Pagi itu, langit tampak cerah seolah tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang tak terlupakan.
Alea duduk di kursi kayu yang menghadap danau kecil di belakang vila asing yang terletak jauh di perbatasan Swiss. Gaun putih sederhana melingkupi tubuhnya, ringan dan lembut seperti kapas, tanpa renda atau mutiara. Tidak ada tamu. Tidak ada pelaminan. Tidak ada musik atau lantai dansa. Hanya ia, Aslan, dan dua orang saksi diam yang dipilih dengan teliti dan dibayar untuk tutup mulut seumur hidup.
Aslan berjalan menghampirinya dari dalam vila. Kemeja putih dan jas biru gelap membalut tubuh tegapnya, rambutnya disisir rapi, dan wajahnya begitu tenang. Tapi di balik ketenangan itu, Alea bisa melihat ketegangan samar di mata Aslan. Ketegangan yang sama yang ia rasakan di dalam dadanya.
Ini bukan pernikahan seperti yang diimpikan kebanyakan orang.
Tapi ini adalah satu-satunya pernikahan yang mereka bisa jalani—jauh dari mata keluarga, teman, dan terutama… hukum sosial.
“Kau siap?” suara Aslan serak, namun hangat.
Alea mengangguk. “Lebih dari siap.”
Dia berdiri, dan Aslan menggenggam tangannya dengan mantap.
“Mari kita buat dunia kecil kita resmi,” bisiknya di telinga Alea sebelum memeluknya sebentar, lalu menggandengnya menuju paviliun kecil tempat seorang petugas sipil menunggu.
Petugas itu tidak bertanya banyak. Identitas keduanya telah diatur dengan teliti. Alea menggunakan nama ibu kandungnya sebagai nama akhir, dan Aslan menyertakan kewarganegaraan gandanya untuk menghindari sorotan hukum di Indonesia. Segala hal telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya—bahkan sebelum Alea tahu akan setuju.
Ketika Alea menandatangani surat pernikahan itu, tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena momen itu terasa terlalu sunyi, terlalu sakral dalam kebisuan.
Saat giliran Aslan menandatangani, ia melakukannya dengan mantap, lalu menatap Alea dalam.
“Hari ini... kau menjadi istriku, dalam segala hal.”
Dan saat cincin sederhana melingkar di jari manisnya, Alea menunduk, berusaha menyembunyikan air mata.
Bukan air mata sedih.
Tapi air mata karena akhirnya semua ini nyata.
Dia benar-benar menjadi milik Aslan.
***
Malam itu, mereka tidak berpesta. Tidak ada toast. Tidak ada dansa.
Tapi ada satu ruangan kecil yang dipenuhi bunga putih dan lampu-lampu gantung, tempat Aslan dan Alea duduk berdua, hanya mereka, dalam pakaian santai, berbagi anggur dan diam.
“Apa kau merasa bersalah?” tanya Aslan tiba-tiba, memecah keheningan.
Alea menatap gelasnya, lalu menggeleng.
“Tidak hari ini,” jawabnya jujur. “Mungkin besok. Mungkin minggu depan. Tapi tidak hari ini.”
Aslan tersenyum tipis. “Kau tahu, dulu aku membayangkan pernikahan kita akan mewah. Ribuan bunga, orkestra, dan semua orang berdiri menyaksikan kita.”
“Kau tahu itu tidak akan pernah terjadi.”
“Ya. Tapi tetap saja, kadang... aku ingin dunia tahu bahwa kau milikku.”
Alea menatapnya.
“Mereka tak perlu tahu, Om. Yang penting... aku tahu. Dan kau tahu.”
Aslan menggenggam tangannya, membawanya ke bibir dan menciumnya.
“Kalau begitu, mulai malam ini, aku akan memperlakukanmu sebagai istriku. Bukan hanya secara perasaan. Tapi secara nyata. Di tempat tidurku. Di kehidupanku. Di pikiranku.”
Alea mengangguk perlahan.
“Malam ini… adalah malam pertama kita sebagai suami istri,” bisiknya.
Mereka tidak terburu-buru masuk ke kamar.
Mereka berjalan pelan ke arah kamar yang kini dihias sederhana tapi elegan. Di dalamnya, hanya ada tempat tidur besar, lampu gantung yang redup, dan jendela terbuka yang memperlihatkan danau tenang di luar sana.
Aslan membantu Alea melepaskan gaun tidurnya, membiarkannya jatuh perlahan ke lantai. Jemarinya menyentuh kulit Alea seolah itu adalah benda paling suci yang tak boleh disakiti.