Teman-Teman Baru
Raka dengan Alya: Langkah Menembus Lingkaran Asing
Deru angin senja menyapu pelataran bengkel tua tempat Raka menyeka sisa oli hitam pekat di pergelangan tangannya. Aroma tajam bensin, gemuk pelumas, dan seng atap yang terpanggang terik matahari biasanya menjadi kawan akrab yang menenangkan jiwanya. Namun, sore itu semuanya mendadak hambar ketika getaran panjang dari ponsel di saku celana kerjanya membuyarkan lamunan. Dengan jemari yang masih bernoda jelaga mesin, Raka menyalakan layar kaca retak ponselnya. Pesan singkat dari Alya terpampang jelas:
"Ka, malam ini anak-anak kumpul santai di Selasar Kaca jam tujuh malam. Datang ya? Aku ingin kenalkan kamu secara resmi ke mereka."
Raka menatap barisan huruf di layar itu selama beberapa detik tanpa berkedip. Jantungnya berdegup kencang, melebihi putaran noken as motor balap yang baru saja ia setel presisi. Selasar Kaca adalah kedai kopi berkonsep galeri seni arsitektur di dataran tinggi kota—sarang berkumpulnya mahasiswa desain, pegiat estetika, dan pergaulan Alya yang gemerlap.
"Kenapa kamu melamun seperti melihat hantu begitu, Ka? Ada tagihan onderdil yang belum lunas?" tegur Pak Basuki, pemilik bengkel, seraya menyulut sebatang rokok kretek di dekat tabung kompresor angin.
"Bukan soal tagihan, Pak. Ini... Alya mengajak saya bertemu teman-teman satu lingkarannya nanti malam di kafe atas," sahut Raka lirih sembari melempar kain lap perca ke atas kotak perkakas besi.
Pak Basuki mengembuskan kepulan asap kelabu ke udara, lalu tertawa renyah hingga kumis tebalnya bergetar geli. "Lho, itu kabar bagus! Berarti anak gadis itu tidak main-main menaruh rasa padamu. Kalau seorang perempuan sudah berani membawamu masuk ke sarang kawanan dekatnya, dia sedang memamerkan calon nahkodanya."
"Tapi dunia kami bagaikan bumi dan langit, Pak. Saya cuma pemuda tamatan SMK yang tiap hari bergulat dengan gir rantai dan debu knalpot, sedangkan mereka calon sarjana arsitek, perancang gedung bertingkat, dan anak-anak keluarga terpandang," keluh Raka, menyuarakan rasa rendah diri yang kerap menghantui benaknya.
"Dengar petuah orang tua ini, Raka. Yang dicari gadis cerdas itu bukan tumpukan gelar atau tebalnya dompet semata, tapi ketulusan martabat dan kejantanan sikapmu. Jangan pernah mengecilkan keringat halalmu sendiri di hadapan siapa pun!" tegas Pak Basuki menepuk pundak liat pemuda itu.
"Bagaimana kalau saya nanti cuma mempermalukan dia di depan teman-temannya, Pak?" tanya Raka masih dicekam kebimbangan.
"Kamu baru membuatnya malu kalau kamu berlagak sombong menjadi orang lain. Cukup pasang badan, tatap mata mereka, dan jadilah dirimu sendiri yang jujur dan ksatria!" nasihat Pak Basuki penuh ketegasan membakar semangat.
"Baik, Pak. Saya akan coba datang nanti malam," jawab Raka mengangguk mantap dengan tekad bulat.
"Nah, begitu baru pemuda jantan! Mandi sana, bersihkan minyak di kuku itu!" seru Pak Basuki mendorongnya.
Dorongan itu membuat Raka membulatkan tekad. Usai membersihkan sisa jelaga di kamar mandinya yang sempit, ia memilih kemeja flannel biru tua terbaiknya, celana jin gelap yang rapi, serta sepatu kanvas hitam bersih. Tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit, Raka memarkir sepeda motor tuanya di sela deretan mobil mewah di depan Selasar Kaca.
Alya sudah berdiri menunggu di teras depan. Balutan kardigan rajut putih gading dan celana kulot linen cokelat muda membuatnya tampak memesona di bawah pendar lentera temaram.
"Raka! Kamu benar-benar datang!" seru Alya riang seraya menyongsong langkah Raka dengan mata berbinar cerah.
"Aku sudah berjanji, jadi tentu saja aku datang," jawab Raka tersenyum tipis, menatap penampilannya sendiri dengan kikuk. "Tapi jujur, aku cemas penampilanku terlalu biasa untuk tempat sebagus ini."
"Kamu tampak sangat tampan, rapi, dan wangi begini, kok! Jangan banyak cemas, ya?" puji Alya tulus sambil menyentuh pergelangan tangan Raka.
"Teman-temanmu sudah lengkap di dalam, Al?" tanya Raka memastikan.
"Sudah, Dika, Maya, dan Kinan sedang memilih meja di lantai mezanin. Arga mungkin sedikit terlambat karena urusan studio maket," jelas Alya.
Nama 'Arga' kembali menggoreskan getar asing di dada Raka. Alya pernah menyebut pemuda itu sebagai rekan proyek rancangan terbaik di jurusannya.
"Alya, kalau nanti aku salah bicara atau terlihat tidak nyambung dengan obrolan kalian, tolong beri aku kode, ya?" bisik Raka setengah memohon.
"Tidak akan ada yang salah, Ka. Percayalah padaku," bisik Alya meyakinkan, menggenggam jemari Raka erat-erat sebelum mendorong daun pintu kaca kedai.
°˖✧✿✧˖°
Anak tangga kayu jati berderit halus saat Raka melangkah di belakang Alya menuju lantai mezanin yang hangat. Di sebuah meja panjang dari kayu trembesi solid di sudut ruangan, tiga pasang mata seketika terangkat dari layar gawai dan lembaran kertas gambar mereka.
"Nah, ini dia pria misterius yang selalu menyita perhatian dan senyuman Alya belakangan ini!" seru Dika, pemuda berkacamata bundar berbingkai kura-kura dengan busana retro eksentrik, langsung menutup buku sketsanya.
"Halo semuanya! Kenalkan, ini Raka yang sering kuceritakan tempo hari. Dan Raka, ini Dika sang arsitek idealis tanpa kompromi, Maya si ratu riset tata ruang kota, serta Kinan fotografer visual andalan kami," Alya memperkenalkan mereka dengan nada riang ceria yang sengaja ia hadirkan untuk mengusir rasa canggung.
"Halo, Raka! Akhirnya kami bisa melihat wujud aslinya secara langsung," sambut Maya dengan tawa ramah, mengulurkan tangan lentiknya yang dihiasi gelang perak etnik.
"Senang bertemu kalian semua. Maaf kalau kehadiran saya mendadak mengganggu waktu diskusi santai kalian malam ini," sahut Raka seraya menyalami mereka satu per satu dengan genggaman sopan dan mantap.
"Sama sekali tidak mengganggu, Bro! Justru kami penasaran sekali. Tarik kursi itu, duduk santai di samping Alya," ujar Kinan ramah sambil menggeser tas kamera mahalnya ke lantai.
"Kamu mau minum apa, Ka? Biar aku pesankan langsung ke kasir lantai bawah," tawar Alya memperhatikan raut wajah Raka yang masih awas membaca situasi sekeliling.
"Kopi tubruk hitam tanpa gula saja, Al, kalau ada yang biji sangrai lokal," jawab Raka apa adanya.
"Pilihan yang sangat klasik dan jantan, ya? Jarang sekali ada pengunjung baru yang langsung memesan kopi hitam pekat di kedai artisan penuh sirup vanila begini," celetuk Dika menatap Raka dengan senyum penuh selidik dari balik lensanya.
"Biar mata tidak cepat mengantuk, Dika. Kalau di bengkel, mengantuk sedikit saja bisa membuat baut penutup blok mesin patah di dalam lubang ulir," kelakar Raka mencoba mencairkan suasana.
"Wah, kamu mekanik mesin motor ya? Menarik sekali! Alya biasanya cuma tahan mengobrol berjam-jam dengan orang yang paham sejarah arsitektur Bauhaus atau filosofi tata kota modern. Ternyata seleranya sekarang bergeser ke ranah praktis yang lebih berbobot," komentar Dika dengan nada santai namun sarat makna menguji.
"Bagi saya, mekanik dan perancang bangunan punya kesamaan inti: keduanya menuntut kepresisian perhitungan matematis agar struktur tidak ambruk dan mencelakai orang lain," timpal Raka lugas, membalas tatapan Dika tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Jawaban yang sangat tajam, Raka! Aku suka logikamu," puji Dika seraya mengangguk puas. "Selamat bergabung di meja kami malam ini."
°˖✧✿✧˖°
Cangkir-cangkir kopi pesanan pun berjejer di atas meja, menyebarkan uap hangat beraroma rempah dan bunga melati. Namun, kehangatan itu segera bergeser ke pusaran topik akademis ketika Maya membentangkan lembaran rancangan masterplan untuk sayembara nasional ruang terbuka publik kota.
"Kami sedang merancang fasad kinetik dengan modul pelat aluminium lipat otomatis untuk plaza balai kota. Idenya mengadopsi gerakan kelopak bunga teratai mekar mengikuti intensitas sinar matahari," jelas Maya antusias, matanya berbinar menatap simulasi pergerakan di layar laptop tipisnya.
"Konsepnya sangat puitis dan futuristik, tapi sistem motor penggerak hidroliknya butuh anggaran miliaran rupiah. Dinas kebersihan kota pasti kewalahan mengurus perawatannya," sanggah Dika mengkritisi tajam.