Hujan kembali turun malam itu, seperti pengiring sunyi dari sebuah pengakuan yang mengguncang. Suasana rumah Virendra hening, seolah segala rahasia yang tersembunyi selama ini akhirnya mulai menguak dari tiap dinding dan sudut.
Alea berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi tetes air yang membasahi kaca. Tangan kirinya masih menggenggam surat dari ibunya, yang kini terasa seperti kunci dari pintu yang selama ini tertutup rapat.
Tapi ada satu kunci lain yang harus ia temukan—dari Aslan.
Suara ketukan pelan terdengar di pintu.
Alea menoleh. Tidak perlu menebak.
“Om?”
Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok pria itu—dengan kemeja hitam dan rambut yang sedikit berantakan. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Tapi di balik kelelahan itu, ada sesuatu yang lebih dalam.
Rasa bersalah.
Dan ketakutan.
“Om, duduklah,” kata Alea pelan, menepuk sisi ranjangnya.
Aslan tidak banyak bicara. Ia duduk, menatap lantai, dan diam untuk waktu yang cukup lama.
“Aku ingin kau jujur,” Alea membuka percakapan. “Tanpa melindungiku. Tanpa membelokkan kenyataan. Aku sudah dewasa. Aku pantas tahu semuanya.”
Aslan menatapnya. Matanya tampak redup, tapi tajam. “Apa yang ingin kau tahu?”
“Sejak kapan kau mulai... mencintaiku?”
Ia menelan ludah. Perlahan. Seolah setiap kata yang akan keluar dari mulutnya adalah pengkhianatan.
“Sejak kau berumur lima belas tahun,” jawabnya akhirnya, suara itu nyaris seperti bisikan.
Alea mengerjap.
Tidak karena kaget—tapi karena dugaannya benar.
“Lima belas tahun,” ulangnya.
Aslan mengangguk, mengusap wajahnya seolah ingin menghapus rasa malu.
“Aku tahu betapa salahnya itu. Aku tahu itu membuatku tampak seperti monster. Tapi aku tidak pernah... menyentuhmu. Tidak satu kali pun. Tidak hingga kau kembali dari luar negeri.”
“Lalu selama aku jauh darimu? Kau tetap merasa seperti itu?”
Aslan mengangguk sekali lagi.
“Setiap kali kau mengirim surat. Setiap kali aku melihat foto ulang tahunmu. Setiap kali kamu menelepon dengan suara manja itu... Tuhan, Alea. Aku menahan semuanya. Aku mencoba menjadi sekadar om. Tapi aku gagal. Aku jatuh terlalu dalam.”
“Lalu saat aku pulang ke rumah ini?” bisik Alea. “Kau pikir aku masih anak-anak?”
“Tidak,” kata Aslan tegas. “Kau bukan anak-anak. Dan itu justru yang menakutkan. Kau berubah. Kau tumbuh menjadi perempuan yang... terlalu cantik untuk tidak dilihat, terlalu lembut untuk tidak dijaga. Dan aku—aku tidak lagi bisa berpura-pura.”
Alea menunduk. Rasanya seperti mendengarkan pengakuan dosa. Tapi anehnya, tidak ada kemarahan. Tidak ada rasa jijik. Hanya... nyeri yang aneh. Hangat dan dingin dalam satu waktu.
“Kenapa tidak kau jauhi aku saja?”
“Aku mencoba,” kata Aslan, nyaris tertawa getir. “Tapi aku gagal. Aku menyuruhmu tinggal di asrama. Kau tetap pulang ke sini. Aku menyuruhmu punya teman. Tapi kau tetap memilih menyendiri.”
“Itu semua karena aku merasa diawasi,” balas Alea. “Aku tidak tahu bahwa rasa takut dan cemas itu datang dari seseorang yang seharusnya menjadi pelindungku... yang ternyata mencintaiku.”
Aslan berdiri. Ia mulai berjalan pelan di ruangan itu, seperti singa yang gelisah dalam kandang.