapnya dengan napas memburu.