Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Benih-Benih Cinta

Benih-Benih Cinta

Hubungan Mereka Semakin Dekat

Deru angin sore yang kencang menghempaskan tirai kaca lantai empat studio desain Padma Kencana. Langit Jakarta Selatan yang sejak siang tampak kelabu mendadak pekat, seolah menumpahkan seluruh beban awan hitam dalam satu gelegar petir menggelegar. Butiran air hujan sebesar biji jagung menghantam jendela kaca tanpa ampun, memekakkan ruang kerja yang sunyi.

Di balik meja kayu mahoni berukuran dua meter, Alya masih membenamkan tatapannya pada layar monitor yang memancarkan pendar putih kebiruan. Jemarinya yang ramping menari di atas papan ketik, mencoba menuntaskan draf presentasi interior untuk tender pekan depan. Namun, suara guntur yang kembali bergemuruh membuat pundaknya tersentak kecil.

"Masih mau memaksakan diri, Al?"

Sebuah suara berat bernada tenang terdengar dari balik partisi kaca. Raka melangkah keluar dari ruang kerjanya sembari menggulung lengan kemeja abu-abu tua hingga ke siku. Rambutnya yang sedikit berantakan memperlihatkan keletihan setelah sepuluh jam berkutat dengan sketsa struktural, tetapi sepasang mata elangnya tetap memancarkan ketajaman yang tak pernah padam.

"Tanggung sedikit lagi, Ka," sahut Alya tanpa menoleh, berusaha menyembunyikan getar cemas pada jemarinya. "Revisi dari Pak Danu harus dikirim malam ini sebelum jam delapan. Aku tidak mau tim kita dianggap lamban."

Raka berhenti tepat di samping kubikel Alya, menatap punggung gadis itu dengan alis terangkat samar. "Danu bisa menunggu sampai besok pagi. Badai di luar sedang parah, dan pendingin ruangan ini membuat bibirmu pucat sejak satu jam yang lalu."

"Aku tidak apa-apa, sungguh," bantah Alya, memaksakan senyum tipis seraya akhirnya mendongak.

Tepat saat manik mata mereka bertemu, suara desing listrik padam berbunyi nyaring. *Klak!* Seluruh lampu ruangan mendadak mati total, menenggelamkan studio ke dalam kegelapan pekat. Layar komputer padam seketika, disusul jeritan tertahan dari bibir Alya saat ia refleks berdiri dari kursinya.

"Raka!" seru Alya panik, kedua tangannya terulur meraba udara kosong.

"Tenang, Alya. Jangan bergerak, aku tepat di sini," ujar Raka cepat.

Suara langkah sepatu pantofelnya terdengar mendekat dalam hitungan detik. Dalam gelap yang gulita, tangan kanan Raka menemukan pergelangan tangan Alya yang dingin seperti es. Sentuhan jemari pria itu hangat dan kokoh, seketika menyalurkan rasa aman yang tak disangka-sangka menembus rasa takut Alya.

"Napasmu terengah-engah," bisik Raka, jarak suaranya kini hanya terpaut sejengkal di depan wajah Alya. "Kau gemetar."

"Aku... aku cuma kaget. Bukan takut gelap," elak Alya dengan nada membela diri, meski ia tidak melepaskan genggaman tangan Raka.

"Pembohong kecil," gumam Raka pelan, disusul kekehan rendah yang jarang sekali keluar dari bibir pria berwajah kaku itu. "Tunggu di sini sebentar. Sakelar darurat ada di dekat rak arsip."

Lampu darurat berwarna kuning temaram di sudut plafon menyala berkedip-kedip, menebarkan cahaya redup yang hangat di antara bayang-bayang lemari. Ketika pandangan mereka kembali benderang, Alya baru menyadari seberapa dekat jarak mereka berdiri. Ujung sepatu mereka hampir bersentuhan, dan aroma cedarwood bercampur kopi hitam yang menjadi ciri khas Raka menguar pekat menyelimuti indra penciumannya.

Raka menunduk, matanya menatap lekat kedua bola mata hazel Alya. Bukannya melepaskan pegangan tangannya, jemari Raka justru melonggar perlahan lalu turun menyelipkan jemarinya di antara sela-sela jari Alya selama dua detik sebelum melepaskannya dengan penuh kehati-hatian.

"Duduklah kembali," perintah Raka lembut. "Jangan menyentuh komputer dulu sebelum genset stabil."

"Pekerjaanku..." gumam Alya putus asa menatap layar hitam di depannya.

"Semua sudah tersimpan otomatis di server awan setiap lima menit, nona arsitek," tukas Raka seraya berbalik menuju pantry kecil di sudut ruangan. "Sekarang istirahatlah. Tubuhmu menggigil kedinginan."

Alya menuruti perintah itu, duduk perlahan di kursinya. Dadanya berdegup tak beraturan, bukan karena sambaran kilat di luar jendela, melainkan karena kehangatan sisa genggaman tangan Raka yang seolah masih membakar kulit pergelangan tangannya.

Dua menit kemudian, Raka kembali membawa dua cangkir keramik hitam yang mengepulkan uap putih harum. "Minumlah. Cokelat jahe panas. Aku tahu kau tidak tahan asam kopi saat perutmu kosong di malam hari."

Alya menerima cangkir tersebut dengan kedua tangannya, menghirup aromanya yang menenangkan. "Terima kasih, Ka. Kau... selalu tahu detail-detail sepele seperti ini."

"Bagi sebagian orang mungkin sepele," jawab Raka seraya menarik kursi putar di depan meja Alya dan duduk menghadapnya. Matanya terpaku lurus pada Alya. "Tapi untukku, hal-hal tentangmu bukan perkara sepele."

Kata-kata itu meluncur begitu lugas tanpa tedeng aling-aling, membuat hembusan napas Alya tercekat seketika di tenggorokan.

°˖✧✿✧˖°

Keheningan yang mengendap setelah ucapan Raka hanya dipecahkan oleh ketukan ritmis sisa rintik hujan di kaca jendela. Pendar lampu darurat yang kekuningan menciptakan bayangan lembut di lekuk rahang tegas Raka, melunakkan garis-garis ketegangan yang selama ini selalu menjadi topeng pelindungnya dari dunia luar.

Alya meniup permukaan cokelat panasnya, berusaha menguasai debaran liar yang mendesak rongga dadanya. "Sejak kapan kau memperhatikanku sejauh itu, Raka? Kupikir selama enam bulan ini kau cuma menganggapku rekan kerja yang cerewet soal ketepatan skala render."

"Kalau aku cuma menganggapmu rekan kerja biasa," sahut Raka tenang, sorot matanya tak sedikit pun bergeser dari wajah Alya, "aku tidak akan duduk di sini menemanimu melewati badai sampai jam sembilan malam."

Alya tersenyum simpul, menyembunyikan wajahnya di balik uap cangkir. Pandangannya kemudian tak sengaja jatuh pada sebuah buku bersampul kulit cokelat usang yang diletakkan Raka di sudut meja kayu. Selama berbulan-bulan bekerja bersama, Alya tahu persis bahwa buku bersampul kulit itu adalah benda paling terlarang di kantor; Raka tak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya.

"Buku itu..." gumam Alya ragu, telunjuknya menunjuk pelan ke arah sudut meja. "Boleh aku melihatnya?"

Raka terdiam sejenak. Rahangnya mengeras sesaat, menimbang pergulatan batin yang begitu kentara di balik ketenangannya. Namun perlahan, tangannya terulur mengambil buku itu dan meletakkannya tepat di hadapan Alya.

"Buka saja," bisik Raka lirih. "Untukmu, tidak ada lagi halaman yang perlu kurahasiakan."

Dengan jemari yang sedikit bergetar, Alya membuka lembaran kertas bertekstur tebal itu. Di lembar-lembar awal, tampak sketsa-sketsa arsitektur bergaya brutalism yang dingin, suram, dengan sapuan arang hitam yang tegas dan penuh amarah. Namun saat jemarinya membalik halaman-halaman tengah, nuansa sketsa itu berubah drastis. Sapuan garisnya menjadi lebih lentur, penuh cahaya, dan di sudut halaman terdapat ilustrasi sketsa seorang perempuan berambut sebahu yang sedang tertawa sambil memegang gulungan denah.

Alya menahan napas. "Ini... aku?"

Lihat selengkapnya