Dua tahun telah berlalu sejak tangis pertama Aileen mewarnai kehidupan mereka. Dua tahun sejak hidup Alea berubah menjadi lebih dari sekadar istri dari seorang Aslan Julian Candala—ia adalah ibu, sekaligus satu-satunya titik rapuh dari lelaki yang tak pernah mengizinkan siapa pun mendekatinya selain dirinya.
Pagi ini, mentari menyusup lembut ke dalam kamar mereka yang dipenuhi aroma bayi dan parfum khas Aslan. Aileen yang kini berusia dua tahun sedang tertidur pulas di kamar sebelah, dan Alea, dengan mata setengah terbuka, menatap langit-langit kamar sambil mengelus perutnya yang masih rata.
“Positif,” bisiknya pelan. Tangannya menggenggam test pack dengan dua garis merah muda yang tak terbantahkan. Pandangannya kosong. Campuran antara panik dan geli berputar dalam benaknya.
Pintu kamar terbuka pelan. Lelaki itu muncul, lengkap dengan kemeja putih yang sebagian masih belum dikancingkan dan rambut yang sedikit berantakan setelah baru saja selesai bermain dengan Aileen.
"Alea, kamu udah bangun—"
Aslan berhenti sejenak melihat istrinya yang duduk di tepi ranjang dengan wajah campur aduk dan… test pack di tangan.
Ia berjalan cepat, langsung berlutut di hadapan Alea. “Apa itu yang kupikirkan?”
Alea mengangkat wajahnya dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
“Lagi, Mas. Lagi?” katanya, nada suaranya nyaris seperti menggertak, tapi matanya berkaca-kaca.
“Ya Tuhan…” Aslan menghembuskan napas panjang. Lalu ia tertawa kecil, sebuah tawa lirih yang terdengar seperti kelegaan yang sulit dijelaskan.
“Kamu senang?!” Alea nyaris berseru, menyikut bahu suaminya yang kini sudah memeluk pinggangnya erat. “Aku bahkan belum selesai tidur dengan benar sejak Aileen lahir! Kamu pikir aku robot penghasil bayi, Mas?!”
“Aku pikir kamu sempurna,” jawab Aslan ringan, lalu mengusap perut istrinya yang masih datar. “Dan tubuhmu jelas terlalu lemah untuk menolak saat aku menyentuhmu.”
Alea melemparkan bantal ke arah wajah suaminya. “Kamu tidak bisa satu malam saja tidak menyentuhku, Mas? Bahkan saat aku bilang aku capek, kamu bilang, ‘Tapi tubuhmu sudah tahu caranya menyambutku tanpa perlu tenaga’!”
Aslan menyeringai tanpa dosa. “Karena itu benar.”
“Kamu… monster, Mas.”
“Monster yang selalu kembali padamu setiap malam, dan kau tidak pernah menolakku sepenuhnya.”