Milik Om Aslan

Jesica Ginting
Chapter #38

Ekstra Chapter~Desahan Tertahan

Dentang kunci di pintu depan menandakan kepulangan Aslan. Kelelahan seharian sirna seketika saat membayangkan sambutan hangat dari Alea. Ia melangkah riang menuju kamar, namun pemandangan di dalamnya membuatnya terpaku di ambang pintu.

Alea, bidadarinya, tengah berbaring di ranjang, hanya dibalut kaus oversize berwarna putih susu yang tampak begitu tipis hingga menerawang siluet tubuhnya. Kaus itu hanya menjuntai hingga pertengahan pahanya yang mulus.

Jantung Aslan berdebar tak karuan saat menyadari tidak ada sehelai kain pun yang menutupi aset kembarnya. Dua puting yang menegang tampak jelas di balik tipisnya katun, seolah menggodanya untuk mendekat dan mengecupnya.

"Sayang..." Suara Aslan tercekat, lebih berupa desahan tertahan. Ia melangkah masuk, matanya tak bisa lepas dari pemandangan di depannya. "Sayang, kenapa kamu... berpakaian seperti ini?" Ada nada posesif yang kental dalam suaranya. "Di rumah ada pekerja, kamu tahu itu."

Alea tersentak kaget, rupanya terlalu hanyut dalam relaksasinya hingga tak mendengar kedatangan Aslan. Ia bangkit duduk, kaus itu sedikit tersingkap, semakin memperlihatkan lekuk tubuhnya.

"Mas sudah pulang?" Ia tersenyum lembut, mencoba meredakan ketegangan di wajah suaminya. "Ini cuma di kamar kok, Mas. Aku nggak mungkin berani keluar kamar begini." Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari Aslan. "Aku enggak pakai bra karena dadaku rasanya penuh sekali. Kehamilan kembar ini benar-benar membuat semuanya jadi dua kali lipat lebih besar dan lebih sensitif."

Aslan menghela napas, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. Ia menarik Alea ke dalam pelukannya, lalu mendudukkannya di pangkuannya. Matanya kembali tertuju pada dua gundukan indah di balik kaus tipis itu. "Tetap saja, Sayang. Aku tidak suka ada mata lain yang melihatmu seperti ini," bisiknya posesif. Senyum nakal mulai terbit di sudut bibirnya. "Sepertinya kamu butuh hukuman manis karena sudah memancing mataku, hm?"

Tangannya mulai menjelajahi punggung Alea, merasakan kelembutan kulitnya. Lalu, perlahan tapi pasti, jemarinya menyusup ke bawah kaus, menyentuh pinggang Alea yang semakin berisi. Sementara bibirnya beralih menciumi bahu Alea, tangannya semakin berani, bergerak menuju batas kaus dan paha mulusnya.

"Mas..." desah Alea tertahan saat merasakan sentuhan Aslan. Ia tahu ke mana arah permainan ini.

Aslan tidak menjawab, bibirnya kini sudah menemukan telinga Alea, membisikkan kalimat-kalimat rindu dan hasrat yang membakar. Tangan kanannya kini sudah berada di bawah kaus, mengelus lembut lekuk pinggul Alea, sementara tangan kirinya bergerak naik, menyentuh sisi payudaranya yang terasa penuh dan kencang.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan, dan suara polos Arsha memecah suasana yang mulai memanas. "Papa? Mama?"

Aslan dan Alea sama-sama terkejut. Aslan segera menarik tangannya dan sedikit menjauhkan diri. Alea dengan cepat menarik kausnya agar lebih menutupi tubuhnya dan ia segera bangkit dari atas pangkuan suaminya itu.

Lihat selengkapnya