
NAMA YANG INGIN KUKETAHUI
Tema: Raka mencari tahu siapa gadis yang telah menarik perhatiannya
Hujan deras di pertengahan bulan November selalu membawa aroma basah aspal dan kesunyian yang khas ke lantai dua Perpustakaan Pusat. Di ruangan berplafon tinggi dengan deretan jendela lengkung bergaya art deco tersebut, Raka duduk menekuri buku referensi struktur beton bertulang yang sejak dua jam lalu halamannya hampir tidak bergerak. Gemercik air yang menghantam kaca patri tidak mampu mengaburkan pandangannya dari sebuah meja kayu jati panjang bernomor empat belas, persis di dekat rak ensiklopedia botani. Di meja itulah, seorang gadis dengan mantel wol abu-abu muda dan syal kasmir nila telah menghabiskan waktu sejak pagi, tenggelam dalam konsentrasi yang begitu memikat pandangan siapa pun yang lewat di lorong itu.
Bagi Raka, yang terbiasa hidup teratur di balik penggaris segitiga, kalkulator ilmiah, dan garis-garis presisi rancangan arsitektur, gadis itu tampak seperti lukisan cat air yang hadir tanpa sengaja di tengah cetak biru yang kaku. Selama berminggu-minggu sebelumnya, Raka hanya sempat menangkap kilasan sosoknya secara sepintas—sosok yang melangkah gesit melintasi halaman berbatu dengan payung berwarna nila pekat, atau gadis yang duduk tenang di bangku taman dekat kolam teratai sambil menggoreskan sesuatu ke dalam buku sketsa bersampul kulit tua. Namun hari ini, dalam jarak hanya berselang tiga meja panjang di ruang baca yang lengang, Raka bisa melihat wajahnya dengan cukup jelas: rambut hitam bergelombang yang diikat longgar menggunakan jepit kayu cemara, rahang yang tegas namun lembut, serta sepasang mata teduh yang selalu menatap lembaran kertas dengan kilau kesungguhan yang tak biasa.
Ketika lonceng dinding berdentang tiga kali menandakan pukul tiga sore, dengung pelantang suara perpustakaan berbunyi mendadak, mengumumkan bahwa seluruh lantai atas harus segera dikosongkan karena rembesan air atap kubah barat yang membahayakan koleksi manuskrip kuno. Kepanikan kecil merambat cepat di antara puluhan mahasiswa yang sibuk mengemasi buku, laptop, dan gulungan kertas kalkir mereka. Gadis bermantel abu-abu itu tersentak kaget. Dengan gerakan tergesa-gesa yang tampak cemas, ia merapikan map-map tebalnya, memasukkan kotak cat air ke dalam tas kanvas, lalu mengalungkan payung nilanya yang masih lembap di pergelangan tangan. Dalam ketergesaan menyusuri lorong di antara rak-rak kayu jati yang berderit, siku tasnya menyenggol tepi meja kayu nomor empat belas.
Sebuah benda terjatuh ke lantai tanpa suara yang terdengar di tengah riuh langkah kaki mahasiswa yang berhamburan pergi. Benda itu meluncur pelan ke bawah kolong rak referensi sejarah arsitektur. Gadis itu tidak menyadarinya sama sekali dan terus melangkah keluar tergesa-gesa, menghilang di balik pintu kaca buram menuju tangga sayap timur. Raka yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya spontan bangkit berdiri dari kursinya. Naluri membimbing langkah kakinya mendekati meja nomor empat belas yang kini telah kosong melompong. Ia berlutut di lantai parket yang dingin dan mengulurkan tangan ke celah sempit di bawah rak kayu. Jemarinya menyentuh permukaan kulit tebal yang terasa bertekstur halus, diikat dengan seutas tali rami tipis berpita simpul perunggu kuno yang tampak sangat antik.
Sebuah buku sketsa eksklusif berukuran folio tebal. Ketika Raka mengangkatnya ke atas meja dan membuka ikatannya perlahan dengan rasa hormat yang mendalam, napasnya tertahan dan matanya terbelalak tak percaya. Halaman-halaman kertas katun tebal itu dipenuhi dengan lukisan arang dan sapuan tinta Cina yang sangat memukau: visualisasi restorasi rumah kaca botani dan katedral tua kota pusaka yang dipadukan secara harmonis dengan konsep taman gantung modern. Setiap arsiran memiliki kedalaman arsitektural yang matang, bukan sekadar imajinasi amatir, melainkan rancangan berkelas mahakarya sejati. Di sudut kanan bawah halaman pertama, tertera sebuah tulisan tangan anggun bertinta ungu lembayung: "Batas Akhir Penyerahan Berkas Seleksi Utama Sayembara Konservasi — Hari Ini Pukul 17.00 WIB". Di bawahnya hanya tergores inisial misterius yang membakar rasa ingin tahunya: "D.A."
Jantung Raka berdegup kencang bagai dentuman drum perang. Jam tangannya menunjukkan pukul 15.15 WIB. Jika buku ini tidak kembali ke tangan pemiliknya dalam waktu kurang dari dua jam, impian besar gadis itu dipastikan gugur tanpa sempat dinilai oleh dewan kurator. Peristiwa penemuan buku sketsa ini menyalakan percikan tekad dalam jiwa Raka, meruntuhkan kebiasaannya yang pasif, dan memaksanya melangkah ke dalam pencarian tak terduga yang mengubah seluruh ketenangan hidupnya di dalam hatinya sendiri.
°˖✧✿✧˖°
Raka menarik napas panjang, menatap pintu kaca perpustakaan yang basah oleh tempias air hujan lebat. Pilihan paling mudah dan aman adalah menyerahkan buku sketsa kulit berharga itu ke meja penitipan barang hilang di lantai dasar, lalu pulang ke kosnya dengan tenang tanpa menanggung beban apa pun. Namun, Raka mengenal betul kebiasaan ceroboh petugas piket sore di sana; barang-barang tertinggal kerap teronggok di laci berdebu selama berminggu-minggu tanpa pernah diumumkan. Jika ia membiarkan prosedur birokrasi yang lamban itu berjalan, impian pemilik inisial D.A. akan terkubur sebelum matahari terbenam.
"Tidak. Aku yang menemukannya, dan aku yang harus mengembalikannya langsung," gumam Raka mantap seraya merapatkan jaket denimnya. Ia memasukkan buku tebal itu ke dalam tas ransel antiair miliknya dengan sangat hati-hati. Keputusan itu menandai titik balik yang nyata: ia tidak lagi menjadi pengamat yang pasrah dari kejauhan, melainkan pelaku aktif yang sengaja melompat ke dalam pusaran masalah demi menolong seseorang. Langkah pertamanya membimbingnya menuruni tangga menuju selasar beratap kantin sastra, tempat Bayu—sahabat karibnya dari Teknik Geodesi yang memiliki pergaulan seluas samudra antarfakultas—sedang asyik mengunyah roti bakar sambil memeriksa lembaran peta kontur tanah.
"Bay, tolong lihat ini sebentar," ujar Raka seraya menyodorkan sampul dalam buku itu tanpa menunjukkan keseluruhan lembar kerja rahasianya. Bayu mengernyitkan dahi, mengamati cap timbul berbentuk daun pakis bertumpuk jangka sorong di sudut lipatan kertas. Mata Bayu seketika membulat penuh minat besar. "Gila, Ka! Ini lambang Studio Desain Cagar Budaya milik Jurusan Arsitektur Lanskap di Gedung Merah. Mahasiswa biasa tidak mungkin memegang cap resmi ini kecuali mereka asisten riset proyek restorasi tingkat akhir. Dan tunggu dulu... dari mana kamu mendapatkan buku sekeren ini? Jangan bilang kamu mulai beralih profesi menjadi pencuri barang seni antik kampus?"
"Ini milik seorang mahasiswi yang tertinggal di perpustakaan barusan. Dia sangat membutuhkan buku ini sebelum jam lima sore untuk seleksi sayembara utama," sahut Raka tegas, mengabaikan gurauan konyol sahabatnya. Melihat sorot mata Raka yang tak pernah segigih ini sepanjang tiga tahun masa kuliah mereka, senyum jahil di wajah Bayu berganti menjadi raut keseriusan penuh. "Kalau begitu jangan membuang waktu lagi di sini, Kawan. Gedung Merah sayap timur biasanya dipakai mahasiswa studio perancangan utama. Tapi berhati-hatilah, hari ini suasananya sedang sangat panas karena seleksi final sayembara rektorat." Tanpa ragu sedetik pun, Raka bergegas menerobos gerimis yang dingin, menyeberangi lapangan rumput terbuka menuju bayang-bayang bata merah Gedung Arsitektur demi mencari jejak gadis pemilik buku tersebut sekarang juga dengan penuh keyakinan dan tekad bulat yang membakar jiwa di dadanya.