Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #20

Rumah Ini Tak Punya Jendela Lagi

Hujan turun deras pagi itu. Awan-awan kelabu menyelimuti langit Jakarta, menumpahkan air yang membasahi dedaunan di halaman belakang rumah besar keluarga Virendra. Alea menatap ke luar jendela kamarnya, menyentuh kaca dingin yang tertutup embun, dan menyadari sesuatu—udara di dalam rumah ini mulai terasa lebih padat. Lebih sunyi. Lebih... mengurung.

Sejak malam itu—malam saat pelukan itu terjadi, dunia Alea perlahan bergeser.

Aslan berubah. Tapi bukan menjadi lembut seperti yang Alea harapkan. Bukan juga menjadi kasar. Ia menjadi... lebih senyap. Tapi dalam senyap itu, ada mata yang terus mengawasi, ada kehadiran yang selalu melekat seperti bayangan.

Ia tidak memeluk Alea lagi. Tidak mencium tangannya. Tapi juga tidak menjauh.

Aslan seperti membangun dinding yang tak terlihat di sekeliling Alea, lalu duduk di baliknya sambil memegang kunci.

Dan Alea mulai menyadarinya satu per satu.

***

“Kenapa aku tidak bisa keluar hari ini?” tanya Alea, berdiri di ambang pintu kamar sambil memegang tas selempangnya.

Suster rumah menunduk. “Maaf, Nona Alea. Tuan Aslan bilang Anda harus istirahat di rumah hari ini.”

“Padahal aku ada kelas penting,” desis Alea.

Ia menuruni tangga, mencari sosok itu. Tidak perlu waktu lama. Aslan ada di ruang makan, masih dengan pakaian kerja, tapi belum berangkat.

“Om.” Suaranya datar.

Lelaki itu menoleh dengan tenang. “Selamat pagi, Alea.”

“Kenapa kau bilang ke mereka kalau aku tidak boleh keluar?”

Aslan menatapnya beberapa detik. “Karena kau terlihat kelelahan. Kau butuh istirahat.”

“Itu bukan alasan sebenarnya, kan?”

Aslan berdiri, menyeka bibirnya dengan serbet putih. “Kalau kau tahu alasan sebenarnya, kau akan membenciku.”

Alea mengerutkan kening. “Coba aku tebak—karena kau takut aku bertemu Alde lagi?”

Aslan menatapnya. Dalam. “Aku tidak bisa melihatmu bersama laki-laki lain, Alea. Bahkan jika dia hanya menawarimu minum air putih, aku ingin mematahkan jarinya.”

Alea menghela napas berat. “Ini gila.”

“Aku tahu.”

“Kau mengurungku lagi.”

Aslan menghampiri. “Bukan mengurung. Aku melindungimu.”

“Dari apa?” Alea menahan emosinya. “Dari dunia? Dari orang lain? Atau dari pilihan yang mungkin aku buat kalau aku tidak berada di bawah pengawasanmu?”

“Aku melindungimu dari diriku sendiri.”

Kata-kata itu menggantung. Dinginnya menusuk, tapi kejujurannya seperti bara api yang menghanguskan.

“Kalau begitu lepaskan aku,” bisik Alea.

Aslan memejamkan matanya sejenak. Lalu menatapnya lagi.

“Aku tidak bisa.”

***

Sejak saat itu, satu demi satu ‘jendela’ di rumah itu mulai tertutup.

Akun email Alea mendadak tidak bisa diakses. Aslan berkata akan memperbaikinya, tapi tidak pernah benar-benar dilakukan.

Handphone-nya sering bermasalah. Sinyal hilang. Bahkan beberapa kontak hilang. Alea mulai curiga.

Sopir yang biasanya mengantar ke kampus diganti dengan pengawal pribadi. Dan pria itu—Pak Daman—selalu melaporkan keberadaan Alea setiap jam ke ponsel Aslan.

Lihat selengkapnya