Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Ketika Nama Alya Selalu Disebut

Ketika Nama Alya Selalu Disebut

Teman-teman Raka mulai menyadari perubahan sikapnya

Aroma biji kopi sangrai menguar pekat di udara Kafe Sudut Temu sore itu. Suara dengung mesin espresso beradu dengan alunan musik akustik yang mengalun lirih dari pengeras suara langit-langit kafe. Di meja kayu bundar dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya protokol, tiga cangkir minuman tertata tidak lazim.

Dimas meletakkan cangkir americano miliknya dengan denting pelan ke atas tatakan keramik. Matanya memicing tajam menatap gelas kaca tinggi berembun di hadapan Raka. Di dalam gelas itu, cairan hijau pastel berpendar lembut di bawah temaram lampu gantung, dilapisi buih susu tebal dengan taburan bubuk kayu manis wangi.

"Sejak kapan lo minum matcha latte pakai oat milk, Ka?" tanya Dimas dengan kening berkerut dalam.

Raka yang sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya mendongak santai. "Kenapa emangnya? Enak kok rasanya."

"Lo itu orang yang kalau pesen kopi selalu minta double espresso pahit tanpa gula sampai lambung lo jerit-jerit minta tolong," timpal Aris sembari mencomot kentang goreng di piring tengah meja. "Sekarang tiba-tiba jadi anak manis pecinta teh hijau jepang. Dunia mau kiamat apa gimana?"

"Matcha itu punya kadar antioksidan tinggi," sahut Raka membela diri dengan intonasi terlampau teratur. "Lagian oat milk lebih ramah buat lambung dibanding susu sapi biasa. Nggak bikin begah pas ngerjain revisi laporan."

Dimas bersedekap dada, mencondongkan tubuhnya ke depan meja kayu. "Kalimat lo barusan itu bukan gaya bicara lo banget. Siapa yang ngajarin lo ngomong sok bijak gitu?"

Raka mengangkat bahu, lalu menyeruput minumannya perlahan melalui sedotan kertas. Jejak buih hijau tipis tertinggal di bibirnya sejenak sebelum ia usap dengan selembar tisu.

"Alya kemarin cerita pas kita neduh di perpustakaan pusat," jawab Raka enteng tanpa beban sedikit pun di wajahnya. "Dia bilang kalau lagi stres mikir skripsi, asam lambung suka naik kalau dihajar kafein pekat. Makanya dia rekomen ganti ke matcha oat milk. Dan ternyata beneran bikin fokus tanpa bikin deg-degan."

Hening merayap seketika di antara mereka bertiga. Musik kafe yang tengah memutar alunan lagu indie folk tiba-tiba terdengar sangat jelas. Dimas dan Aris saling bertukar pandangan penuh arti, saling melempar kode mata rahasia yang sudah terasah selama bertahun-tahun bersahabat.

"Alya lagi?" gumam Aris sembari menahan tawa geli di sudut bibirnya.

"Apanya yang 'Alya lagi'?" tanya Raka bingung, melirik dua sahabatnya bergantian.

"Ini udah kali keempat lo nyebut nama Alya dalam kurun waktu satu jam terakhir, Raka Pradipta," sahut Dimas datar sembari mengetukkan jari telunjuknya ke meja.

"Masa sih? Perasaan gue biasa aja," kilah Raka, buru-buru mengunci layar ponselnya dan membalik posisinya di atas meja.

"Gue hitung ya, biar otak jenius lo itu sadar," kata Dimas sembari mengangkat jarinya satu demi satu. "Pertama, pas kita baru duduk, lo bilang tempat duduk di pojok itu pencahayaannya bagus karena kata Alya cocok buat baca novel. Kedua, pas milih lagu playlist kafe barusan, lo nyeletuk kalau band ini vokalisnya punya warna suara mirip penyanyi favorit Alya. Ketiga, pas Aris ngeluh soal dosen metodologi penelitian, lo bilang kata Alya dosen itu sebenarnya baik asal dikasih outline terstruktur. Dan sekarang, cangkir minuman lo sendiri aja isinya kutipan wasiat dari Alya."

"Gue cuma mengutip fakta yang relevan dari obrolan kemarin," balas Raka dengan ekspresi membela diri yang mulai goyah. Semburat merah tipis merayap di cuping telinganya.

Aris tertawa terbahak-bahak, menepuk pundak Raka cukup keras hingga pria itu tersentak kaget. "Fakta relevan jidat lo licin! Sejak semester satu sampai semester tujuh, lo nggak pernah peduli sama saran hidup orang lain. Mau gue rekomendasiin kopi terbaik sedunia juga lo bakal tetep beli kopi saset murah. Tapi giliran Alya yang bersabda, langsung lo patuhi tanpa bantah sedikit pun!"

"Kalian berdua berisik banget cuma gara-gara urusan segelas teh," ketus Raka kesal sembari menarik sepotong kentang goreng untuk menutupi kegugupannya.

"Bukan cuma segelas teh, Bro, tapi soal siapa sosok di balik teh itu yang bikin lo berubah total kayak gini," goda Dimas sambil tersenyum penuh kemenangan. "Jujur aja, lo udah kepikiran dia terus dari pagi kan?"

"Nggak usah ngarang dongeng," gumam Raka menunduk seraya menatap permukaan meja kaca.

°˖✧✿✧˖°

Dimas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan, tatapannya menyapu ransel hitam Raka di kursi kosong sebelah.

"Terus itu apa?" tunjuk Dimas menggunakan dagunya. "Jeruk mini rajutan tangan? Jangan bilang lo nemu di pinggir selokan jalanan depan."

Raka menoleh cepat ke ranselnya, lalu spontan meraih gantungan wol itu dan melindunginya dengan telapak tangan erat-erat. "Ini suvenir. Jangan disentuh sembarangan, tangan lo berminyak bekas saus sambal pedas."

"Bukan suvenir biasa kan?" cecar Aris dengan seringai jahil yang semakin lebar di bibirnya. "Gue kenal rajutan rapi model begitu. Itu gaya rajutannya Alya pas bazar festival sastra bulan lalu. Gue inget banget karena Alya jaga stan kerajinan tangan bareng anak-anak himpunan."

"Dia cuma kelebihan bahan pas bikin sampel tugas kuliah," elak Raka cepat dengan nada defensif. "Daripada kebuang sia-sia, dia kasih ke gue buat penanda ritsleting tas biar nggak tertukar sama punya orang lain waktu di perpustakaan."

"Ka, dengerin gue baik-baik," Dimas berbicara dengan nada ditekan, menatap lekat manik mata Raka tanpa berkedip sedikit pun. "Seorang Raka yang terkenal paling alergi sama aksesoris unyu dan barang warna-warni norak, sekarang bangga gantungin jeruk rajutan di tas ransel hitam legamnya. Lo beneran udah kehilangan akal sehat atau gimana?"

"Bukan urusan lo berdua," ketus Raka memalingkan wajah ke arah jendela kaca kafe yang berembun dingin.

Di luar, lalu lintas sore mulai padat merayap. Cahaya jingga matahari terbenam memantul di aspal basah sisa gerimis tadi siang. Bayangan wajahnya sendiri di kaca tampak gusar, bertolak belakang dengan ketenangan dingin yang selalu ia agung-agungkan di hadapan orang banyak selama ini.

"Ini jadi urusan kita karena lo sahabat kita, Ka," kata Dimas pelan namun tajam menusuk sanubari terdalam. "Kita nggak pernah liat lo sebegini terikatnya sama cewek mana pun sejak lo putus dua tahun lalu. Lo selalu pasang pagar beton setinggi sepuluh meter ke semua cewek yang berusaha deketin lo. Tapi giliran sama Alya? Lo bahkan nggak cuma buka pintu gerbang lebar-lebar, lo robohin itu tembok sampai rata tanah!"

"Gue sama Alya cuma rekan diskusi yang kebetulan nyambung soal banyak hal," bisik Raka lirih, berusaha keras meyakinkan hatinya sendiri.

"Kalau cuma rekan diskusi biasa, lo nggak bakal senyum-senyum sendiri kayak orang kesambet tiap dapet notifikasi pesan masuk dari dia," sergah Aris tanpa ampun sama sekali. "Tadi pas layar hape lo nyala, gue sempat liat nama kontaknya. Lo namain dia apa coba? 'Alya Mentari' lengkap pakai emotikon matahari kecil di belakang namanya! Mau ngeles apa lagi lo sekarang di depan kita berdua?"

°˖✧✿✧˖°

Sebelum Raka sempat membalas ejekan Aris, sebuah suara berat yang sangat familiar memecah ketegangan dari arah belakang meja mereka.

"Wah, lagi asyik ngebahas tuan putri rupanya?"

Ketiganya serentak menoleh. Rendy berdiri di sana mengenakan jaket kulit cokelat dengan senyum miring yang selalu memancing emosi. Rendy adalah rekan satu kepanitiaan tahun lalu yang hubungannya dengan Raka tak pernah akur karena sering berselisih paham saat rapat kampus.

"Ngapain lo ke sini, Ren?" tanya Dimas dingin, langsung memasang nada defensif menyambut kedatangan pria itu.

Lihat selengkapnya