Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #22

Aku Takut Tapi Aku Ingin

Malam itu, langit menggantung kelam tanpa bintang. Alea berdiri di balik jendela kamarnya, menatap gelapnya pekarangan yang tak pernah ia lewati sendirian. Rumah itu terlalu sepi. Terlalu sunyi. Tapi bukan sunyi yang menenangkan—melainkan sunyi yang menggigit perlahan ke dalam pikiran.

Sudah tiga hari sejak peristiwa malam itu.

Tiga hari sejak ia mencoba pergi dan gagal.

Tiga hari sejak Aslan memberinya hukuman paling sunyi yang pernah ia terima—tanpa bentakan, tanpa ancaman, tanpa amarah.

Hanya diam.

Dan keheningan dari Aslan membuat dada Alea justru makin sesak.

Kini lelaki itu tak lagi mengurungnya secara terang-terangan. Ia membiarkan Alea berjalan di dalam rumah, mengakses internet dengan pengawasan minimal, bahkan keluar halaman saat matahari sore turun. Tapi sikap Aslan benar-benar berubah. Ia nyaris tak bicara. Tatapannya dingin. Jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang dalam—dan justru itu yang membuat Alea mulai goyah.

Karena entah bagaimana, ia merindukan om-nya.

Merindukan tatapan tajam Aslan. Nada mengatur itu. Bahkan marahnya yang posesif.

Dan rasa itu membuatnya takut.

Apakah ia sudah sedalam itu terperangkap?

***

"Om Aslan nggak pulang lagi?"

Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Alea kepada pengurus rumah tangga, Bu Rini.

“Bapak tidur di kantor dua hari ini,” jawab Bu Rini, singkat. “Banyak urusan perusahaan katanya.”

Alea menggigit bibirnya. Perasaan bersalah dan kehilangan bergelayut di kepalanya. Tapi bukankah ini yang ia minta? Ruang? Jarak?

Lalu kenapa dadanya sakit seperti ini?

***

Malam keempat, saat Alea duduk di tangga menuju lantai dua, terdengar suara mobil masuk ke garasi. Suara yang sudah ia kenali sangat baik. Ia segera berdiri, tapi tak beranjak. Jantungnya berdetak tak karuan saat mendengar pintu dibuka dan langkah kaki Aslan masuk ke rumah.

Langkah itu berat. Lelah. Tapi tetap pasti.

Dan ketika sosok tinggi besar itu muncul di ambang ruang tamu, Alea tak bisa berpaling.

Aslan berhenti. Matanya bertemu dengan milik Alea.

Sunyi.

Lama.

Hingga akhirnya Alea memanggil pelan. “…Om.”

Aslan mengedip pelan, hampir tak percaya Alea menyapanya dengan sebutan itu lagi. Tapi ia tak menjawab. Hanya melangkah naik, melewati Alea tanpa berkata apa-apa.

Dan saat itu, sesuatu di dalam diri Alea retak.

Ia berbalik cepat, menangkap lengan Aslan sebelum lelaki itu melangkah lebih jauh.

“Om.”

Suara Alea bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku... aku takut.”

Aslan berhenti. Tidak menoleh.

“Takut apa?”

“Takut kehilanganmu,” bisik Alea. “Takut perasaanku ini benar-benar salah.”

Aslan menoleh pelan. Mata mereka bertemu.

“Dan aku takut aku ingin kau sentuh... meski aku tahu aku seharusnya menolak.”

Kata-kata itu membuat napas Aslan berhenti sejenak.

Senyap.

Lihat selengkapnya