Kekaguman yang Tumbuh
Perasaan Raka mulai berubah dari sekadar kagum menjadi ketertarikan.
Aroma kayu jati basah berpadu dengan wangi kertas tua menyergap indra penciuman Raka saat ia menaiki tangga berderit di paviliun selatan Gedung Balai Pustaka Praja. Hujan gerimis di luar memudarkan lembayung senja menjadi kelabu temaram. Dari ambang pintu kaca buram, siluet ramping Alya tampak membungkuk tekun di atas meja kerja mahoni yang luas, diterangi seberkas cahaya lampu tudung hijau antik.
Raka menahan napas sejenak, mengamati jemari lentik itu merapikan serat cetak biru rapuh keluaran tahun 1928 dengan kuas bulu halus. Tiga bulan mendampingi gadis itu merestorasi cagar budaya ini, Raka selalu mengagumi integritasnya. Namun petang ini, ada getaran berbeda yang menyusup ke dadanya.
"Masih belum berniat menyudahi hari, Al?" tanya Raka memecah hening ruangan.
Alya mengangkat kepalanya perlahan seraya menyelipkan helaian rambut ikal ke belakang telinganya. "Tanggung sedikit lagi, Ka. Aku baru saja menemukan pola sambungan pasak pada kubah atrium. Konstruksi aslinya jauh lebih rapuh dari dugaan kita."
"Kau melewatkan jam makan siangmu demi memeriksa tumpukan arsip debu di mezanin," ujar Raka seraya meletakkan dua cangkir keramik berisi seduhan teh melati panas di sudut meja. "Dan sekarang kau memaksa matamu membaca garis ukur sekecil helai rambut."
"Kau tahu betul taruhan besar kita besok pagi, kan?" sahut Alya menatap lurus ke manik mata Raka. "Dewan kurator menuntut kepastian apakah kita sanggup mempertahankan rangka jati asli tanpa merobohkannya."
"Tentu saja aku paham," timpal Raka seraya menarik kursi kayu mendekat ke sampingnya. "Tetapi proyek konservasi ini membutuhkan ketajaman analisis seorang Alya yang sehat bugar, bukan arsitek yang ambruk karena kelelahan kronis."
Alya tersenyum tipis, tawa renyahnya berdesir hangat di pendengaran Raka. Gadis itu meraih cangkir tehnya, menghirup aroma melati lalu menyesapnya perlahan. "Teh melati hangat tanpa gula? Kau selalu ingat kebiasaan kecilku."
"Bagaimana mungkin aku melupakannya?" balas Raka spontan tanpa sempat menyaring kata-katanya. "Maksudku, di ruangan dingin ini, kopi pekat milikku dan teh melatimu adalah dua penanda kehidupan paling konsisten setiap kali kita lembur."
"Terima kasih banyak, Raka. Perhatian kecil ini benar-benar membuat napas penatku terasa jauh lebih ringan," bisik Alya lembut, matanya berbinar teduh.
Raka terpaku memandangi garis rahang Alya yang lembut namun memancarkan keteguhan luar biasa. "Alya, coba tatap aku sebentar."
Alya menoleh cepat dengan kening berkerut penasaran. "Ada apa, Ka? Apakah kalkulasi beban gempa yang kutulis di lembar elevasi barat ada yang keliru?"
"Sama sekali bukan soal angka kalkulasi itu," sela Raka perlahan, nada suaranya turun satu oktaf lebih rendah dan hangat. "Aku hanya ingin kau berjanji untuk berhenti memaksakan diri jika pelipismu mulai berdenyut sakit. Gedung tua ini memang sangat penting, tetapi kesehatanmu jauh lebih berharga bagiku."
Alya terdiam kaku mendengar penuturan itu. Udara di antara mereka mendadak terasa sarat muatan rasa yang belum pernah ada sebelumnya. "Sejak kapan seorang pimpinan proyek yang terkenal kaku sepertimu menaruh perhatian pribadi sebesar ini padaku?"
"Mungkin sejak aku menyadari bahwa aku tidak lagi sekadar mengagumi caramu menggambar," jawab Raka jujur, tatapannya lekat mengunci iris cokelat madu Alya tanpa ragu. "Aku peduli padamu, Alya. Bukan cuma sebagai rekanku, melainkan sebagai dirimu sendiri."
Alya menelan ludah pelan, rona merah muda merayap samar di kedua pipinya. "Raka, kita punya batas profesional yang harus kita jaga bersama di tim ini."
"Aku tahu batasan itu," sahut Raka lirih seraya mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Tetapi malam ini, menyangkal apa yang kurasakan di sampingmu terasa jauh lebih sulit daripada menghitung beban ratusan ton atap gedung ini."
"Kau membuat jantungku berdegup tak keruan, Raka," desah Alya terbata-bata sembari menggenggam erat cangkir keramiknya.
"Baguslah kalau begitu," senyum Raka terkembang lembut di sudut bibirnya. "Karena jantungku sudah berdegup seperti ini sejak pertama kali kau tersenyum sore tadi."
"Jangan menggodaku saat kita sedang dikejar tenggat waktu," gumam Alya salah tingkah.
"Aku tidak menggodamu, Alya. Aku sedang mengutarakan kebenaran hatiku," bisik Raka tegas.
Alya menarik napas panjang. "Kalau begitu buktikan ucapanmu dengan membantuku menuntaskan draf ini sekarang juga, Raka."
"Pasti, Alya. Mari kita selesaikan berdua dengan segenap tenaga kita," angguk Raka mantap penuh keyakinan jiwa yang tulus seraya menatap sepasang matanya yang indah.
°˖✧✿✧˖°
Gemuruh guntur menggelegar di kejauhan, disusul terpaan badai kencang yang mengguncang kaca jendela paviliun tua itu hingga bergetar nyaring.
"Hujannya makin ganas di luar," bisik Alya seraya melirik tirai air pekat di jendela. "Tetapi ada satu dokumen kunci yang belum kita periksa, Ka. Naskah sambungan pasak kubah arsitek Belanda itu tersimpan di mezanin atas."
Raka menatap tangga geser kayu jati setinggi empat meter yang bersandar di dinding rak kuno. "Tangga tua itu terlalu lapuk dan licin, Al. Biar aku saja yang memanjat mengambilnya sekarang demi keselamatanmu."
"Tidak bisa begitu, Ka. Kau belum memahami sistem katalog arsip kolonial ini," tolak Alya tegas sembari bangkit berdiri. "Kotak tabung seng itu ditaruh di rak nomor empat belas B. Hanya aku yang membawa kunci gembok kuningan aslinya."
"Tolong berhati-hatilah saat melangkah, Alya! Tangga itu bergoyang parah!" seru Raka cemas berdiri siaga di bawah. "Jangan sampai kakimu terpeleset!"
"Peganganku sangat kokoh, jangan cemas!" sahut Alya dari ketinggian tiga meter seraya meraih tabung logam dari celah rak. "Aku berhasil menemukannya, Ka!"
"Bagus sekali! Sekarang turunlah perlahan dan berpegangan erat!" pinta Raka penuh kewaspadaan. "Langkahkan kakimu satu per satu!"
"Iya, aku turun sekarang!" balas Alya hati-hati.
Tepat saat Alya menggeser kakinya ke anak tangga berikutnya, suara kayu retak meledak keras. Pijakan kiri patah terbelah dua. Tubuh Alya tergelincir melayang jatuh ke belakang.
"Raka! Tolong aku!" jerit Alya panik.
Raka melompat ke depan tanpa ragu sedetik pun. Lengannya merengkuh erat pinggang ramping Alya, menarik tubuh gadis itu rapat ke dadanya sementara bahunya menahan hantaman tangga yang runtuh keras.
"Alya, kau terluka? Bicaralah padaku, apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?" bisik Raka cemas dengan napas memburu.
"Aku selamat, Ka. Kau menangkap tubuhku tepat waktu," desah Alya menatap manik hitam Raka yang berkilau pekat. "Jantungku berdegup liar sekali."
"Tuhan, jantungku hampir copot melihatmu meluncur jatuh," ucap Raka melepaskan napas lega yang membelai bibir Alya. "Kau membuat duniaku seolah berhenti berputar sejenak."
"Terima kasih telah mendekapku sekuat ini, Raka," bisik Alya tanpa melepaskan cengkeraman tangannya di kerah kemeja Raka.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka sedikit pun, Al," balas Raka bersungguh-sungguh.
"Kau sungguh pria pelindung yang hebat dan berani," desah Alya tersipu malu.
"Aku hanya ingin selalu melindungi wanita yang kucintai sepenuh jiwaku," jawab Raka mantap menatap binar matanya lekat-lekat penuh ketulusan tanpa sedikit pun melepaskan pelukannya.
"Dekapanmu terasa sangat menenangkan di tengah ketakutan ini," bisik Alya tersenyum tipis.
Raka mengangguk pelan seraya merapikan rambut Alya yang basah oleh peluh dingin.
°˖✧✿✧˖°
Keheningan intim yang membungkus mereka terkoyak seketika oleh dering nyaring ponsel Alya di atas meja. Getarannya mendentingkan cangkir keramik dengan nada mendesak. Alya tersentak melepaskan diri dari dekapan hangat Raka, wajahnya memerah padam sembari merapikan pakaian katunnya yang berantakan.
Raka berdeham pelan untuk menenangkan debar dadanya. "Angkatlah panggilan itu, Al. Siapa tahu itu kabar darurat dari pihak manajemen proyek."
Dengan jemari yang gemetar, Alya menyambar gawainya lalu menekan tombol hijau. "Halo, selamat malam, Pak Haryo."
Suara di seberang terdengar melengking tinggi dan sarat ancaman dingin, terdengar jelas oleh Raka di ruangan yang sunyi itu.
"Alya! Saya tidak butuh ocehan romantisme sejarah dari kalian lagi!" bentak Pak Haryo kasar tanpa basa-basi pembuka. "Konsorsium investor baru saja rapat darurat malam ini. Mereka menolak membuang anggaran miliaran rupiah demi mempertahankan dinding bata rapuh peninggalan Belanda itu! Jika timmu tidak menyerahkan draf revisi desain komersial dan kalkulasi struktur besok pagi pukul delapan tepat, seluruh selasar sayap barat akan kami robohkan dengan buldoser untuk gerai makanan cepat saji!"
Wajah Alya pucat pasi laksana pualam. "Pak Haryo, dinding bata lengkung itu bernilai cagar budaya tak ternilai! Jika diratakan, jiwa gedung bersejarah ini musnah selamanya!"