Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #17

Surat dari Masa Lalu

Hujan sudah reda sejak pagi, tapi langit masih kelabu. Kabut tipis menyelimuti halaman belakang rumah Virendra, seolah menahan matahari untuk menampakkan dirinya.

Alea duduk di loteng yang jarang dikunjungi siapa pun. Di depannya, ada sebuah koper tua berlapis debu yang ia temukan secara tidak sengaja saat mencari buku catatannya yang hilang.

Koper itu kecil dan berat, berwarna merah marun, sudut-sudutnya mulai terkelupas. Tidak ada nama di luarnya, hanya inisial emas yang sudah pudar: R.N.V.

Ranya Nadeera Virendra.

Nama ibunya.

Tangan Alea bergetar ketika membuka kunci kecil di sisi koper. Engselnya berderit—seperti mengaduh setelah lama terkunci dari dunia.

Di dalamnya, tertata rapi, ada beberapa album foto lama, sehelai syal biru muda, dan sebuah tumpukan amplop yang diikat dengan pita.

Alea memegang amplop teratas. Di sana tertulis dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal.

Untuk Alea,

Jika suatu hari kau merasa kehilangan arah.

Buka ini.

—Mama.

Dunia di sekitar Alea seolah berhenti.

Tangannya membuka perlahan.

Alea sayang,

Jika kau membaca ini, berarti Mama tidak lagi ada di sisimu. Maafkan Mama karena harus meninggalkanmu terlalu cepat. Tapi Mama ingin kau tahu bahwa selama Mama hidup, Mama mencintaimu lebih dari apa pun.

Ada satu hal yang harus kau ketahui, dan mungkin akan mengguncangmu. Tapi Mama percaya pada kekuatanmu. Pada hatimu.

Sejak kau kecil, aku dan kakakku—Aslan—sudah sepakat untuk menjaga masa depanmu.

Kau mungkin bingung kenapa Mama menyebut Aslan yang akan menjaga masa depanmu.

Dia lelaki yang mencintaimu bahkan sebelum kau tahu arti cinta itu sendiri.

Alea berhenti membaca. Jantungnya berdegup begitu keras hingga menyesakkan dada.

Tapi ia tetap melanjutkan.

Aslan mungkin tidak pernah berkata padamu, tapi Mama tahu. Mama tahu dari caranya menatapmu. Dari caranya menjaga semua hal tentangmu—jadwal makanmu, sekolahmu, bahkan warna kesukaanmu.

Bukan karena dia ingin mengaturmu. Tapi karena dia takut dunia akan menyakitimu.

Kau tahu, Alea? Di tahun terakhir hidup Mama, Mama dan Om Aslan pernah berbicara serius. Tentang kau. Tentang masa depanmu. Tentang... pernikahan.

Ya. Pernikahan.

Mama tidak gila. Mama tidak memaksamu untuk menikahi om-mu. Tapi kami berdua tahu, hanya dia satu-satunya lelaki di dunia ini yang tidak akan pernah menyakitimu. Hanya dia yang mencintaimu cukup untuk mati demi keselamatanmu.

Kami sempat menandatangani surat perwalian khusus. Jika Mama meninggal sebelum kau dewasa, Aslan berhak menjadi wali sekaligus penjagamu sampai kau menikah. Dan jika sampai usia tertentu kau belum menikah, surat itu memungkinkan Aslan menjadi pasangan hidupmu. Secara sah.

Mama tahu ini terdengar salah. Tapi Mama percaya, kau akan tahu sendiri... apakah perasaan itu memang ada dalam dirimu.

Kalau tidak, bakarlah surat ini. Dan pilihlah jalanmu sendiri.

Tapi jika kau merasakan sesuatu yang tidak bisa kau jelaskan, sesuatu yang membuatmu takut dan rindu pada waktu yang sama... maka jangan lagi menolaknya.

Karena kau tahu, Alea... cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang disetujui dunia. Tapi dia tetap cinta.

Dan cinta yang murni... selalu tahu jalannya pulang.

—Mama.

Lihat selengkapnya