Perasaan yang Belum Bernama
Raka menyangkal bahwa dirinya mulai jatuh cinta.
Hujan deras bulan November menghantam kaca jendela lantai empat studio arsitektur itu tanpa henti. Gemuruh petir sesekali menenggelamkan dengung pendingin ruangan yang berhembus dingin menusuk tulang. Jam dinding tembaga tua berdentang pelan menandai pukul dua dini hari lewat lima belas menit. Kertas kalkir, penggaris segitiga, cangkir kopi dingin, serta serpihan stirofoam maket berserakan di atas meja kayu jati panjang.
Alya terlelap dengan kepala berbantal lipatan kedua lengannya tepat di samping tumpukan gambar kerja fasad sayembara museum kota tua. Helaan napas gadis itu terdengar teratur dan begitu halus hingga nyaris tenggelam oleh derau air di luar. Rambut ikalnya yang biasa diikat rapi kini terurai, menutupi sebagian pipinya yang pucat karena kelelahan tiga malam berturut-turut.
Raka berdiri mematung di samping meja kerja. Matanya yang pedih akibat menatap layar monitor berjam-jam kini tertuju sepenuhnya pada pundak Alya yang tampak bergetar pelan menahan dingin malam. Tanpa berpikir panjang, Raka melepas jaket korduroi cokelat miliknya. Kain hangat yang masih menyerap sisa panas tubuhnya itu ia bentangkan perlahan, lalu menyampirkannya ke punggung Alya dengan kehati-hatian luar biasa, seolah gadis itu terbuat dari porselen tipis.
Namun ketika jemari Raka hendak merapikan kerah jaket, punggung jarinya tak sengaja menyentuh kulit leher dan helai rambut halus di tengkuk Alya. Sengatan aneh merambat seketika ke seluruh urat darah Raka—seperti kejutan listrik statis yang memaksa jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Raka terkesiap, buru-buru menarik tangannya seakan baru saja menyentuh nyala bara api panas.
"Raka...?" gumam Alya parau. Kelopak matanya mengerjap perlahan menyesuaikan diri dengan terangnya lampu meja kerja, sebelum kepalanya terangkat menatap Raka yang berdiri canggung.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkan tidurmu. Aku hanya tidak ingin kamu jatuh sakit sebelum jadwal presentasi penting besok pagi di hadapan dewan yayasan museum."
"Jam berapa sekarang? Kenapa kamu belum tidur sama sekali?" Alya mengucek matanya, lalu jemarinya menyentuh jaket tebal yang menyelimuti bahunya. Tatapannya melembut penuh tanya. "Ini jaket korduroi milikmu, Ka?"
"Sudah pukul dua lewat dua puluh. Suhu ruangan ini turun drastis dan pendingin di sudut itu rusak pengaturannya. Jangan salah paham, ini murni pertimbangan logis agar arsitek utama kita tidak terserang hipotermia sebelum seluruh pekerjaan ini rampung tuntas."
"Terima kasih banyak, Raka. Tapi kamu sendiri cuma mengenakan kaus oblong tipis begini, apa kamu tidak merasa kedinginan sama sekali berdiri mematung di situ?"
"Kulitku tebal dan aku sudah terbiasa dengan hawa dingin studio sejak kuliah dulu. Jangan memikirkan hal remeh begitu. Yang paling penting besok pagi presentasi konsep utama di hadapan dewan kurator tidak boleh kacau hanya karena salah satu dari kita mendadak tumbang akibat flu berat."
"Selalu saja alasan profesionalitas kerja yang kamu kedepankan. Apa sekali saja kamu tidak bisa bersikap manis tanpa menambahkan embel-embel pekerjaan kantor di belakangnya, Ka? Apakah begitu membebani harga dirimu untuk sekadar mengakui bahwa kamu tulus mencemaskan keadaanku malam ini?"
"Karena kita berada di ruangan studio ini memang murni untuk urusan profesional, Alya. Bukan untuk bersikap sentimentil atau mencari kehangatan emosional yang tidak perlu di luar batas tugas kerja kita bersama."
Kata-kata dingin itu meluncur dari bibir Raka dengan nada lugas, namun di rongga dadanya, penolakan itu bergaung hampa menyiksa. Raka sengaja memalingkan pandangannya ke jendela kaca yang buram oleh tempias air, mengamati bayangan samar dirinya. Ia tahu persis bahwa ucapannya adalah benteng kebohongan rapuh yang sengaja dibangun demi melindungi harga dirinya dari perasaan kagum dan debaran asing yang mulai tak terkendali di jiwanya.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Arsitek Paling Rasional. Kalau memang kamu begitu mengagungkan profesionalitas murni, mari kita selesaikan seluruh gambar tampak barat ini sekarang juga tanpa membuang waktu semenit pun. Aku tidak ingin mengecewakan ambisi tinggimu demi memenangkan sayembara akbar ini."
"Pergilah ke wastafel dulu untuk mencuci mukamu dengan air dingin yang segar. Aku tidak ingin berdiskusi teknis dengan orang yang separuh kesadarannya masih tertinggal di alam mimpi semalam."
"Siap laksanakan, Pemimpin Tim yang galak. Tunggu di situ, aku hanya butuh waktu lima menit untuk menyegarkan mata dan mengikat rambutku kembali agar tidak mengganggu pandanganku saat membaca skala denah dan malam itu terus berbisik membawa kehangatan yang tak mampu lagi disangkal oleh nuraninya."
Alya beranjak dari kursinya seraya merapatkan jaket korduroi milik Raka ke tubuhnya, menghirup aroma kayu manis dan tembakau lembut yang tertinggal di serat kain tebal itu. Begitu derit pintu kamar mandi berbunyi dan terkunci rapat, Raka mengembuskan napas panjang yang tertahan sedari tadi. Ia menatap kedua telapak tangannya yang masih terasa hangat. Di dalam benaknya, akal sehatnya berteriak keras memperingatkan bahwa ada perasaan terlarang yang mulai tumbuh liar di luar batas kendali dirinya malam ini dan keheningan malam terus merayap perlahan menembus setiap sudut ruang kerja yang temaram menyisakan debaran hati tak terucap bagi mereka berdua.
°˖✧✿✧˖°
Aroma wangi teh melati menyeruak pekat ketika Alya melangkah kembali ke meja kerja membawa dua cangkir keramik. Uap hangat mengepul lembut di antara mereka berdua, mengaburkan sejenak batas ruang di antara dua bangku putar yang kini berjarak sangat dekat, tak lebih dari satu jengkal tangan saja.
"Ini teh melati hangat tanpa gula, persis seperti yang kamu minta setiap kali lembur. Minumlah selagi panas agar tubuhmu tidak kedinginan."
"Terima kasih banyak, Alya. Tapi kamu tidak perlu repot-repot menyeduhnya setiap kali kita berdua terjaga di studio malam begini."
"Bukan repot kalau aku sendiri juga membutuhkannya, Raka. Kenapa sih setiap perhatian kecil selalu kamu curigai sebagai beban hutang budi?"
"Bukan beban hutang budi. Aku hanya ingin kita mempertahankan fokus pada revisi tampak barat ini. Lihat garis aksial di koridor transisi ini, proporsinya rancu."
Alya tidak membantah kritikan itu. Gadis itu justru menarik kursinya merapat hingga bahunya bersentuhan langsung dengan lengan kiri Raka. Ia mencondongkan tubuhnya ke atas lembaran gambar kalkir hingga helai rambut depannya yang masih basah menyapu pipi Raka. Wangi sabun mandi berpadu lavender menyengat kesadaran pemuda itu seketika.
"Menurutku sudut kemiringan sepuluh derajat ini justru membiaskan cahaya senja ke dalam galeri seni tanpa silau berlebih bagi pengunjung."
"Bukan sudutnya, melainkan sirkulasi manusianya yang bertabrakan di lobi," jawab Raka gugup, tercekat melihat mata bening Alya begitu dekat.
"Raka? Kenapa bicaramu mendadak kaku dan wajahmu memerah di bawah lampu meja?"
"Aku lelah dan mataku perih. Tolong jangan menatapku dengan jarak sedekat ini, Al."
"Kenapa memangnya? Apa ada aturan di buku kantor bahwa rekan kerja dilarang bernapas sedekat ini?"