Malam itu, hujan turun perlahan. Bukan badai, bukan gerimis yang malu-malu. Hujan yang jatuh seperti bisikan tenang dari langit, seolah tahu bahwa malam ini, sesuatu yang besar akan terjadi di rumah tua keluarga Virendra.
Alea duduk di tepi ranjang, membiarkan cahaya lampu meja merayap lembut ke kulit bahunya. Gaun tidur putih tipis menyelimuti tubuhnya, sementara rambutnya tergerai di punggung, lembap karena sisa air setelah mandi. Jemarinya menggenggam erat selembar kertas yang baru saja ia temukan di bawah bantalnya.
Tulisan tangan Aslan.
Datanglah ke kamarku malam ini, jika kau sudah siap.
Bukan karena terpaksa. Bukan karena takut. Tapi karena kau memang ingin menjadi milikku, sepenuhnya.
Surat itu hanya sepenggal. Pendek. Tapi beratnya seperti menimpa seluruh dadanya.
Dan Alea tahu, ini bukan sekadar ajakan tidur bersama.
Ini adalah undangan menuju batas terakhir yang belum mereka lewati.
Batas antara ketertarikan dan kepemilikan.
Antara rasa dan tubuh.
Ia berdiri. Kakinya melangkah pelan menyusuri lorong panjang menuju kamar Aslan. Setiap langkah terasa seperti denting waktu, mengikis keraguan yang tersisa.
Pintu kamar Aslan terbuka sedikit. Cahaya temaram keluar dari dalam, seperti sengaja menyambutnya.
Alea mengetuk pelan, lalu mendorong pintunya.
Aslan berdiri di depan jendela, membelakangi pintu. Kemeja putihnya digulung sampai siku, dan suara hujan yang memukul kaca menjadi satu-satunya musik malam itu.
Saat ia menoleh, mata mereka bertemu.
Tanpa senyum.
Tanpa kalimat basa-basi.
Hanya ketelanjangan emosi yang tak bisa lagi disembunyikan.
“Kau datang,” katanya lirih.
Alea mengangguk. “Aku sudah siap.”
Aslan mendekat. Tidak terburu-buru. Tidak langsung menyentuh.
Ia hanya berdiri di depan Alea, menatapnya dalam.
“Sekali lagi,” bisiknya, “katakan padaku kau datang bukan karena aku memintanya.”
Alea mendongak. Matanya jernih dan tenang.
“Aku datang... karena aku mencintaimu. Dan karena aku ingin memberikan semua yang kumiliki... hanya untukmu.”
Aslan memejamkan mata sejenak. Seperti menahan sesuatu yang hampir meledak dari dadanya.
Lalu ia membuka mata kembali. Menyentuh pipi Alea dengan jemari gemetar.
“Kau satu-satunya yang membuatku takut kehilangan,” katanya pelan. “Tapi malam ini... aku ingin mencintaimu tanpa rasa takut itu.”
Alea mengangguk. “Malam ini, kita tidak akan menyembunyikan apa pun lagi.”
Lalu Aslan menunduk.
Mencium kening Alea, seperti awal dari segala ketenangan.
Kemudian turun ke pipi, ke ujung dagu, lalu ke bibir.
Dan ketika akhirnya bibir mereka bersatu, tidak ada lagi rasa bersalah.
Hanya rasa milik yang tidak bisa ditahan lebih lama.
Aslan mengangkat Alea ke dalam pelukannya. Membaringkannya di ranjang yang selama ini terasa terlalu megah, terlalu dingin, terlalu milik seorang pria dewasa yang tak terjangkau.