Hujan mengguyur kota seperti dendam langit yang tak mampu terucap. Jalanan basah, berkilat oleh lampu-lampu yang temaram. Di tengah semuanya, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah yang tak pernah benar-benar kehilangan jiwanya—karena ia masih menyimpan namanya.
Alea berdiri di depan gerbang besar rumah Virendra. Tangan kirinya gemetar saat hendak menekan bel, tapi ia tak jadi. Karena dari balik jendela lantai dua, lampu kamar Aslan masih menyala.
"Apa dia masih di sana?" bisiknya pada dirinya sendiri.
Suara hujan seperti menelan keraguannya. Sudah hampir lima bulan lamanya sejak ia pergi. Sejak malam itu, sejak ia memilih untuk melarikan diri, kembali ke tempat yang tak pernah bisa disebut rumah, tapi juga tak pernah benar-benar meninggalkannya.
Dan sekarang dia kembali.
Alea tak menekan bel. Ia hanya berdiri, tubuhnya kuyup, menatap rumah itu seolah menanti sesuatu... atau seseorang. Tak butuh waktu lama. Suara pintu depan terbuka membuatnya menegang.
"Om Aslan."
Nama itu keluar dari bibirnya saat sosok tinggi berjas tidur hitam berdiri di ambang pintu, siluetnya samar tertimpa cahaya rumah.
Wajah itu. Mata itu. Napas itu. Semua masih sama.
Dan tetap membuat dunianya bergetar.
“Om...” gumam Alea lagi, tak percaya. Dia benar-benar keluar, seperti tahu. Seperti selalu tahu.
Lelaki itu tidak bergerak. Hanya berdiri, seperti patung yang sedang berperang dengan kenyataan. Lalu suaranya keluar, serak, parau, dan seperti luka yang dibangunkan paksa.
“Alea.”
Dia mengatakannya seperti seseorang yang baru sadar bahwa mimpi buruknya bisa berubah menjadi harapan.
Langkah kaki Aslan pelan namun pasti. Ia mendekat. Hujan tak membuatnya peduli, seperti tak pernah ada dunia lain selain Alea yang berdiri di hadapannya sekarang.
“Aku tahu kau akan kembali,” ucapnya. Lalu berhenti. “Tapi aku tidak tahu kapan.”
Alea menunduk. “Aku juga tidak tahu kenapa aku berdiri di sini sekarang.”
Mereka berdiri dalam jarak hanya dua langkah, dua bulan, dan dua dunia yang saling tarik-menarik. Wajah Aslan tak berubah banyak. Matanya masih gelap, tapi kini seperti kehilangan sedikit api.
“Apa aku boleh masuk?” tanya Alea pelan.
Aslan tak menjawab. Ia hanya memutar badan, dan pintu besar rumah itu terbuka perlahan.
Dia mempersilahkannya masuk. Tanpa kata.
Dan dengan langkah ragu, Alea kembali ke tempat yang ia tinggalkan.
***
Rumah itu tak berubah. Masih sunyi, masih terlalu besar, dan tetap menyimpan aroma yang dulu selalu membuat Alea cemas sekaligus nyaman: bau kayu, lavender, dan sesuatu yang tak pernah bisa ia definisikan selain satu kata: Aslan.
Aslan menuntunnya ke ruang tengah. Mereka duduk di sofa berseberangan, jarak aman, tapi atmosfer tegang menggantung seperti pedang.
“Apa kau baik-baik saja selama ini?” tanya Aslan akhirnya.
Alea mengangguk pelan. “Sebisa mungkin," ujarnya pelan. “Om...” Alea menarik napas. “Aku belum siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kau simpan.”
“Aku tidak akan memaksa.”
Itu mengejutkannya.
“Tidak akan memaksa?” Alea mengerutkan dahi. “Kau... berubah.”
Aslan menatap lurus ke arah Alea, seperti ingin berkata banyak tapi memilih menahan.