Pertemuan Kedua
Takdir mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang tidak terduga.
Hujan lebat mengguyur atap seng Danasmara Heritage Atelier tanpa jeda, menenggelamkan bising jalanan kota Jakarta di pengujung malam yang dingin. Raka mengusap wajahnya yang letih setelah berjam-jam memelototi tumpukan lembaran cetak biru era kolonial di atas meja kayu.
"Mas Raka, masih mau bertahan lembur di sini?" tanya Dimas sambil merapatkan resleting jaketnya. "Jalanan Harmoni mulai tergenang air setinggi betis, Mas. Kalau Mas Raka tidak pulang sekarang, motormu pasti mogok terendam banjir."
Raka menatap asisten magangnya seraya menggeleng pelan. "Aku harus menunggu kurator utusan konsorsium cagar budaya, Dim. Pak Hendra berpesan bahwa berkas verifikasi struktur lantai atas harus diserahkan sebelum fajar."
"Tapi kenapa yayasan itu mengirim kurator malam-malam begini?" gumam Dimas seraya menyampirkan ranselnya ke pundak. "Bukankah jadwal serah terima resminya baru besok siang di balai kota?"
"Katanya ada perwakilan dewan pembina baru yang ingin memastikan dokumen fisik tidak dimanipulasi kontraktor," sahut Raka tenang, menata kertas kalkir di meja mahoni. "Pulanglah lebih dulu, Dim. Kamu sudah lembur dua malam berturut-turut tanpa istirahat cukup."
"Baiklah kalau begitu. Kuncinya kutitipkan di laci depan ya, Mas?" pamit Dimas seraya melangkah keluar. "Hati-hati, kabarnya kurator baru utusan yayasan itu sangat kaku dan berdarah dingin."
"Terima kasih atas peringatanmu," balas Raka tersenyum tipis. "Aku sudah terbiasa menghadapi kurator yayasan yang gemar menuntut kesempurnaan di atas kertas tua."
Pintu jati berderit berat saat Dimas melangkah keluar, lalu tertutup rapat meninggalkan sunyi yang pekat. Raka menuang sisa kopi hitam dingin ke cangkir enamel seng, menyesapnya perlahan. Tiba-tiba engsel pintu depan kembali berderit, disusul suara gesekan payung basah yang dikuncupkan terburu-buru.
"Pintunya tolong dirapatkan kembali," ujar Raka tanpa menoleh, jemarinya sibuk menindih sudut kalkir dengan mistar kuningan. "Hembusan angin luar bisa menerbangkan denah rapuh ini."
"Kait grendelnya macet terkena karat," sebuah suara perempuan menyahut dari arah pintu masuk.
Dunia Raka mendadak berhenti berputar seketika. Udara di sekitarnya terasa hampa dan membeku kaku. Ia mengenali intonasi lembut bergetar itu—suara yang pernah mengisi hari-harinya selama lima tahun sebelum mendadak lenyap tanpa jejak tiga tahun silam.
Raka mengangkat kepalanya perlahan dengan napas tercekat di tenggorokan.
Di ambang pintu, seorang perempuan berdiri dengan mantel cokelat karamel yang basah kuyup di bagian pundak. Rambut hitam sebahunya membingkai wajah tirus berpipi pucat. Sepasang mata bulat bening itu membelalak lebar, memancarkan keterkejutan yang sama dahsyatnya saat tatapan mereka beradu di bawah temaram lampu meja.
"Alya...?" bisik Raka tercekat, nyaris tak mempercayai penglihatannya.
Payung lipat hitam di genggaman Alya terlepas dan membentur lantai ubin terakota. "Raka? Kamu... kamu arsitek konservasi di studio ini?"
"Harusnya aku yang melontarkan pertanyaan itu padamu," ucap Raka dengan suara parau yang sarat getaran emosi tertahan. "Kenapa kamu bisa berdiri di ruangan ini?"
"Konsorsium menugaskanku memeriksa kelengkapan arsip cagar budaya malam ini," sahut Alya gugup seraya memungut payungnya yang basah di lantai. "Pihak yayasan cuma menyebut nama biro Adhirajasa, bukan namamu."
"Adhirajasa adalah nama kakekku," timpal Raka datar, menatap perempuan itu tanpa berkedip. "Dan aku penanggung jawab penuh restorasi di gedung tua ini."
Alya terdiam kaku, jemarinya meremas tali tas kulitnya erat-erat. "Aku bersumpah tidak tahu kalau kamu yang memimpin proyek ini, Raka. Kalau tahu sejak awal, aku pasti menolak penugasan ini."
"Kenapa harus menolak?" desak Raka melangkah setapak mendekat, menatap mata Alya yang berkilat cemas. "Takut melihat orang yang kamu campakkan di pelataran Stasiun Bandung tiga tahun lalu tanpa sepatah kata pamit?"
"Tolong, Raka," bisik Alya gemetar seraya memalingkan pandangannya ke arah deretan rak arsip. "Jangan bicara seperti itu di sini. Aku datang ke sini murni untuk menjalankan tugas profesional yayasan."
"Profesional?" Raka mendengus getir. "Bagaimana mungkin kita bisa bersikap profesional di saat luka yang kamu tinggalkan masih bernanah di dadaku?"
"Aku mohon padamu, jangan ungkit masa lalu sekarang," pinta Alya dengan nada memohon yang amat rapuh. "Beri aku dokumen yang harus kuperiksa malam ini, lalu aku akan segera pergi."
"Kamu tidak bisa pergi ke mana-mana, Al," potong Raka dingin sambil menunjuk ke arah jendela kaca. "Badai di luar menenggelamkan jalanan kota, dan kita terkunci berdua di gedung tua ini sampai pagi."
°˖✧✿✧˖°
Alya menarik napas panjang, berusaha meredakan debaran liar di dadanya. Ia meletakkan payung basahnya ke dalam ember seng di samping pintu, lalu membuka kancing mantelnya dengan jemari yang masih bergetar hebat. Di balik mantel basah itu, kemeja putih gadingnya tampak bersahaja namun kusut di bagian pergelangan tangan.
"Kalau kehadiranku di sini membuatmu terganggu, Raka, aku bisa menelpon sekretariat yayasan sekarang juga untuk meminta kurator pengganti besok pagi," kata Alya pelan, memasang dinding pertahanan yang kaku.
"Meminta kurator pengganti besok pagi?" Raka tersenyum sinis, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Batas waktu verifikasi struktur adalah pukul delapan pagi. Kalau kurator tidak meneken berita acara malam ini, seluruh dana pemugaran dibekukan yayasan. Kamu pikir gedung bersejarah ini peduli pada drama masa lalu kita?"
Alya tersentak mendengar teguran ketus itu. Ia melangkah ke meja kerja mahoni, meletakkan map kulit hitam tebal berstempel lambang emas konsorsium.
"Aku bukan anak kecil yang mencampuradukkan urusan pribadi dengan tanggung jawab profesional, Raka," sahut Alya tegas, berusaha menutupi kegelisahan jiwanya. "Mari kita periksa berkasnya secara objektif tanpa prasangka buruk."
"Baguslah kalau kamu sudah sedewasa itu sekarang," sindir Raka dingin sambil menarik kursi putar kayu untuk Alya. "Kupikir hobi melarikan dirimu dari kenyataan belum pernah sembuh sejak hari itu."
"Bisakah kamu berhenti menyindirku terus-menerus?" desis Alya seraya duduk di kursi dan membuka map tebal itu. "Kita punya tiga puluh dua berkas arsip yang harus dicocokkan dengan gambar kerjamu sebelum fajar menyingsing tiba."
"Tentu, Nona Kurator," sahut Raka membungkuk untuk menyalakan lampu meja kerja tambahan.
Saat jemari Raka menyentuh saklar lampu, sorot matanya seketika terpaku pada kilau benda asing di jari manis tangan kiri Alya. Sebuah cincin bertatahkan batu safir biru berkilau dingin di bawah cahaya lampu kerja.
"Cincin yang sangat mewah," celetuk Raka dengan intonasi tajam menusuk. "Jauh lebih berkilau dibanding cincin perak berpahat semanggi yang dulu pernah kita beli di pinggir jalan Braga."
Alya membeku kaku di atas lembaran kalkir. "Tolong, jangan bicarakan hal-hal yang sudah lama terkubur, Raka."
"Siapa pria itu, Al?" tanya Raka menghunjam tatapan matanya. "Apakah dia alasan kenapa kamu membuangku tiga tahun lalu seperti sampah tak berharga?"
"Fokus pada pekerjaanmu, Raka!" bentak Alya dengan suara bergetar menahan air mata yang mendesak pelupuk matanya. "Aku datang ke sini sebagai kurator pemeriksa dokumen, bukan terdakwa di ruang sidang pribadimu!"
"Baik," jawab Raka getir seraya menghempaskan tumpukan denah ke hadapan Alya. "Mari kita selesaikan tugas konyol yayasanmu ini sekarang juga agar kamu bisa segera pergi dari hadapanku."
°˖✧✿✧˖°
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan arsip tua itu. Suara gesekan pena tinta Alya yang mencatat nomor registrasi arsip bersahut-sahutan dengan desis mistar baja milik Raka di atas meja. Tak ada sapaan ramah, hanya istilah teknis kaku yang terlontar seperlunya bagai dua orang musuh yang dipaksa berbagi meja kerja di dalam benteng terkunci.
"Denah sayap utara lantai mezzanine," ujar Alya tanpa mengangkat wajahnya, menunjuk sketsa tinta sepia. "Inventaris yayasan mencatat pembongkaran dinding pada tahun 1974. Mengapa di analisismu dinding itu dipertahankan sebagai dinding struktural utama?"
"Konsultan yayasanmu keliru membaca struktur Hindia Belanda," sergah Raka menunjuk arsir merah pada gambar tampak samping. "Dinding itu memikul beban kubah tengah. Kalau dibongkar kontraktor demi aula pesta, kubah berumur seabad itu runtuh menimpa lantai bawah."