Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Senyum di Balik Keramaian

Senyum di Balik Keramaian

Pertemuan singkat membuat Raka terus memikirkan Alya.

Rintik hujan petang itu turun tanpa ampun di atas aspal Cikini, membiaskan cahaya jingga lampu jalanan tua menjadi pecahan kristal yang berpendar temaram. Jakarta sedang berada pada puncak keriuhannya, namun bagi Raka, dunia mendadak menyusut hanya seukuran teras Kedai Kopi Kala—sebuah kedai berdinding bata ekspos dengan aroma sangrai biji arabika dan tanah basah yang menguar pekat ke udara.

Raka merapatkan jaket kanvas kelabunya, berdiri kaku di bawah emperan seng yang tiris. Tangannya menggenggam tabung gambar berisi cetak biru revitalisasi ruang publik yang baru saja ditolak mentah-mentah oleh dewan kurator kota. Kepalanya berdenyut, dipenuhi kebisingan klakson dan kelelahan mental yang menumpuk. Baginya, kota ini telah lama kehilangan jiwa, berubah menjadi mesin raksasa yang dingin dan menuntut kesempurnaan mekanis tanpa ruang bernapas.

Ketika kilat membelah langit kelabu dan guntur berdentum rendah menggetarkan kaca kedai, pintu kayu berdaun ganda berdenting nyaring. Seorang perempuan menerobos masuk dengan napas terengah-engah, memegangi payung lipat kuning cerah yang salah satu rusuknya sedikit patah dihantam hembusan angin kencang. Titik-titik air berhamburan dari mantel katun krem yang dikenakannya, membasahi lantai ubin terakota.

"Maaf, permisi!" seru perempuan itu spontan saat ujung payung basahnya tak sengaja menyenggol lengan kiri Raka.

Raka menoleh dengan kening berkerut dalam, bersiap mengeluarkan gumaman kesal khas warga ibu kota yang penat. Namun, kalimat sinis di ujung lidahnya mendadak terkunci rapat. Perempuan di hadapannya memiliki sepasang mata cokelat jernih yang bersinar lembut di balik helai rambut hitam sebahu yang sedikit basah. Wajahnya tidak memancarkan kecemasan akibat amukan badai; sebaliknya, ada ketenangan aneh yang menular, disusul seulas senyum tipis yang tulus dan sedikit serba salah.

"Payung ini punya kepribadian yang keras kepala kalau berhadapan dengan angin barat," lanjutnya seraya tertawa renyah, sebuah nada riang yang begitu ganjil sekaligus menyejukkan di tengah kemuraman sore Jakarta.

"Biar kubantu kuncinya," kata Raka tanpa sadar. Suaranya serak dan canggung, bahkan terdengar asing bagi telinganya sendiri setelah seharian terbungkam kecewa.

Ia melangkah maju, meraih tangkai payung itu. Selama beberapa detik yang singkat, jemari mereka bersinggungan di atas pegangan kayu yang dingin. Ada getaran listrik halus yang merambat—sebuah kejutan lembut yang seketika membuat pupil mata Raka melebar. Bau samar wangi kertas tua, sentuhan vanila lembut, dan aroma hujan menguar dari pakaian perempuan itu, mendominasi indra penciuman Raka dengan keanggunan tak terduga.

Perempuan itu mengibaskan rambutnya pelan, lalu memperlihatkan map cokelat tebal yang didekap erat di dada agar terhindar dari air. "Terima kasih banyak atas bantuannya. Namaku Alya. Syukurlah kertas arsip sketsa sejarah ini selamat, kalau tidak, reputasi pekerjaanku di lembaga restorasi bisa tamat sore ini."

"Raka. Arsitek perancang kota," jawab Raka seraya mengembalikan payung yang sudah terkancing rapi. "Dan kurasa lembaran berharga itu memang pantas diperjuangkan daripada basah kuyup tersapu genangan air."

Kedai kopi begitu padat oleh pengunjung yang berteduh, memaksa mereka berdiri berdampingan di sudut meja barista kayu jati selama lima belas menit menunggu hujan mereda. Percakapan bergulir tanpa beban kepura-puraan. Alya bercerita tentang arsip peta Batavia abad kedelapan belas dengan binar mata memikat, seolah setiap coretan tinta lampau menyimpan denyut nadi manusia yang nyata. Raka mendapati dirinya menceritakan keresahan batinnya tentang desain bangunan modern yang kerap membunuh sisi kemanusiaan. Alya mendengarkannya dengan perhatian utuh—bukan sekadar basa-basi perkotaan, melainkan tatapan yang sungguh-sungguh meresap setiap kalimat Raka.

Waktu bergulir terlalu tergesa. Hujan mendadak surut menyisakan gerimis tipis. Taksi daring membunyikan klakson panjang di tepi jalan raya, menunjuk plat nomor kendaraan yang cocok dengan layar ponsel Alya.

"Jemputanku sudah tiba," kata Alya tergesa seraya merapikan mantelnya. Ia melangkah menuju pintu, lalu menoleh sekali lagi ke arah Raka seraya tersenyum hangat—senyuman tulus yang menembus keputusasaan di dada Raka. "Senang bertukar pikiran denganmu, Raka. Semoga kotamu segera menemukan kembali jiwanya yang hilang."

Alya bergegas menembus gerimis, masuk ke dalam mobil yang melaju membelah kemacetan Cikini. Raka terpaku di tempatnya, menatap kepergian mobil itu dengan detak jantung berdegup ganjil. Pertemuan singkat itu hanya berlangsung seperempat jam, namun di dalam dada Raka, sebuah riak tak kasat mata telah menjelma menjadi gelombang dahsyat yang sangat meruntuhkan seluruh benteng pertahanan dirinya.

°˖✧✿✧˖°

Malam itu di apartemen studio berantakannya di kawasan Salemba, Raka sama sekali tidak mampu memejamkan mata. Dinding kamarnya yang dipenuhi tempelan kertas kalkir, potongan maket kayu balsa, dan sketsa rancang bangun struktur beton mendadak terasa begitu hampa serta menyesakkan rongga dada. Setiap kali ia mencoba merebahkan kepalanya di atas bantal, yang berputar di pelupuk matanya bukanlah revisi kolom pondasi atau kalkulasi sudut pencahayaan gedung, melainkan kilatan mata cokelat Alya yang berbinar teduh dan cara bibir perempuan itu melengkung indah saat mengutarakan pentingnya menghidupkan kembali memori manusia di setiap sudut ruang kosong perkotaan.

Raka bangkit dari kasurnya yang berderit pelan, menyeduh secangkir kopi hitam tanpa gula pada pukul dua dini hari untuk mengusir rasa kantuk yang tak kunjung berbuah lelap. Ia membuka ritsleting tabung gambarnya untuk melanjutkan pekerjaan meja yang terbengkalai. Namun, ketika tangannya merogoh saku dalam tas selempang kulitnya guna mengambil penggaris skala baja, jemarinya membentur sebuah benda bersudut tumpul dengan tekstur sampul yang terasa asing.

Sebuah buku saku bersampul kain linen abu-abu lembut dengan pita pembatas beludru biru tua.

Raka menahan napasnya sejenak. Benda itu jelas bukan miliknya. Buku catatan saku itu pasti terselip masuk saat mereka berdua merapikan map di atas meja kedai kopi yang sempit kemarin sore. Dengan jemari yang sedikit bergetar oleh debaran rasa ingin tahu, Raka membuka halaman sampul depan. Di sana tergores kaligrafi tangan yang anggun menggunakan tinta sepia: *Alya Azzahra Maharani — Catatan Konservasi & Rekonstruksi Memori Ruang*.

Halaman-halaman berikutnya memuat goresan pena puitis mengenai gedung cagar budaya di kawasan Kota Tua, potongan foto hitam-putih jalanan kolonial Batavia, serta sketsa detail fasad neoklasik yang digambar dengan ketelitian luar biasa. Namun, pada lembar paling belakang yang tintanya tampak masih baru, terdapat catatan ringkas: *Kedai Kopi Kala, petang yang basah. Percakapan tak terduga dengan seorang arsitek muda yang matanya menyimpan kelelahan peradaban.*

Tepat di balik lipatan lembar tersebut, terselip selembar kartu inventaris kuratorial Galeri Seni Cipta Ruang di bilangan Menteng, lengkap dengan jadwal pembukaan pameran arsip tertutup yang direncanakan berlangsung tiga malam lagi.

Raka menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi kerja dengan napas berhembus panjang. Pertemuan lima belas menit itu kini telah bertransformasi menjadi simpul misteri yang tak mungkin ditepis. Kehadiran buku catatan ini bukan lagi kebetulan remeh yang bisa lenyap bersama tidur malam. Rasa penasaran itu telah berkobar menjadi tekad yang membakar; ia harus melangkah keluar dari zona nyamannya, mencari Alya, dan membuktikan apakah getaran di dadanya hanyalah ilusi sesaat atau takdir yang kini memanggil namanya.

°˖✧✿✧˖°

Kenyataan hidup menghantam Raka tanpa ampun keesokan paginya di kantor firma arsitektur tempatnya bekerja. Ruang rapat lantai delapan berbau pendingin udara yang menusuk dan aroma tegang dari cangkir kopi yang mendingin. Pak Hendra, mitra senior sekaligus penyandang dana utama proyek revitalisasi Pasar Harmoni, menghempaskan bundel revisi denah ke atas meja marmer dengan suara bantingan keras yang memekakkan telinga.

"Ini bukan karya arsitek komersial yang waras, Raka! Desainmu terlalu sentimental, terlalu banyak menyisakan ruang terbuka publik tanpa nilai monetisasi!" hardik Pak Hendra seraya menunjuk layar proyektor dengan pulpennya. "Investor menuntut kepastian luas lantai sewa gerai yang padat modal, bukan teras renungan puitis yang tak menghasilkan laba sepeser pun bagi perusahaan! Kalau dalam empat puluh delapan jam ke depan kamu tidak memangkas konsep idealis ini menjadi denah kios yang efisien, aku akan mencopot posisimu sebagai ketua tim perancang dan menyerahkannya kepada Rendy tanpa kompromi lagi sedikit pun."

Semua staf muda di ruangan itu menunduk bisu menatap buku catatan masing-masing, takut tersulut kemarahan bos besar. Raka mengepalkan kedua tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Di dalam batinnya berkecamuk perang hebat: menuruti kemauan pasar berarti mengkhianati nurani luhurnya, tetapi membangkang berarti menghancurkan karier yang telah ia bangun dengan cucuran keringat dan air mata selama bertahun-tahun lamanya di ibu kota Jakarta.

Saat jam istirahat di pantry kantor, Dimas, sahabat karibnya sejak kuliah, melangkah mendekat menyodorkan sekaleng minuman dingin segar. Pandangan Dimas tertuju pada lingkaran hitam di bawah mata Raka, lalu beralih pada buku saku kain abu-abu berharga milik Alya di samping laptop kerjanya yang masih menyala terang benderang.

"Fokusmu buyar sejak kemarin, Ka. Matamu terus melamun menatap jendela luar," tegur Dimas cemas bercampur gusar. "Aku paham kamu tertekan oleh gertakan Pak Hendra, tapi jangan bilang kamu mempertaruhkan segalanya hanya karena terus memikirkan perempuan berpayung kuning yang kamu jumpai di kedai kopi kemarin?"

Raka menarik napas panjang yang terasa menyengat di paru-parunya. "Buku ini jiwanya, Dim. Dia konservator cagar budaya yang tulus. Cara pandangnya membangkitkan impian murni yang dulu sempat kita agungkan bersama semasa mahasiswa."

Lihat selengkapnya