Gadis yang Ramah
Raka mengetahui bahwa Alya bukan hanya cantik, tetapi juga ramah dan berbudi bahasa.
Langit di atas atap pelataran Perpustakaan Wilayah mendadak legam, seolah ditumpahi tinta jelaga pekat sebelum jarum jam menyentuh angka empat sore. Hembusan angin basah menyapu kencang dedaunan trembesi, menerbangkan debu-debu kering di tangga marmer beranda. Raka bergegas mendekap tas ransel kanvasnya ke dada, melindungi bundel manuskrip sejarah lokal yang baru saja ia pinjam agar tidak terpercik tetesan air hujan pertama yang mulai berdentang liar di atas seng atap pelindung.
"Hujan lebat lagi sore ini," gumam Raka seraya menyeka peluh tipis di keningnya.
"Iya, Nak Raka. Sebaiknya jangan nekat menerobos dulu, anginnya kencang sekali," tegur Pak Darmo, penjaga kebersihan perpustakaan yang sudah berambut kelabu, sembari mendorong troli besi berisikan tumpukan kardus berisi buku sirkulasi lama yang hendak dipindahkan ke gudang belakang.
Raka menoleh ramah. "Betul, Pak. Lebih baik menunggu sampai reda sedikit. Ada yang perlu saya bantu angkat ke teras dalam?"
"Ah, tidak usah, Nak. Ini cuma tinggal satu kardus terakhir, biar Bapak dorong pelan-pelan," jawab pria tua itu tersenyum ramah di balik kerutan wajahnya.
Namun, takdir sore itu bergerak lebih cepat daripada langkah renta sang penjaga. Tepat ketika roda troli terantuk celah lantai semen yang retak, hembusan angin puting beliung kecil menyambar dari arah halaman depan. Kardus paling atas yang berbobot lumayan berat tergelincir, jatuh menghempas ke anak tangga terbuka tepat saat curahan air hujan turun seperti tirai air terjun.
"Astagfirullah!" seru Pak Darmo panik, kedua tangannya gemetar berusaha menahan troli agar tak ikut terbalik.
Raka bersiap melompat turun menerobos hujan deras demi memungut buku-buku yang terancam basah kuyup. Akan tetapi, bayangan sebatang payung kain berwarna biru muda lembut mendadak melintas di depan matanya dengan gerak gesit. Sosok itu bukan petugas keamanan, melainkan Alya. Gadis yang selama satu semester ini menjadi buah bibir di seantero fakultas, sosok yang kerap dijuluki 'bidadari berpagar kaca' karena kecantikannya yang memukau namun selalu dianggap terlalu anggun dan angkuh untuk diajak bicara oleh mahasiswa biasa.
Tanpa sekejap pun memedulikan cipratan lumpur jalanan yang mencoreng ujung rok plisket kremnya, Alya membungkuk rendah di bawah guyuran hujan lebat. Tangan kanannya dengan sigap menegakkan payung tepat di atas kepala Pak Darmo, sementara tangan kirinya yang ramping mengangkat kardus buku yang sudah separuh basah.
"Bapak jangan panik, biar Alya yang bawa kardus ini ke dalam," ucap Alya lembut, suaranya tenang tanpa nada mengeluh sedikit pun di tengah deru hujan.
Pak Darmo terbata-bata menatap gadis itu. "Ya ampun, Neng Alya... Jangan, Neng! Baju Neng nanti basah kuyup semua! Biar si bapak saja—"
"Tidak apa-apa, Pak Darmo. Buku-buku ini lebih penting, dan kesehatan Bapak jauh lebih berharga daripada baju saya," potong Alya seraya menyunggingkan senyum hangat yang begitu tulus, melangkah mantap menapaki undakan teras tanpa ragu sedikit pun.
Raka yang terpaku selama beberapa detik segera tersadar dari rasa takjubnya. Ia bergegas menyambar gagang troli Pak Darmo dan memapah pria tua itu menaiki serambi kering.
"Sini kardusnya, biar saya yang taruh di bangku," tawar Raka spontan, mengambil alih boks kardus dari dekapan Alya.
Alya menoleh, membetulkan helaian rambut depannya yang sedikit lembap terkena tempias air. Matanya yang jernih bersitatap langsung dengan manik mata Raka.
"Matur nuwun sanget nggih, Mas... Raka, kan?" tutur Alya dengan tutur kata yang begitu sopan dan intonasi yang lembut menyejukkan.
Raka tercekat sesaat. "I-iya. Sama-sama. Kamu tahu nama saya?"
"Tentu saja tahu. Mas Raka yang sering duduk di pojok ruang arsip sejarah lantai dua, kan? Senang sekali bisa dibantu olehmu," jawab Alya diiringi anggukan santun yang memancarkan keteduhan budi pekerti yang sama sekali tak terduga.
°˖✧✿✧˖°
Keduanya berdiri bersisian di lorong serambi paviliun luar. Derasnya guyuran hujan membuat udara berhembus dingin menusuk tulang, sementara tempias air mulai membasahi ubin tempat para mahasiswa lain berdesakan mencari tempat berteduh. Kursi-kursi panjang sudah terisi penuh oleh orang-orang yang sibuk menatap layar ponsel mereka masing-masing.
"Jaketmu basah di bagian pundak, Alya," ujar Raka seraya meraba saku jaketnya sendiri dan mengeluarkan sebungkus saputangan bersih yang masih rapi terlipat. "Pakailah ini untuk mengeringkan rambut dan bajumu."
Alya menerima saputangan itu dengan kedua belah telapak tangannya, membungkukkan sedikit badannya tanda hormat. "Terima kasih banyak, Mas Raka. Maaf merepotkanmu. Padahal Mas Raka sendiri sedang terburu-buru, kan?"
"Sama sekali tidak merepotkan," balas Raka jujur, memperhatikan bagaimana jemari Alya bergerak santun mengusap tetesan air di ujung pelipisnya. "Aku justru terkesan melihat caramu tadi membantu Pak Darmo. Jarang ada orang yang bersedia mengorbankan pakaian bersihnya demi kardus arsip tua."
Alya tertawa kecil, tawa berderai yang renyah namun tetap anggun dan tidak dibuat-buat. "Kebaikan itu bukan soal berkorban, Mas. Kalau kita punya sepasang tangan yang sehat, kenapa harus ragu mengulurkannya? Pak Darmo sudah bekerja keras sejak pagi membersihkan ruangan kita belajar."
"Tapi banyak teman di kampus bilang kamu sosok yang sulit didekati," celetuk Raka tanpa sengaja, sebelum sempat menahan lidahnya sendiri.
Mata Alya membulat jenaka mendengar penuturan jujur itu, namun tak ada rona tersinggung di paras cantiknya. "Benarkah begitu kabar burung di luar sana? Mungkin karena wajahku kalau sedang melamun terlihat agak galak, ya?"
"Bukan galak," sanggah Raka cepat dengan wajah memerah canggung. "Lebih tepatnya... terlalu bersinar, sampai-sampai orang mengira kamu tidak suka bergaul dengan orang biasa."
"Aduh, anggapan yang salah kaprah sekali," kata Alya sembari menarik salah satu kursi kayu bundar kosong di dekat tiang pilar kayu. "Sini, Mas Raka, duduklah di meja ini. Berdiri terus sambil menggendong ransel seberat itu pasti bikin pegal."
Raka menuruti ajakan itu, mendudukkan dirinya tepat di seberang Alya. Untuk pertama kalinya, dalam jarak yang hanya terpisah meja bundar kecil beralas serat jati, Raka melihat binar mata Alya yang bening tanpa kepalsuan. Gadis di depannya bukan sekadar mahasiswi tercantik di angkatan mereka; ia adalah perwujudan keelokan budi bahasa yang mengalir tanpa pretensi.
°˖✧✿✧˖°
Suasana tenang di sudut meja mereka mendadak terusik oleh derap langkah sepatu kets basah yang mendekat tergesa. Dua orang mahasiswa berpenampilan necis dari jurusan manajemen—salah satunya dikenal sebagai ketua klub otomotif bernama Dimas—melangkah mendekat dengan senyum pongah yang dibuat semenarik mungkin.
"Wah, kebetulan banget ketemu di sini, Alya!" seru Dimas dengan nada suara ditinggikan agar terdengar orang sekitar. "Hujan lebat begini memang paling pas ditemani bidadari kampus. Kamu kelihatan makin mempesona walau bajumu agak lembap begini."