Alea bangun di tempat tidur yang sama, di kamar yang sama, tapi dunia terasa berbeda pagi itu. Langit di luar jendela tetap biru, aroma kopi dari dapur masih menusuk hidung seperti biasa. Namun, sesuatu dalam dirinya telah berubah.
Cincin di jari manisnya terasa dingin.
Ia memandangnya lama, seolah berharap logam kecil itu bisa menjelaskan mengapa hatinya mendadak terasa begitu sempit.
Ia adalah istri Aslan sekarang.
Secara hukum.
Secara diam-diam.
Secara menyakitkan.
Mereka telah menikah. Di kantor pencatatan pernikahan yang tersembunyi di luar negeri. Dengan dua saksi yang dibayar. Tanpa gaun. Tanpa bunga. Tanpa siapa pun yang tahu.
Tanpa cinta yang utuh, tapi dengan obsesi yang nyata.
"Om," bisik Alea saat pria itu masuk membawa secangkir teh hangat.
Ia tampak sempurna seperti biasa: kemeja hitam, celana bahan, rambut rapi. Tapi mata itu... masih sama. Gelap, dalam, dan penuh dengan rasa memiliki yang tidak pernah berubah sejak awal.
"Teh untuk istri sahku," ucapnya, tersenyum.
Alea menerima cangkir itu dengan tangan gemetar.
“Om... apa yang sudah kita lakukan?”
"Kita mengikat satu sama lain,” jawabnya ringan. “Sesuai rencana. Sesuai perasaan kita.”
“Tapi... kenapa aku merasa seperti sedang dikurung, bukan dipeluk?”
Aslan tak langsung menjawab. Ia duduk di samping Alea, tangannya menyentuh lembut paha gadis itu.
“Kau takut?”
Alea mengangguk perlahan. “Ya. Sangat.”
Aslan menunduk, mencium pelipisnya. “Kau tak perlu takut. Sekarang kau sepenuhnya milikku. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengambilmu dariku.”
Dan justru itu yang menakutkan.
***
Hari-hari setelah pernikahan itu seperti kabut yang tebal. Alea tak kembali ke kampus. Aslan bilang ia boleh rehat selama seminggu. Tapi dalam rehat itu, Alea menyadari ia tidak diizinkan keluar rumah. Tidak dengan alasan sakit. Tidak dengan alasan apa pun.
Semua pintu dikunci otomatis.
Semua akses komunikasi dikontrol.
Bahkan, internet pun dibatasi.
Ia merasa seperti sedang menjalani masa karantina... padahal virus yang memenjarakannya adalah cinta seorang pria.
Atau... obsesi.
***
Pagi ketiga, Alea duduk di dekat jendela, memandangi taman yang dulu sering ia kunjungi. Tempat itu kosong. Tanpa suara. Tanpa angin.
Ia mencoba membuka laptopnya. Tapi setiap situs sosial media diblokir.
“Untuk keamananmu,” kata Aslan saat ditanya.
“Keamanan dari siapa?”
“Dari dunia yang ingin memisahkan kita.”
Alea menahan napas. “Kau tidak percaya aku bisa menjaga diriku sendiri?”
Aslan hanya diam, lalu mengelus pipinya. “Aku mencintaimu terlalu dalam, Alea. Aku tidak sanggup berjudi dengan kemungkinan kehilanganmu.”