Empat tahun telah berlalu sejak kelahiran Aileen dan dua tahun telah mereka jalani dengan kehadiran malaikat kecil yang baru, Arsha Julian Candala—anak laki-laki mereka yang selama dua tahun ini telah mengisi rumah mereka dengan tawa renyah dan langkah-langkah mungil. Rumah itu kini tak pernah sepi. Suara tawa anak-anak bersahutan, kadang diiringi rengekan manja, mengisi setiap sudut yang dulu sunyi.
Alea, dengan status ibu dua anak, merasa hidupnya lengkap. Ia mencintai Aslan, mencintai anak-anaknya, dan merasa nyaman dengan ritme kehidupan mereka yang baru.
Suatu malam, setelah kedua anaknya terlelap dan rumah kembali diselimuti ketenangan, Alea dan Aslan duduk di sofa ruang keluarga. Aslan memijat lembut pundak Alea yang terasa kaku setelah seharian mengurus anak-anak.
“Kamu tahu, Sayang,” Aslan memulai, suaranya pelan dan sengaja dibuat merayu, “rumah ini rasanya masih kurang satu.”
Alea mengernyitkan dahi, menoleh menatap Aslan. “Kurang apa? Barang? Perabotan?”
Aslan menggeleng, tersenyum nakal. Ia menunduk, mencium puncak kepala Alea, lalu berbisik di telinganya. “Kurang satu lagi malaikat kecil kita. Kurang satu lagi tawa bayi di rumah ini.”
Seketika, tubuh Alea menegang. Ia menarik diri dari pelukan Aslan. “Mas, jangan bercanda! Dua anak sudah cukup. Aku tidak mau lagi.”
Aslan tersenyum sabar, tatapan matanya mengunci mata Alea. “Kenapa tidak, Sayang? Bukankah menyenangkan memiliki mereka?”
“Menyenangkan, ya. Tapi lelahnya juga luar biasa!” Alea membalas, nada suaranya sedikit meninggi. “Aku tidak mau melewati masa-masa mual dan mengidam lagi. Aku tidak mau begadang setiap malam untuk menyusui lagi. Tubuhku juga… butuh waktu untuk pulih sepenuhnya.”
Aslan meraih tangan Alea, menggenggamnya erat. Ia membawa tangan itu ke bibirnya, mencium punggung tangan Alea perlahan. “Kau tahu aku suka semuanya darimu saat hamil. Termasuk mood swing-mu yang absurd, tangisan tengah malammu, dan nafsumu yang naik dua kali lipat.”
"Mas... serius,” kata Alea, kali ini dengan suara sedikit tegas. “Aku enggak mau hamil lagi. Aku akan pasang KB kalau kamu terus memaksa.”
“Pasanglah,” bisik Aslan di telinganya. “Tapi aku akan tetap tanam bibitku. Sampai yang satu berhasil menembus pertahananmu.”
Aslan mendekatkan wajahnya, hidungnya menyentuh leher Alea, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu memabukkan. “Aku rindu melihatmu dengan perut besar yang seksi, montok, dan berisi. Itu terlihat… sangat indah. Aku rindu membelai perutmu yang bundar di malam hari, merasakan tendangan kecil dari malaikat kita di dalam sana.”