Matahari sore menyusup dari sela-sela jendela kaca ruang kerja itu, menyorot ke meja besar kayu mahoni tempat Alea duduk dalam diam. Jemarinya gemetar menggenggam cangkir teh yang kini telah dingin. Langit di luar berwarna jingga pekat, kontras dengan udara di dalam ruangan yang terasa begitu sunyi, begitu tegang.
Aslan berdiri di seberangnya, bersandar di tepi meja dengan kedua tangan bersilang di dada. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Alea sejak ia datang dua jam lalu. Ia tak bicara, tapi dunia di antara mereka sudah begitu penuh oleh suara-suara yang tak terucap.
"Sudah cukup," suara Alea akhirnya pecah, pelan tapi jelas.
Aslan masih diam. Lalu dengan suara serak yang seperti baru saja mengusap luka dalam, ia bertanya, "Apa maksudmu?"
"Sudah cukup kita saling menyakiti, saling menjauh, saling bertanya-tanya apakah ini cinta atau hanya luka yang dibungkus dengan rasa rindu," katanya, menatap Aslan dalam-dalam.
Wajah lelaki itu menegang. Tak ada ekspresi marah seperti dulu, tak ada nada posesif. Hanya tatapan penuh letih, seperti seseorang yang telah berlari terlalu jauh hanya untuk mendapati dirinya masih di tempat yang sama.
"Aku mencarimu ke mana-mana, Alea. Selama dua bulan. Aku bahkan menghubungi orang-orang yang paling kau benci hanya untuk tahu kau masih hidup," ucap Aslan pelan.
Alea menunduk, menggigit bibir bawahnya.
"Aku hidup," katanya lirih. "Tapi aku tidak merasa hidup, Om. Sejak hari kita menikah secara diam-diam. Sejak hari aku kehilangan diriku di balik nama barumu yang kau sematkan padaku."
Aslan menahan napas, lalu berjalan perlahan mengitari meja hingga kini berdiri di sebelahnya. Ia tak menyentuh Alea, tak memaksanya memandang, hanya duduk di kursi samping.
"Kalau aku bisa ulang semuanya..." katanya.
"Tidak," Alea memotong. "Jangan bilang kau ingin mengubah segalanya. Karena kalau itu yang kau mau, artinya semua ini memang salah sejak awal. Dan aku... aku butuh tahu kalau setidaknya perasaanmu benar, meski caramu salah."
Suara Alea pecah. Air matanya turun perlahan, satu-satu, dan Aslan meraih tisu dari meja. Ia menyodorkannya, tapi tak memaksa. Tak ada pelukan. Tak ada genggaman. Hanya kehadiran yang lebih jujur dari semua kedekatan mereka sebelumnya.
"Dulu... aku percaya kalau kau mencintaiku lebih dari siapa pun," lanjut Alea. "Tapi aku tidak tahu bahwa cinta yang tidak diberi ruang bisa berubah jadi kandang."