Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #19

Pelukan Terlarang

Dua hari berlalu sejak malam itu—malam di mana rahasia terbesar Aslan terucap, dan Alea berdiri di antara batas cinta dan obsesi yang mengguncang jiwanya.

Tapi malam itu juga membuat segalanya berubah.

Mata Alea mulai melihat Aslan dengan kesadaran baru. Bukan lagi sekadar seorang om yang dingin dan protektif, melainkan seorang pria yang selama ini menyimpan perasaan yang tak lazim, yang dalam, dan yang ia sendiri mulai... balas dengan rasa yang tak kalah rumit.

Ia tidak lari.

Belum.

Tapi ia juga belum sepenuhnya tinggal.

Dan dalam diamnya, Aslan tidak memaksa.

Untuk pertama kalinya sejak Alea kembali ke rumah Virendra, Aslan memberinya ruang. Ia tidak menegur saat Alea memutuskan untuk membaca buku di luar taman tanpa pengawasan. Ia tidak melarang Alea berbicara dengan penjaga rumah, atau bahkan menerima paket dari kurir secara langsung.

Namun semua itu terasa seperti badai yang mendahului hujan besar. Karena di balik ketenangan itu, Alea tahu—Aslan sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kecemburuan atau kekhawatiran.

Ia sedang menahan dirinya sendiri.

Dan hari itu, badai kecil itu mulai bergemuruh.

***

“Alea, masuk ke ruang kerjaku. Aku butuh bicara,” suara Aslan terdengar dari ujung lorong.

Alea menghentikan langkahnya. Ia baru saja kembali dari kampus, dan belum sempat meletakkan tasnya.

Dengan napas yang sedikit berat, ia melangkah menuju ruang kerja pria itu. Pintu kayu gelap terbuka dengan sendirinya, seolah tahu apa yang sedang menunggu di dalamnya.

Aslan berdiri di dekat jendela, mengenakan kemeja putih yang digulung di lengan. Tali jamnya longgar, dasi dilepas, dan wajahnya tampak... lelah. Tapi bukan lelah karena pekerjaan. Lebih seperti seseorang yang menahan ledakan dari dalam dirinya sendiri.

“Duduklah,” katanya singkat.

Alea menurut.

“Kenapa, Om?” tanyanya pelan.

Aslan berbalik. Matanya menatap tajam, tapi juga letih. “Aku mendengar kau pergi makan siang dengan teman kampusmu. Laki-laki.”

Alea mengangguk. “Namanya Alde.”

“Kau nyaman bersamanya?”

Pertanyaan itu terdengar biasa, tapi nada di baliknya terlalu padat untuk disepelekan.

“Dia hanya temanku.”

Aslan mendekat. Langkahnya berat, tapi mantap. Dan saat ia berhenti tepat di depan Alea, sesuatu dalam udara sekitarnya berubah.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Karena aku tahu kau akan bereaksi seperti ini.”

Lihat selengkapnya