Alea berdiri di depan cermin. Gaun satin biru tua yang membungkus tubuhnya menempel sempurna di lekuk pinggang dan bahu. Tidak terlalu terbuka, tapi cukup berani untuk menimbulkan kesan. Rambutnya digulung rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangka yang nyaris seperti pahatan.
Malam ini ada pesta keluarga. Bukan acara besar, tapi tetap cukup penting untuk membuat rumah Virendra dipenuhi cahaya dan suara tamu.
Alea tahu Aslan akan ada di sana. Dan malam ini—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—ia ingin Aslan melihatnya bukan sebagai gadis kecil yang harus dilindungi, tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan pertahanannya.
Ia mengenakan parfum ringan, lalu menatap cermin. Tatapan itu baru. Lebih tajam. Lebih percaya diri. Lebih... mematikan.
Ia berjalan keluar kamar dengan langkah pelan namun pasti. Sepatunya berdetak lembut di atas lantai marmer. Setiap langkah adalah pernyataan.
“Alea?” suara pelayan memanggil. “Tuan Aslan ingin Anda segera bergabung ke ruang pesta.”
Alea hanya mengangguk pelan.
Di dalam hatinya, ada sesuatu yang tumbuh.
Keberanian. Atau mungkin, kenekatan.
***
Ruang pesta dipenuhi dengan tamu-tamu penting. CEO, pejabat, hingga beberapa kerabat jauh. Musik mengalun lembut dari pojok ruangan, sementara gelas-gelas kristal beradu halus satu sama lain dalam perbincangan ringan.
Tapi saat Alea melangkah masuk, seisi ruangan seolah berhenti berdetak.
Semua mata beralih padanya—terutama sepasang mata hitam yang berdiri di dekat balkon, mengenakan setelan hitam dengan dasi abu-abu yang longgar di leher.
Aslan.
Tatapannya menusuk.
Mengeras.
Menarik napas dalam.
Wajahnya nyaris tidak berekspresi, tapi sorot matanya menggelap. Dan Alea tahu—pria itu ingin menerkamnya di depan semua orang.
Alea tersenyum kecil, lalu berjalan anggun menuju meja minuman. Ia mengambil segelas jus jeruk, padahal ia tidak haus.
Ia hanya ingin tahu seberapa jauh ia bisa menarik perhatian Aslan.
Dan ternyata, hanya butuh beberapa detik.
“Om Aslan melihatmu sejak kau melangkah masuk,” bisik sepupu jauhnya, Lara, dari sisi kanan. “Tatapan itu… astaga, dia kelihatan seperti akan membunuh seseorang.”
Alea tertawa pelan. “Mungkin memang begitu niatnya.”
Lara mengangkat alis, tapi Alea tidak menjelaskan.
Beberapa lelaki muda mencoba menyapa. Salah satunya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Dan saat jari mereka hampir menyentuh, seseorang memotong langkah itu dengan dingin.
“Permisi,” suara berat dan tegas membelah udara. “Alea, ikut aku sebentar.”
Tanpa menoleh ke tamu lain, Aslan menggenggam pergelangan tangan Alea dan menariknya keluar ruangan. Ia tidak menarik dengan keras. Tapi cukup kuat untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali.
Dan Alea tidak melawan.
Belum.