Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Lelaki yang Memperhatikan

Lelaki yang Diam-Diam Memperhatikan

Alya mulai menyadari perhatian Raka kepadanya di balik dinding kebisuan dan luka masa

Derit pintu kaca lobi Studio Aruna berayun cepat saat sepatu Alya menghantam marmer terburu-buru. Jam dinding bundar tembaga di resepsionis menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima. Napas gadis itu tersengal membawa silinder gambar di pundak kanan dan tas laptop di pundak kirinya yang mulai terasa nyeri dan berat.

"Alya, awas kabel sambungan lantai di depan mejamu!" seru Bima dari meja maket mengacungkan penggaris segitiga.

"Terima kasih atas peringatanmu, Bim! Aku hampir terlambat menyerahkan berkas revisi denah pagi ini kepada klien!" sahut Alya setengah berseru seraya mempercepat langkah kakinya. Ujung sepatunya tergelincir di tikungan partisi kaca kubikel. Tabung silindernya tersentak miring, dan map kalkir terancam jatuh ke lantai. Tepat sebelum bencana kerja terjadi, tangan kokoh terulur sigap menahan siku mantel wol Alya dan menyangga tabung silinder itu.

"Hati-hati saat melangkah tergesa-gesa. Lantai koridor ini baru saja selesai dipel lilin sepuluh menit yang lalu oleh petugas kebersihan studio."

tegur suara bariton berat yang tenang di samping telinga Alya. Alya mendongak kaget, mendapati Raka Pratama berdiri menjulang di hadapannya dengan kemeja abu-abu arang dan jam tangan perak.

"Maafkan kecerobohanku, Mas Raka. Aku panik karena revisi denah Paviliun Menteng harus diserahkan sebelum jam sepuluh pagi kepada Pak Bramantyo." cicit Alya seraya membetulkan tali tasnya yang merosot.

"Revisi denah memang prioritas kantor, Alya, tetapi kakimu yang terkilir tidak akan pernah bisa menyelesaikan gambar kerja apa pun. Perhatikan setiap pijakan langkahmu sebelum kamu melangkah maju terburu-buru seperti tadi." balas Raka datar melepaskan cengkeraman lembut jemarinya dari siku mantel gadis itu.

"Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak sudah menahan tubuhku agar tidak tersungkur ke lantai marmer." ucap Alya dengan pipi merona merah samar.

"Masuklah segera ke kubikel mejamu sekarang juga. Ada sesuatu yang harus kamu periksa dan segera kamu minum sebelum kamu menyalakan layar monitor komputermu."

perintah Raka singkat sebelum melangkah menuju ruang cetak. Alya masuk ke kubikel kerjanya. Di samping papan ketik, sebuah cangkir keramik putih mengepulkan uap harum. Di bawah cangkir terselip memo tinta hitam tegas: *Lambungmu belum siap menerima kafein asam hari ini. Minum racikan herbal ini dulu sebelum membuka berkas kerja.* Kehangatan cairannya menenangkan jemarinya. Aroma kamomil madu menyeruak lembut tanpa gula, persis ramuan yang selalu ia buat saat lambungnya kambuh.

"Dina! Apakah kamu yang sengaja menyeduh teh kamomil hangat tanpa gula ini untukku pagi-pagi begini?" panggil Alya berbisik ke sekat sebelah. Dina melongokkan kepala berbinar penasaran.

"Teh kamomil herbal? Sejak kapan aku punya simpanan bunga kering mahal di laci mejaku? Aku baru saja menyeduh kopi instan saset rasa karamel manis. Kenapa memangnya, Al?"

tanya Dina heran.

"Pagi ini lambungku melilit hebat gara-gara begadang menggambar denah tanpa sarapan. Lalu tiba-tiba ada cangkir ini beserta catatan peringatan khusus di mejaku." bisik Alya bingung. Dina tersenyum jahil, melirik lorong cetak.

"Tulisan tangan rapi tegak tanpa huruf miring dengan sudut kemiringan presisi seperti gambar teknik arsitektur... kamu benar-benar tidak mengenali goresan tangan siapa itu, Al? Itu tulisan tangan Mas Raka!" kata Dina berbisik geli.

"Maksudmu Mas Raka? Tetapi kenapa dia bisa tahu kebiasaan lambungku dan peduli sampai menyeduhkan teh hangat ini untukku?" tanya Alya terperangah dengan mata melebar.

"Lelaki sedingin es kutub itu punya mata elang yang luar biasa jeli, Alya. Dia memperhatikan gerak-gerikmu jauh lebih banyak dari yang kamu duga selama ini. Jangan pura-pura buta melihat tanda-tanda itu." bisik Dina tertawa pelan.

"Mana mungkin Mas Raka memperhatikanku sejauh itu? Dia bahkan jarang mengajakku bicara santai kalau bukan urusan pekerjaan denah kantor." sanggah Alya sangsi.

"Tengoklah partisi kaca di belakangmu sekarang juga, Al. Lihat sendiri ke mana arah pandangan matanya tertuju saat ini." suruh Dina tersenyum penuh rahasia. Alya menoleh menembus partisi kaca ruang kerja Raka. Di balik kaca, pria itu sedang memeriksa cetak biru. Namun saat Alya menatapnya, Raka mendongak tenang. Tatapan mereka bertemu di udara. Raka menatap Alya tiga detik penuh, lalu menganggukkan kepala memberi isyarat agar Alya meminum teh tersebut.

"Dia benar-benar melihat ke arahku... Kenapa detak jantungku mendadak berdebar kencang sekali begini?" bisik Alya lirih seraya menyesap teh hangat itu.

°˖✧✿✧˖°

Kehangatan teh kamomil itu masih tertinggal nyaman di kerongkongan Alya, tetapi benaknya mulai memutar ulang kepingan peristiwa selama dua pekan terakhir. Pola ganjil mulai tersambung jelas di kepalanya. Rak arsip proyek yang biasanya menuntut Alya berjinjit kini selalu berada di baris ketiga setinggi dadanya. Kisi-kisi pendingin ruangan di atas kubikelnya terpasang akrilik deflektor transparan agar hembusan angin dingin tidak menerpa tengkuknya.

Alya melangkah menuju ruang arsip bawah tanah mencari katalog sampel marmer Italia untuk presentasi fasad. Ruangan semen ekspos itu sunyi senyap dan beraroma kertas tua serta debu tipis yang menari di bawah sorot lampu redup.

"Sedang mencari katalog sampel batuan marmer Pietra Grey atau Carrara putih untuk fasad utama proyek Menteng?" suara tenang itu kembali menyapa dari balik rak nomor empat. Alya tersentak kaget, mendapati Raka berdiri memegang katalog tebal bersampul kulit hitam.

"Mas Raka... kenapa selalu tiba-tiba muncul di dekatku saat aku sedang mencari sesuatu di ruangan ini?" desis Alya seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"Aku tidak muncul tiba-tiba. Aku sudah di sini sejak lima belas menit lalu menyusun spesifikasi pencahayaan galeri seni," jawab Raka melangkah mendekat dan menyodorkan katalog itu ke tangan Alya.

"Ini katalog batuan alam yang sedang kamu cari sejak tadi, bukan?" Alya menerima katalog tersebut. Ujung jemari mereka bersentuhan sejenak, memercikkan kehangatan yang membuat Alya menahan napas.

"Bagaimana Mas Raka bisa tahu aku butuh sampel marmer ini sekarang juga?" selidik Alya dengan tatapan menyelidik tajam.

"Kamu mondar-mandir memeriksa lembar konsep tiga kali dengan ketukan tumit ganda di lantai. Setiap kali kamu ragu menentukan tekstur fasad, langkahmu selalu berirama seperti itu. Terlalu mudah dibaca oleh siapa pun." sahut Raka menatap lurus ke manik mata Alya.

"Pola langkah kakiku? Mas memperhatikanku sedalam itu setiap hari di kantor ini?"Alya mengernyit heran separuh tak percaya.

"Di ruangan berisik penuh orang yang sibuk menonjolkan diri, memperhatikan orang yang bekerja dalam diam bukanlah hal yang sulit, Alya." jawab Raka dengan nada merendah.

"Maksud Mas berkata seperti itu apa sebenarnya? Tolong jelaskan padaku secara jujur." tanya Alya mendesak dengan napas tercekat.

"Maksudku, ambillah katalog batuan ini dan segera kembali ke mejamu. Jangan memaksakan diri mengangkat katalog tebal sendirian kalau kedua tanganmu masih gemetar kelelahan."

pungkas Raka dengan nada formal.

"Aku sungguh tidak selemah itu sampai mengangkat buku saja tidak mampu, Mas!" bantah Alya menatapnya lekat.

"Aku tidak pernah menganggapmu lemah, Alya. Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka hanya demi setumpuk batu alam." potong Raka lembut menyunggingkan senyum tipis memikat.

°˖✧✿✧˖°

Ketenangan semu di studio mendadak pecah tepat pukul satu siang ketika ponsel Alya menjerit keras di atas meja kerja. Nama Pak Bramantyo, komisaris pengembang properti Menteng yang terkenal galak dan perfeksionis, menyala di layar kaca.

"Selamat siang terhormat, Pak Bramantyo—" sapa Alya berusaha tetap tenang dan sopan di tengah ketegangan mendadak itu.

"Mbak Alya, rapat presentasi dimajukan jam empat sore ini! Fasad utama dirombak memakai kisi-kisi louvre kayu vertikal dengan simulasi bayangan matahari jam tiga sore! Kalau belum siap jam empat, kontrak studio kalian saya batalkan tanpa kompensasi!" bentak suara bariton sebelum sambungan diputus sepihak. Alya terpaku pucat pasi di kursinya menatap layar ponsel yang telah gelap gulita. Seluruh sendi tubuhnya serasa membeku kaku seketika menyaksikan ancaman pembatalan kontrak itu.

"Ada apa, Al? Kenapa mukamu tegang sekali seperti melihat malaikat maut?" tanya Dina panik melihat sahabatnya lemas bersandar di kursi.

"Pak Bramantyo memajukan jadwal tiga jam lebih awal. Dia minta fasad dirombak total dan harus dirender ulang sekarang dalam format tiga dimensi. Komputerku tidak akan sanggup merender animasi itu dalam dua jam!" ucap Alya gemetar hebat. Alya segera membuka permodelan dengan jemari dingin menggigil. Kipas pendingin laptopnya menderu bising bagai mesin pabrik sebelum akhirnya layar membeku total menampilkan kotak dialog peringatan kehabisan memori sistem. Air mata frustrasi menggenang di pelupuk mata Alya karena kepanikannya yang kian membuncah tak tertahankan lagi. Tiba-tiba kursi kerja beroda ditarik mendekat. Raka sudah duduk di samping mejanya membawa cakram keras eksternal berkabel perak mengkilap di tangannya.

"Tancapkan flashdisk data mentahmu ke workstation-ku di sana sekarang juga." perintah Raka tegas tanpa basa-basi.

"Tapi Mas Raka, workstation-mu sedang dipakai menghitung beban struktur galeri seni Surabaya! Itu proyek besarmu sendiri yang sangat penting bagi kantor ini!"

tolak Alya terisak pelan menahan kepanikan luar biasa.

"Proyek Surabaya batas akhirnya masih lusa. Proyekmu tenggatnya dua jam lagi. Biar prosesor komputer milikku yang menangani kalkulasi rendering bayangan louvre itu."

potong Raka mencabut kabel data dari laptop Alya dengan cekatan dan tenang.

Lihat selengkapnya