Alea menatap berkas-berkas di meja ruang kerja Aslan dengan napas memburu. Malam sudah larut, dan seluruh rumah terbenam dalam keheningan yang menusuk. Tapi isi berkas di hadapannya memecah seluruh dunia menjadi dua.
Dokumen itu bukan hanya tentang dirinya.
Tapi tentang orang-orang yang menghilang secara misterius dari hidupnya.
Mereka yang dulu pernah hadir—dan tiba-tiba menjauh, lenyap, memutus kontak tanpa alasan yang jelas.
Termasuk Raka.
Raka, teman masa kecilnya. Satu-satunya lelaki yang pernah ia sukai sebelum Aslan mencuri hatinya... dan seluruh hidupnya.
Alea menelusuri halaman demi halaman. Di sana tertulis: catatan transfer uang, surat pengunduran diri Raka dari kampus, dan satu lembar keterangan yang membuat tubuhnya membeku—Raka dipekerjakan di sebuah perusahaan kecil di luar negeri... milik anak perusahaan Aslan.
Tangannya gemetar.
"Om..."
Suara itu nyaris tidak keluar dari tenggorokannya.
"Apa yang telah kau lakukan?"
Aslan masuk ke ruangan itu dengan langkah pelan. Ia mengenakan piyama hitam, mata lelah tapi tetap waspada. Begitu melihat Alea berdiri dengan dokumen di tangan, ia berhenti.
“Kau menemukan itu,” katanya, suaranya rendah.
Alea mengangkat kepalanya. Matanya penuh air, dan dalam diam itu, kebenaran mengalir lebih tajam dari teriakan mana pun.
“Kenapa, Om?”
“Karena aku mencintaimu.”
“Jangan gunakan cinta untuk membenarkan semua ini!” Suaranya pecah. “Dia bukan ancaman bagimu,” Alea melanjutkan. “Dia hanya teman. Seseorang yang pernah berarti. Tapi kau... kau membuatnya menghilang dari hidupku! Kau memindahkannya ke luar negeri? Memaksa dia keluar dari hidupku?”
Aslan menatapnya tajam. “Karena aku tahu ke mana arah perasaan kalian waktu itu.”
“Lalu kenapa tidak kau percayakan padaku untuk memilih?”
Aslan menarik napas dalam. “Karena aku tidak mau mengambil risiko. Kau adalah milikku sejak awal, Alea. Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri... tidak akan ada satu pun yang berdiri di antara kita.”
“Termasuk kebebasanku?” bisik Alea, nyaris tak terdengar.
***
Hari itu berubah menjadi perang sunyi. Alea tidak menangis lagi. Ia hanya duduk diam di sofa, memeluk lututnya, menatap kosong ke luar jendela. Aslan duduk di seberang, tak bergerak. Tak meminta maaf.
Ia hanya menunggu.
“Apa lagi yang kau rahasiakan dariku?” Alea akhirnya bertanya.
Aslan menunduk. “Tidak ada.”
“Jangan bohong lagi, Om. Aku butuh tahu segalanya. Sekarang.”
Aslan mengatupkan rahangnya. Lalu berdiri. Ia berjalan ke arah rak buku, menarik sebuah kotak kecil dari bagian tersembunyi.
“Ini,” katanya, menyerahkan padanya.
Alea membuka kotak itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya, ada puluhan surat. Semua ditulis tangan. Semua ditujukan pada dirinya. Tapi... bukan dari Aslan.
Melainkan dari ibunya.
“Ini... surat mama?”
Aslan mengangguk. “Aku menyimpannya. Karena aku tahu, kalau kau membacanya terlalu cepat, kau akan... pergi.”
Alea membuka satu surat. Tinta yang mulai pudar, tapi kata-kata itu menampar hatinya dengan keras.