Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #35

Epilog~Karena Kini Aku Tahu, Kita Ditakdirkan

Langit sore itu berwarna jingga pucat, seperti menyimpan rahasia yang tak ingin terlalu banyak bicara. Di dalam kamar kecil yang disewa Alea selama beberapa bulan terakhir, aroma kertas tua menyergap indra penciumannya ketika ia membuka kotak tua yang dibawa oleh seorang pengacara kepercayaannya, peninggalan terakhir dari mendiang ibunya.

Dibungkus kain beludru biru gelap, ada sepucuk surat bertulisan tangan dengan tinta hitam. Rapi. Kaku. Tapi saat Alea membaca bait pertama, jantungnya seolah dicekik oleh kenyataan yang begitu tak terduga.

Alea sayang,

Maafkan Mama karena menyimpan hal ini darimu begitu lama. Tapi jika kau membaca surat ini, artinya kau sudah cukup dewasa untuk memahami kebenaran.

Aslan Julian bukanlah kakak kandung Mama. Kami bukan saudara sedarah. Aslan adalah anak dari sahabat kakekmu—Damian Candala—yang dibesarkan bersama Mama sejak kecil. Karena ikatan keluarga dan kedekatan, kami terbiasa memanggilnya ‘kakak’ seperti tradisi banyak keluarga di masa itu. Tapi sebenarnya, kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Aslan hanya seorang laki-laki yang ditinggal sendirian di dunia yang menyesakkan ini.

Aslan harus menerima kenyataan kalau ia ditinggal pergi oleh semua keluarganya dalam satu waktu. Saat itu, semua keluarga besar Aslan hendak berlibur ke luar negeri. Namun, waktu liburan itu hanyalah rencana semata karena kenyataan berkata lain. Pesawat yang mereka naiki, mengalami kecelakaan yang membuat semua nyawa di dalam pesawat itu terenggut begitu saja.

Saat itu, Aslan tidak ikut pergi. Karena ia bersikeras ingin menghabiskan waktu liburannya bersama Mama. Entah ketidakinginan Aslan pergi berlibur dengan keluarganya itu adalah rencana Tuhan untuk mempertemukan kalian berdua, Mama tidak pernah tahu.

Dan sejak kejadian itulah, kakekmu mengangkat Aslan menjadi kakaknya Mama.

Mama juga tidak pernah menyangka hubungan kalian akan berkembang sejauh itu. Tapi jika kau merasa bahwa hatimu mencintainya, maka ketahuilah. Tidak ada dosa dalam cinta yang tidak melukai siapa pun. Tidak ada yang harus kalian takuti jika semua ini datang dari ketulusan.

Maaf karena kebenaran ini tidak bisa Mama sampaikan langsung padamu. Tapi kini, kau bebas dari bayang-bayang yang kau takutkan. Kau bebas untuk mencintai, jika kau masih menginginkannya.

Mama.

Alea tak mampu berdiri.

Dunia yang selama ini terasa salah, mendadak luruh. Semua luka, kekacauan, dan batas-batas dosa yang selama ini menyesakkan dadanya, terasa meleleh seperti beban berlapis yang akhirnya menemukan ujung. Ia menggenggam surat itu erat-erat, air mata mengalir diam-diam di pipinya yang sudah pucat sejak pagi.

Ia mengingat semua hal—tatapan Aslan yang selalu menyimpan gejolak lebih dari sekadar keluarga, pelukan-pelukan larangan, dan malam-malam sunyi penuh penyesalan yang bercampur rindu. Semua itu selama ini ia pikir salah. Namun kini...

“Bukan salah,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Kita memang tidak pernah salah. Hanya tidak tahu kebenarannya.”

Tangannya refleks menyentuh perutnya sendiri, tempat kehangatan baru bersemayam. Lembut, rapuh, tapi penuh harapan.

Satu bulan yang lalu, ia memeriksakan diri karena merasa tubuhnya berbeda. Rasa mual yang datang tak biasa, tubuh yang terasa cepat lelah, dan emosi yang lebih sering naik turun.

Hasilnya positif. Ia hamil.

Seharusnya kabar itu membuatnya panik. Tapi Alea justru merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan—sebuah kedamaian yang mendalam. Seperti segala gempita badai dalam hidupnya mendadak dihentikan oleh satu kehidupan kecil yang tumbuh dalam dirinya.

Kini dua kebenaran berdiri di hadapannya. Dua cahaya yang memandu langkahnya untuk pulang.

Lihat selengkapnya