Langit sore itu kelabu, seperti mencerminkan kekosongan di dalam rumah megah keluarga Virendra yang dulu tak pernah sepi dari langkah kaki Alea. Sekarang, rumah itu sunyi, dingin, dan penuh gema. Setiap sudut menyimpan jejak kepergian Alea—mug kopinya yang masih tergantung di rak, selimut favoritnya di sofa ruang baca, dan aroma samar parfumnya yang masih tertinggal di kamarnya.
Aslan duduk di ruang kerja, menatap kosong ke layar laptop yang tak menampilkan apa pun kecuali halaman kosong. Tangannya menggenggam pena, tapi tidak menulis satu huruf pun sejak pagi. Di depannya, ada sebuah berkas yang belum ia sentuh: surat-surat legal yang seharusnya ia tandatangani. Tapi tidak ada satu pun yang berarti saat Alea tak lagi di sisinya.
Sudah dua minggu sejak Alea pergi.
Dua minggu tanpa kabar. Dua minggu tanpa senyum tipisnya di pagi hari. Dua minggu tanpa suara pelan Alea mengucap, “Om, jangan terlalu banyak minum kopi malam-malam.”
Aslan memijit pelipisnya. Dia tidak tidur semalam, juga malam sebelumnya. Tidur telah menjadi kemewahan yang tidak bisa lagi ia jangkau, karena setiap kali ia menutup mata, yang datang hanyalah bayangan Alea. Ia bisa melihat Alea memandangnya dari seberang ruangan dengan mata penuh luka dan ketakutan.
Ketakutan itu... bukan lagi karena rahasia yang mereka bagi. Tapi karena dirinya.
Aslan berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap pekarangan yang kini tak lagi berarti. Ia mengingat percakapan terakhir mereka. Kata-kata Alea masih membekas, seolah ditulis di dinding jiwanya.
"Kau bilang aku tidak punya pilihan, Om. Tapi aku memilih satu hal yang tersisa padaku. Pergi darimu."
Dia menolak menyebutnya 'meninggalkan'. Karena bagaimana mungkin Alea meninggalkannya? Mereka telah menikah. Mereka telah mengikat janji—meski dalam gelap dan diam.
Namun kenyataannya: Alea pergi. Dia menghilang.
Aslan telah mengerahkan segalanya. Anak buahnya mencari ke seluruh penjuru kota. Kontak ke semua pengacara, bahkan mencoba menekan pejabat yang pernah mengesahkan pernikahan mereka secara diam-diam. Tapi Alea seperti menghapus jejaknya sendiri. Ia cerdas. Dan ia benar-benar ingin tak ditemukan.
Ponsel Aslan berdering. Untuk sesaat ia berharap itu suara Alea. Tapi bukan.
“Ada surat masuk untuk Anda, Pak,” suara asistennya di ujung telepon.
“Letakkan di meja depan. Aku tidak ingin diganggu.”
Ia menutup telepon, kembali menatap bayangannya sendiri di balik kaca.
Di kamarnya malam itu, Aslan membuka laci kecil tempat ia menyimpan benda-benda yang menurutnya paling berarti. Di dalamnya ada sebuah kotak beludru hitam. Ia membuka perlahan, menatap cincin emas putih dengan ukiran di bagian dalam: “Untukmu, meski dunia tidak setuju.”
Ia teringat hari saat ia memesan cincin itu—beberapa tahun lalu, saat Alea masih berusia lima belas tahun. Waktu itu dia belum menyentuhnya, bahkan belum mengungkapkan apa pun. Tapi perasaannya sudah terlalu dalam. Ia tidak bisa menghentikannya.
Ia menutup kotak itu kembali. Perlahan. Seperti menutup luka lama yang menganga.
***