Hujan turun deras malam itu, membasahi jalan-jalan Jakarta yang penuh kenangan. Setiap tetesnya seperti mengetuk-ngetuk hati Alea yang telah lama beku, lalu pecah—retakannya menyebar tanpa bisa dihentikan.
Ia berdiri di depan gerbang rumah besar keluarga Virendra. Rumah itu gelap dan sunyi, tidak seperti biasanya. Tidak ada lampu taman yang menyala, tidak ada suara mobil Aslan yang biasanya terparkir rapi di garasi. Seolah waktu di rumah itu ikut membeku sejak ia pergi.
Payungnya terhempas angin, tubuhnya basah kuyup, tapi ia tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada gerbang hitam yang selama bertahun-tahun menjadi simbol penjara dan perlindungan sekaligus.
Ia menarik napas dalam-dalam.
“Aku kembali... untuk mengakhiri semuanya,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Tiga bulan.
Sudah tiga bulan sejak malam itu—malam ketika Alea memutuskan untuk pergi. Meninggalkan cincin pernikahan di atas bantal mereka, dan membiarkan suara Aslan yang memanggilnya menggema tanpa jawaban.
Ia melarikan diri ke Bandung, ke tempat sepupu jauh dari pihak ibunya, seseorang yang bahkan Aslan tidak tahu keberadaannya. Ia memutus semua kontak, mengganti nomor, dan hidup seperti bayangan.
Pada awalnya, setiap malam adalah mimpi buruk. Suara Aslan mengisi pikirannya—suara yang lembut tapi menekan, suara yang memerintah dengan penuh cinta yang mengurung. Tapi setelah minggu-minggu berlalu, ia mulai merasa bisa bernapas.
Ia belajar naik angkutan umum sendiri. Belanja ke pasar tanpa ditemani supir. Menyapu halaman sendiri, bahkan mencuci bajunya dengan tangan. Hal-hal kecil yang dulu Aslan larang karena dianggap terlalu "berbahaya" atau "tidak pantas" untuk seorang Virendra.
Dan dari semua itu, Alea menemukan dirinya kembali. Perempuan yang ingin hidup bebas, yang ingin memilih untuk siapa hatinya berdetak.
Tapi hari ini, ia kembali bukan karena ingin kembali dalam artian lama. Ia kembali untuk menutup bab.
***
Ketika gerbang dibuka oleh penjaga rumah, wajah tua itu terpaku.
“Nona Alea… Astaga, Nona…”
Alea tersenyum tipis. “Panggilkan Om Aslan. Aku ingin bicara.”
Penjaga itu tampak ragu. “Tuan Aslan… dia sudah beberapa minggu tidak tinggal di sini, Nona.”
Dada Alea mencelos. “Di mana dia sekarang?”
“Di vila keluarga di Puncak. Sejak Nona pergi, Tuan Aslan tidak pernah benar-benar tinggal di rumah ini lagi. Kami semua diinstruksikan menjaga rumah tetap seperti semula... seolah-olah Nona akan kembali kapan saja.”
Alea menunduk. Ada perih yang menjalar perlahan di dadanya, dan ia benci karena itu bukan rasa kasihan. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang membuat hatinya masih bergetar setiap mendengar nama pria itu.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Ia berbalik, hendak pergi, ketika penjaga itu menambahkan satu kalimat.