Hujan turun sejak sore.
Deras. Tanpa jeda. Membasahi seluruh halaman belakang rumah Virendra hingga menjadi danau kecil.
Alea berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi tetesan yang menampar kaca dengan gemuruh yang menenangkan. Di balik bayangan jendela, wajahnya terlihat tenang, tapi di dalam tubuhnya, badai kecil berputar pelan.
Hari ini, Aslan memutuskan untuk membatalkan semua rapat luar kota karena cuaca ekstrem. Ia berada di rumah—dan entah kenapa, rumah itu terasa lebih kecil ketika Aslan ada di dalamnya.
Lebih penuh. Lebih sesak. Tapi juga… lebih hidup.
Alea menarik selimutnya dan mencoba membaca buku, namun pikirannya tak berhenti melayang ke kejadian di lorong dua malam lalu. Ciuman itu. Nafas Aslan di pipinya. Ancaman dalam suaranya. Dan gemetar dalam tubuhnya sendiri.
Ia menepis semuanya.
Atau… mencoba menepis.
Namun ketukan di pintu membuatnya tersentak.
Tok tok
"Alea," suara berat itu terdengar dari balik pintu. "Kamarku sedang mengalami kebocoran. Aku butuh tidur di kamarmu malam ini."
Jantung Alea langsung melompat ke kerongkongan.
“Ada banyak kamar lain, kan?” tanyanya, terdengar bodoh bahkan di telinganya sendiri.
“Aku butuh tidur di kamarmu.” Kali ini suaranya lebih rendah, lebih dalam. Tak bisa ditawar.
Alea membuka pintu perlahan.
Aslan berdiri di sana, mengenakan kaus hitam polos dan celana panjang kain. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru saja dari kamar mandi.
Dia tampak... terlalu nyaman. Terlalu nyata.
“Kasurku cukup besar,” gumam Alea sambil berjalan kembali ke tempat tidur. “Tapi jangan salahkan aku kalau aku melakukan tendangan pinalti di tengah malam.”
Aslan hanya tersenyum tipis dan masuk tanpa bicara. Hujan di luar masih deras. Angin mulai meniup ke arah jendela, membuatnya berderit pelan.
Alea mengambil posisi di sisi kanan ranjang. Sisi yang biasa.
Aslan naik dan berbaring di sisi kiri, membiarkan hening mengalir beberapa saat.
Keduanya menatap langit-langit kamar. Lampu remang menciptakan bayangan samar di dinding. Suara detak hujan menjadi satu-satunya musik malam ini.
“Kapan terakhir kita tidur sekamar seperti ini?” tanya Alea pelan.
Aslan tidak langsung menjawab.
“Waktu kau masih SMA. Saat kau mimpi buruk dan mengetuk kamarku jam dua pagi. Kau ingat?”
Alea mengangguk. “Kau marah pagi harinya.”
“Aku tidak marah. Aku hanya takut.”
Alea menoleh. “Takut apa?”
“Takut kehilangan kendali.”
Hening lagi. Tapi kali ini, lebih berat. Lebih padat oleh sesuatu yang tak diucapkan.
"Om," bisik Alea, "kalau aku melangkah lebih jauh... kau akan menarikku kembali, atau kau akan ikut masuk bersamaku?"
Aslan menoleh. Matanya gelap dan terbuka, memperlihatkan sesuatu yang selama ini dia sembunyikan rapat.