Sebuah Pesan di Malam Hari
Pesan sederhana dari Alya membuat Raka tersenyum sepanjang malam.
Jarum jam dinding di kamar kos berdetik lambat, seakan sengaja mempermainkan kantuk yang enggan menyapa. Tepat pukul 23.14 malam. Udara Jakarta sisa hujan masih menyisakan hawa dingin lembap yang menempel di kaca jendela berembun tipis. Raka Pratama menatap nanar tumpukan kertas kalkir, penggaris siku, pensil mekanik, dan serpihan styrofoam maket studio arsitektur tingkat akhir. Matanya perih luar biasa akibat tiga malam berturut-turut terjaga demi menyelesaikan revisi struktur bentang lebar yang dicoret dosen pembimbingnya kemarin siang. Cangkir keramik cokelat di sebelah laptopnya kini hanya menyisakan endapan bubuk kopi hitam pekat yang sudah sedingin es.
Raka menghela napas panjang, merenggangkan jemarinya yang kaku, lalu menyandarkan punggung pada sandaran kursi plastik yang berderit ringkih. Kesunyian malam begitu pekat hingga desau angin basah di dedaunan pohon mangga terdengar begitu jelas. Ketika benaknya hampir menyerah pada rasa penat yang menumpuk, getaran tunggal mendengung di atas permukaan meja kayu. Cahaya layar ponsel seketika membelah temaram kamar, memunculkan notifikasi pesan obrolan berwarna hijau dari satu nama yang dalam sekejap membuat detak jantungnya berdegup tak beraturan: Alya Safira.
**Alya:** "Ka, kamu belum tidur, kan? Maaf banget ganggu jam segini... tapi boleh nanya sesuatu yang mungkin kedengarannya sepele, tapi mendadak bikin aku kepikiran dan nggak tenang di kamar?"
Raka terperangah di kursinya. Rasa kantuk yang semula merayapi kelopak matanya menguap tanpa jejak, berganti gelenyar hangat yang menjalar cepat ke seluruh dada. Sudah hampir sepekan mereka tidak bertukar kabar secara intens karena tenggat tugas masing-masing. Dengan jemari yang mendadak gemetar halus, ia menyambar ponselnya. Senyum tipis yang tulus mulai terbit di sudut bibirnya saat ia mulai mengetik balasan singkat.
**Raka:** "Belum, Al. Mana bisa tidur kalau kepalaku masih berputar hitungan momen lentur baja. Lagian, sejak kapan kamu minta izin cuma buat nanya sesuatu? Ada apa gerangan malam-malam begini, Tuan Putri?"
**Alya:** "Ih, jangan manggil gitu, geli tahu! Serius nih, Ka. Tadi aku lagi beres-beres rak buku kamar, terus nemu binder catatan apresiasi sastraku yang kamu pinjam minggu lalu. Kenapa ada robekan sticky note warna biru muda terselip di halaman paling belakang?"
Raka tercekat seketika. Udara di sekelilingnya mendadak terasa hangat. Ia teringat betul secarik kertas biru itu—catatan kecil yang ia tulis secara spontan saat menunggu Alya di selasar perpustakaan kampus, yang sebenarnya berniat ia ambil kembali sebelum binder diserahkan ke tangannya.
**Raka:** "Catatan biru? Ah, itu... masa kamu baru sadar sekarang? Itu cuma coretan acak pas aku mati gaya nungguin kamu selesai bimbingan, Al. Nggak ada maksud rahasia apa-apa, kok."
**Alya:** "Bohong banget! Tulisannya jelas-jelas bilang: 'Kamboja gugur di halaman kampus sore ini nggak ada apa-apanya dibanding caramu tertawa waktu nemu buku lama itu.' Maksud kamu apa nulis kalimat kayak gitu di binder pribadiku, Raka Pratama?"
Membaca kalimat itu dikutip langsung oleh Alya membuat pipi Raka menghangat. Ia membayangkan binar mata cokelat terang gadis itu yang selalu melucuti segala logikanya. Tanpa berpikir panjang lagi, Raka membatalkan ketikan pesannya dan langsung menekan tombol panggilan suara di aplikasi.
**Alya:** "Halo? Tuh kan, langsung nelepon! Berarti kamu beneran panik dan salting ya, Raka?"
**Raka:** "Halo, Al. Siapa juga yang salting? Daripada jariku keriting ngetik klarifikasi panjang lebar di chat, mending langsung ngomong. Suara tawa kamu lebih enak didengar daripada deretan emoji kuning di layar ponsel."
**Alya:** "Pintar banget ngelesnya! Tapi beneran, Ka... waktu baca tulisan tanganmu tadi, dadaku rasanya berdesir aneh. Kamu beneran merhatiin caraku ketawa sore itu?"
**Raka:** "Aku selalu merhatiin kamu, Al. Dari dulu, bahkan saat kamu sibuk merapikan anak rambutmu yang berantakan tertiup angin di halte. Aku cuma arsitek biasa yang kebetulan hafal setiap lekuk senyummu."
**Alya:** "Raka... kamu ngomong apa barusan? Jangan bikin aku makin nggak bisa tidur malam ini dengan kalimat manis begitu."
**Raka:** "Aku nggak lagi merangkai kalimat manis, Alya. Aku cuma bicara apa adanya. Malam ini terlalu sunyi buat nyimpen kebohongan. Dan jujur, dengar suara kamu sekarang bikin semua rasa lelahku hilang mendadak."
**Alya:** "Kamu selalu bisa nemu cara buat bikin jantungku berdegup kencang, Ka. Jangan bikin aku salah tingkah sendirian di sini!"
Hening merayap manis di udara malam yang dingin. Raka tersenyum mendengar helaan napas gadis itu.
°˖✧✿✧˖°
**Raka:** "Kalau aku jawab iya, kamu bakal ngejek aku gombal lagi nggak, Al? Aku nulis itu karena memang itu yang kulihat sore itu. Di luar hujan deras membasahi kampus, kamu sibuk bersihin debu dari novel Pramoedya, terus ketawa sendiri kayak anak kecil nemu harta karun."
Di seberang sambungan telepon, keheningan merayap selama beberapa detik. Hanya terdengar gemeresik kain selimut dan desah napas Alya yang teratur lembut. Keheningan itu bukan kecanggungan yang membekukan, melainkan ruang tunggu yang sarat dengan getaran perasaan yang tak terucapkan. Raka menahan napasnya, menunggu reaksi gadis yang selama dua tahun terakhir telah mengisi ruang terluas di kepalanya.
**Alya:** "Aku nggak bakal ngejek, Ka. Justru... aku ngerasa bersalah karena waktu itu malah ngomel-ngomel gara-gara skripsiku dicoret dosen. Padahal kamu nemenin aku duduk di selasar perpustakaan dari siang sampai lampu koridor dimatikan kampus."
**Raka:** "Nemenin kamu itu bukan tugas pengorbanan, Alya. Itu satu-satunya agenda mingguan yang nggak pernah bikin pusing. Dibanding ngitung beban gempa di software, ngeliat kamu cemberut sambil ngunyah cilok jauh lebih menyehatkan mentalku."
Tawa renyah Alya meledak di telinga Raka. Suara tawanya bagaikan denting lonceng kaca yang seketika menghalau dinginnya udara malam. Raka ikut tersenyum lebar, memutar-mutar pensil mekaniknya di atas meja. Rasa cemas dan beban akademis yang menghimpit bahunya seolah luruh ke lantai tanpa bekas.
**Alya:** "Dasar ya, selalu aja bawa-bawa cilok! Tapi kamu tahu nggak kenapa aku bongkar-bongkar rak buku malam ini? Bukan cuma karena iseng beres-beres kamar kos, Ka. Tadi sore Ayah nelepon lama banget, terus kami ngobrol serius soal kelanjutan masa depanku."
Mendengar nada bicara Alya yang mendadak berubah dari ceria menjadi pelan dan berhati-hati, firasat Raka menajam seketika. Tubuhnya yang semula bersandar rileks di kursi mendadak menegak tegang. Ia tahu persis ada sesuatu yang berat yang sedang ditahan oleh gadis itu di balik suaranya.
**Raka:** "Soal masa depan? Maksud kamu... seleksi berkas magang riset kebudayaan yang kamu daftarin dua bulan lalu itu? Surat keputusannya sudah resmi keluar hari ini, Al?"
**Alya:** "Iya, Ka. Tadi jam lima sore pengumumannya resmi keluar lewat email rektorat. Dan namaku ada di urutan pertama calon penerima fellowship riset naskah kuno Kraton di Yogyakarta."
Kata Yogyakarta meluncur pelan dari bibir Alya, namun bagi Raka, kata itu berdentang bagaikan godam yang menghantam dadanya. Jarak ratusan kilometer terbentang seketika dalam imajinasinya, mengubah arah percakapan malam itu menjadi titik persimpangan yang tak terelakkan.
Di luar kamar kos, sisa rintik gerimis membasahi aspal jalanan kota yang lengang. Lampu temaram menembus jendela, menemani dada Raka yang diselimuti kecemasan.
°˖✧✿✧˖°