Alea berdiri di depan rak buku tinggi di ruang kerja Aslan. Jemarinya menyusuri punggung-punggung buku berwarna gelap yang berjajar rapi, semuanya tampak seperti belum pernah disentuh. Di balik jendela besar yang menghadap taman belakang, matahari pagi menyorot hangat, menciptakan bayangan panjang di lantai kayu.
Hari itu, Aslan sedang rapat di kantor. Untuk pertama kalinya sejak percakapan di meja makan itu, ia membiarkan Alea menjelajahi ruang pribadinya—ruang yang selama ini terasa seperti kuil tertutup bagi sang penguasa rumah.
Alea awalnya hanya berniat mencari bacaan. Tapi entah kenapa, hatinya menuntunnya ke sudut meja kerja Aslan. Di sana, sebuah laci kecil tanpa kunci tampak terbuka sedikit. Mungkin tidak disengaja.
Tangan Alea bergerak ragu. Tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa bersalah. Ia menarik laci itu perlahan.
Dan di dalamnya—ada sebuah kotak kecil berbalut beludru hitam.
Bentuknya familiar.
Pernah ia lihat dalam film-film. Dalam iklan perhiasan.
Dengan tangan bergetar, Alea membukanya.
Di dalam kotak itu, terbaring sebuah cincin perak putih yang sederhana namun elegan. Tanpa berlian mencolok, tanpa ukiran mewah. Hanya ada satu batu kecil—safir biru tua, seteduh langit malam sebelum badai.
Hatinya langsung berdegup.
Cincin itu... terasa terlalu tepat.
Terlalu miliknya.
Dan di bawah bantalan kotak, ia menemukan secarik kertas kecil yang dilipat rapi. Tulisan tangan Aslan menyambut matanya.
Cincin ini kubeli ketika kau berusia lima belas tahun.
Aku tahu ini salah. Tapi aku juga tahu: perasaanku tidak akan berubah.
Jika takdir berpihak, cincin ini akan berada di jarimu pada waktu yang tepat.
—Aslan
Alea terduduk di kursi kerja Aslan, tubuhnya limbung seperti kehilangan napas. Matanya menatap lembaran itu lama, berusaha memahami apa yang sebenarnya dirasakannya saat ini.
Aslan mencintainya sejak ia lima belas tahun?
Tahun di mana ia masih remaja kikuk dengan seragam sekolah dan rambut dikuncir dua?
Tahun di mana ia hanya tahu bahwa pamannya adalah pria pendiam yang selalu menjemputnya pulang les tanpa banyak bicara?
Tahun di mana ia mulai menulis nama Aslan di belakang buku matematikanya, tanpa sadar, seperti kebiasaan bodoh?
Jadi... semua yang terjadi sekarang bukan kebetulan. Bukan sekadar dorongan sesaat. Tapi sesuatu yang sudah lama hidup dalam diam?
Alea menutup mata, mencengkeram surat itu di dadanya. Entah sudah berapa kali ia tahu tentang fakta ini. Namun, sampai saat ini, ia masih terguncang dengan kenyataan yang sudah lama terpendam itu.
Dan saat air matanya jatuh, ia tidak tahu apakah itu tangis takut, atau justru... haru yang dalam.
***
Sore harinya, Alea duduk di balkon kamarnya, masih memegang kotak cincin itu di pangkuan. Ia menunggu. Menanti langkah kaki yang paling dikenalnya—langkah yang selama beberapa minggu terakhir menghantarnya pada rasa takut dan rindu sekaligus.
Langkah itu akhirnya datang.
“Om,” panggilnya pelan, saat sosok itu muncul dari arah lorong.
Aslan berhenti. Pandangan matanya langsung tertuju pada kotak hitam di tangan Alea.
Ia tidak bicara. Hanya menatap.
“Aku menemukannya,” kata Alea lagi, lebih lembut.
Aslan mengangguk pelan. “Aku tidak menyembunyikannya dengan baik.”
“Kau membelinya... sejak aku berumur lima belas tahun?”
Lelaki itu mendekat, perlahan. Tidak menyentuh Alea. Tidak mencoba mengambil kotak itu.
“Ya,” jawabnya pelan. “Saat itu kau masih remaja yang tidak mengerti dunia. Tapi aku sudah mengerti bahwa hatiku tertambat padamu.”