Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Percakapan Pertama

Gemuruh petir membelah langit petang di atas Jalan Braga dengan tiba-tiba, menumpahkan hujan deras tanpa aba-aba yang cukup bagi para pejalan kaki yang panik mencari naungan. Aspal legam yang semula menghangatkan tapak sepatu seketika terendam tempias dingin yang menusuk hingga ke tulang. Raka mempercepat langkahnya, merapatkan jaket kanvas hijau lumut yang mulai basah kuyup pada bagian pundak dan pergelangan tangan. Tas ransel kulit yang memuat buku sketsa dan laptop tua ia dekap erat di dada seperti seorang penjaga pusaka yang ketakutan kehilangan hartanya. Di hadapannya, trotoar telah berubah menjadi aliran air kelabu yang deras, memantulkan neon kuning toko-toko tua yang mulai menyala redup melawan kegelapan sore yang pekat.

Tanpa sempat berpikir panjang, Raka mendorong pintu kayu jati sebuah kedai buku kecil bercampur kedai kopi yang terhimpit di antara toko kamera analog dan penjahit jas klasik zaman kolonial. Gemerincing lonceng kuningan di atas pintu berdenting pelan, menyambut kedatangannya dengan aroma hangat yang kontras: wangi kertas lawas yang menguning, bubuk kopi sangrai arabika, serta samar seduhan kayu manis yang menenangkan batin. Di dalam, udara begitu senyap dan damai, hanya diisi oleh gesekan pelan sol sepatu di atas ubin tegel bermotif kawung dan derai hujan yang menghantam jendela kaca depan dengan ritme tak beraturan yang meneduhkan jiwa.

Raka menghela napas panjang sembari mengusap bulir air yang menetes dari ujung poninya yang lembap. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan yang padat oleh rak-rak kayu menjulang tinggi hingga ke langit-langit berukir. Hampir semua meja kecil berpenutup taplak kotak-kotak cokelat telah terisi penuh oleh orang-orang yang juga melarikan diri dari serbuan badai sore itu. Sebagian tampak khusyuk mengetik di laptop, sebagian lain terbenam dalam novel tebal dengan cangkir porselen antik yang tinggal menyisakan ampas hitam pekat. Hanya ada satu kursi tersisa di bagian sudut paling belakang, tepat di samping rak bernomor katalog tujuh puluh empat yang memuat buku-buku arsitektur kolonial dan seni rupa nusantara yang jarang disentuh orang.

Di seberang meja bundar kecil itu, duduk seorang perempuan muda dengan kemeja katun bergaris biru pudar yang lengannya digulung longgar hingga siku. Rambutnya diikat asal dengan jepit kayu bermotif daun ginkgo, menyisakan beberapa helai lembut yang jatuh membingkai pipinya yang tenang. Di hadapannya berserakan tumpukan kartu pos tua, beberapa kaca pembesar saku, penggaris logam tipis, dan sebuah buku catatan bersampul kain linen abu-abu yang tampak sangat sering dibuka. Perempuan itu begitu terserap dalam pekerjaannya—meneliti detail goresan tinta pada selembar kertas peta tua—sehingga nyaris tidak menyadari kehadiran Raka yang berdiri canggung beberapa langkah di samping mejanya.

“Permisi... apakah kursi di sudut ini kosong dan boleh kutempati?” suara Raka terdengar serak, teredam denting sendok teh dari meja tetangga.

Perempuan itu tersentak pelan, mengangkat kepalanya perlahan dari atas meja. Sepasang mata jernih berwarna cokelat gelap menatap Raka dengan tatapan waspada yang cepat, sebelum tatapan itu melembut saat melihat tetesan air dari jaket Raka yang menetes ke lantai tegel. “Oh. Silakan duduk. Tidak ada orang lain di sini,” jawabnya singkat dengan nada suara tenang, hampir terdengar seperti bisikan di perpustakaan sunyi.

Raka mengangguk lega dan menarik kursi kayu berkaki ramping tersebut dengan hati-hati. Namun, gerakannya yang tergesa membuat tas ranselnya yang berat menyenggol sudut meja bundar yang goyah. Dalam hitungan detik, buku catatan linen abu-abu di tepi meja meluncur jatuh ke lantai, disusul tiga lembar kartu pos reproduksi sketsa arsitektur tua yang melayang bebas sebelum mendarat tepat di atas ujung sepatu kanvas basah Raka. Udara di antara mereka membeku seketika.

Hati Raka berdesir cemas melihat lembaran berharga itu terancam terkena cipratan air hujan. Matanya membulat panik, sementara perempuan di depannya menahan napas dengan kedua tangan terangkat setengah di udara, terpaku menyaksikan tumpukan risetnya berserakan. Kilatan petir menyambar di balik mendung tebal, menerangi wajah mereka berdua yang sama-sama terperanjat di antara keheningan jajaran buku-buku berdebu yang setia menjadi saksi awal perjumpaan tak terduga ini. Detik-detik terasa merayap lambat di hadapan takdir pertemuan, sementara aroma kertas lembap dan kopi pekat mengepung mereka berdua dalam kecanggungan yang menuntut sebuah kata maaf yang tulus dan segera terucap lembut.

°˖✧✿✧˖°

“Maafkan saya! Sungguh, saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Raka tergesa sembari langsung berlutut dengan satu kaki di atas lantai tegel yang dingin untuk memungut lembaran-lembaran yang jatuh itu. Jarinya yang masih kaku oleh dingin menyentuh permukaan kertas kartu pos bertekstur kasar. Namun, saat tatapannya menyapu permukaan gambar di kartu pos teratas, jemarinya terhenti seketika karena rasa takjub mendalam yang mengejutkannya.

Itu bukan kartu pos cetakan pabrik modern, melainkan cetak saring berbobot tebal yang menampilkan sketsa tinta monokrom sebuah gang buntu di kawasan pecinan kota lama. Sudut pandang gambarnya sangat ganjil namun intim: sebuah perspektif mata cacing yang menonjolkan lentera tembaga berkarat tergantung di bawah kanopi kayu lapuk, di mana bayangan genting saling bertumpuk dengan kerapuhan yang puitis. Raka mengenal sudut gang itu luar dalam; itu adalah tempat persembunyian rahasianya sendiri saat ia merasa kepalanya terlalu penuh oleh tuntutan pekerjaan kantor rancang bangun tempatnya bekerja sehari-hari.

“Gang Belakang Pasar Baru, tepat di samping dinding kelenteng tertua?” gumam Raka tanpa sadar, suaranya dipenuhi keterkejutan yang tulus sebelum akal sehatnya sempat menahan kata-kata spontan itu.

Perempuan di hadapannya yang baru saja hendak membungkuk meraih kartu pos itu menghentikan gerak tangannya di udara. Alisnya terangkat tinggi, matanya melebar dengan kilatan heran bercampur ketertarikan yang tak disangka sama sekali olehnya. “Kamu tahu tempat itu?” tanyanya, suaranya kini kehilangan nada formalitas dingin yang tadi menyelimutinya.

“Tentu saja tahu,” jawab Raka sembari berdiri tegak dan menyerahkan kartu pos itu dengan kedua tangan penuh kehati-hatian, memastikan pinggirannya tidak tertekuk sedikit pun. “Hampir tidak ada orang yang memperhatikan lekukan konsol kayu di bawah atap lentera itu. Sebagian besar orang hanya memotret gerbang merah utama di depan jalan raya. Tapi sketsa ini menangkap retakan plester semen di dinding selasar timur dengan sangat presisi dan jujur. Perspektifnya berani sekali dan sungguh bernyawa.”

Perempuan itu menerima kartu pos tersebut. Ujung jarinya tak sengaja bersentuhan dengan jemari Raka yang dingin, mengirimkan sensasi hangat yang singkat namun sangat membekas. Ia tersenyum tipis—sebuah senyuman kecil yang mengubah seluruh garis tegas di wajahnya menjadi ramah. “Kebanyakan orang menganggap itu gambar tumpukan sampah dan dinding kusam yang jelek,” katanya pelan. “Namaku Alya. Dan sketsa itu bukan karyaku, melainkan catatan lapangan yang sedang kupulihkan untuk arsip komunitas sejarah kota ini.”

“Aku Raka,” sahutnya sembari duduk kembali di kursinya, merasakan beban letih di pundaknya mendadak terasa jauh lebih ringan saat pandangan mereka berdua saling bertaut untuk pertama kali dengan ketulusan yang sama persis tanpa perlu kepura-puraan di antara keduanya.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya