Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #26

Mereka Tidak Akan Mengerti

Rumah besar keluarga Virendra tampak seperti biasa. Sunyi, elegan, dan terlalu tenang untuk sebuah tempat yang menyimpan rahasia sebesar milik Alea dan Aslan.

Tapi hari itu, dunia luar perlahan mulai menyusup ke dalam.

“Mbak Alea?”

Alea menoleh dari arah balkon lantai dua ketika suara pelan itu menyapanya. Mia, asisten rumah tangga baru, berdiri ragu di depan tangga dengan tangan masih menggenggam ponsel.

“Ada telepon dari teman kampus. Namanya Reyan. Katanya penting.”

Alea mengerutkan dahi. Sudah seminggu sejak ia benar-benar membatasi kontak dari luar. Bahkan ia tak membuka grup angkatan atau DM dari siapa pun. Tapi Reyan, satu dari sedikit teman yang masih konsisten menanyakan kabarnya.

“Bilang aku akan meneleponnya nanti, ya.”

Mia mengangguk cepat dan mundur. Alea menarik napas panjang.

Dari kejauhan, suara langkah kaki mendekat. Langkah yang sangat ia kenali.

Aslan.

“Siapa yang menelepon?” tanyanya dingin, seolah sudah tahu jawabannya.

“Reyan.”

Aslan berhenti beberapa langkah di belakangnya. “Sudah kubilang, jangan biarkan dia terus mengganggu. Dunia luar bukan tempatmu sekarang.”

Alea menatap lurus ke taman. “Dia hanya teman. Tidak lebih.”

“Teman yang menatapmu seperti ingin lebih.”

“Kau tidak bisa mengendalikan siapa yang meneleponku, Om.”

“Kalau aku tidak bisa, siapa lagi? Kau bahkan sudah menjadi milikku. Kau tinggal di rumah ini. Di ranjangku.”

Alea menoleh tajam.

“Aku memang milikmu. Tapi aku bukan tahananmu.”

***

Malam itu makan malam berjalan sunyi.

Alea hanya menyentuh makanannya. Aslan membaca berita di tablet, meski jelas tidak sedang membaca apa-apa. Ketegangan di antara mereka seperti asap tipis yang tidak terbakar, tapi membuat sesak.

“Kau masih kesal?” tanya Aslan akhirnya.

Alea menatapnya. “Aku hanya... merasa semuanya mulai sempit. Dulu kita setidaknya masih punya peran di luar. Sekarang, aku bahkan tidak kuliah. Aku hanya... di sini. Untukmu.”

Aslan menyandarkan punggung ke kursi, meletakkan tablet di meja.

“Apa kau menyesal?”

Alea diam. Lalu, pelan, menggeleng.

“Aku hanya bingung bagaimana kita akan bertahan seperti ini.”

Aslan memejamkan mata sebentar. “Karena mereka tidak akan mengerti.”

Alea mengepalkan tangan di pangkuannya. “Aku tahu. Tapi tetap saja... kita tidak bisa selamanya hidup dalam bayangan.”

“Kau ingin dunia tahu?” tanya Aslan. Tatapannya tajam. “Kau ingin jadi berita utama di setiap media, jadi perbincangan, dihina, dijadikan aib keluarga?”

“Tidak.” Alea menunduk. “Aku hanya ingin bisa berjalan bersebelahan denganmu, bukan di belakangmu. Aku ingin bisa bicara tentangmu kepada orang lain tanpa merasa bersalah.”

Suasana makin dingin.

Tapi Aslan berdiri, lalu mendekati Alea.

Ia jongkok di hadapannya, memegang kedua tangan gadis itu.

“Alea, aku tahu ini sulit. Tapi kita sudah membuat pilihan. Dan pilihan ini memang bukan jalan yang mudah. Tapi aku bersumpah... aku akan melindungi kita berdua. Bahkan dari dunia.”

Alea mengangguk pelan. Tapi hatinya masih penuh tanya.

***

Keesokan harinya, ia mengunjungi kampus. Hanya sebentar, katanya pada Aslan. Hanya untuk menyelesaikan administrasi cuti yang belum ia urus sejak memutuskan tinggal penuh di rumah.

Tapi begitu sampai, ia sadar: dunia ini sudah terasa asing.

Lihat selengkapnya