Milikku Seorang

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Senyum yang Selalu Kutunggu

Senyum yang Selalu Kutunggu

Raka mulai menunggu setiap kesempatan untuk bertemu Alya.

Denting lonceng kuningan di atas pintu kaca kedai Sudut Teduh berbunyi pelan, memecah deru mesin espresso dan rintik gerimis yang membasahi jalanan. Raka menarik napas panjang, melirik arloji perak di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Kopi arabika gayo tanpa gula miliknya sudah mendingin, menyisakan lingkaran pekat di dasar cangkir keramik.

"Mas Raka masih setia menunggu nona berpayung biru itu datang sore ini? Bukankah hujan di luar semakin deras mengguyur kota?" tanya Galih, barista bercelemek hitam dari balik meja seduh kayu jati, menyeka cangkir keramik dengan kain bersih.

"Dia biasanya tidak pernah datang terlambat lebih dari sepuluh menit, Galih. Aku yakin sebentar lagi dia pasti sampai di sini dengan membawa senyumnya yang khas," sahut Raka lirih tanpa melepaskan tatapannya dari trotoar basah yang terpapar lampu sore.

"Mungkin jalanan dari kampus pascasarjana sedang macet parah karena genangan air hujan, Mas. Sebaiknya memesan minuman hangat baru agar tubuh tidak kedinginan," timpal Galih tersenyum maklum.

"Bisa jadi begitu. Namun jika satu hari saja melewatkan senyumnya, seluruh ritme hariku terasa kehilangan ketenangan yang paling berharga di dunia ini, Galih," gumam Raka seraya mengetuk ujung pensil pada buku sketsanya.

Raka menatap sketsa pensil yang baru setengah jadi. Bagi seorang arsitek muda yang terbiasa dengan perhitungan kaku, kehadiran Alya di sudut kedai selama dua bulan terakhir adalah satu-satunya jeda puitis yang selalu dinantikan. Alya selalu membawa buku bersampul beludru biru, lalu tersenyum menyapa siapa pun dengan ketulusan yang menenteramkan batinnya.

Lonceng pintu kembali bergemerincing nyaring. Seorang gadis bermantel krem dengan payung forget-me-not basah kuyup melangkah masuk tergesa-gesa, mengibaskan rintik air dari rambut ikalnya.

"Maafkan aku, Raka! Bus kampus yang kutumpangi mogok di persimpangan layang karena genangan air meluap! Kamu pasti sudah lama menungguku di sini sendirian!" seru Alya terengah-engah dengan pipi merona merah diterpa hawa dingin luar.

Raka langsung bangkit berdiri tegak dari kursinya. "Alya! Syukurlah kamu sampai selamat. Masuklah ke sini, jangan berdiri di dekat pintu angin luar. Pakaianmu basah kuyup, nanti bisa masuk angin dingin sekali!"

"Apakah kamu benar-benar tidak keberatan menungguku sendirian di meja ini? Aku merasa bersalah membuat waktu kerjamu terbuang sia-sia hanya untuk menungguku tiba," tutur Alya pelan melipat payungnya dengan hati-hati.

"Aku sama sekali tidak pernah keberatan menunggumu, Alya. Bagi diriku, menunggu kehadiranmu dan melihat senyummu adalah bagian paling menenangkan dari seluruh jam kerja melelahkan hari ini," balas Raka cepat, suaranya bergetar tipis oleh kejujuran rasa yang mendalam.

Alya menatap wajah Raka sejenak, lalu tawa renyah meluncur dari bibirnya. Senyum khas itu terbit kembali—senyum berlesung pipi samar yang meluruhkan kepenatan Raka.

"Kamu selalu tahu cara membuat rasa lelahku menguap tak bersisa hanya dengan beberapa patah kata sederhana yang menyejukkan hati, Raka. Terima kasih banyak selalu ada di meja ini menemaniku," ucap Alya seraya menduduki kursi kayu di hadapan pemuda itu.

"Lepaskan mantel basahmu dulu biar tidak kedinginan. Mau kupesankan secangkir cokelat panas bertabur bubuk kayu manis dan madu seperti kemarin? Itu membuat tubuh hangat seketika dari dinginnya hujan," tawar Raka penuh perhatian.

"Tentu saja! Cokelat hangat kedai ini selalu terasa seperti pelukan hangat yang menenangkan di tengah dinginnya musim penghujan yang menggigit tulang belulang sore ini," jawab Alya mengangguk riang, matanya berbinar hangat menatap Raka.

"Tunggulah sebentar di sini, Alya. Aku memesankannya langsung pada Galih di meja bar agar cokelatmu lekas diantarkan ke meja kita berdua," kata Raka bersemangat merapikan letak buku gambarnya.

"Jangan lupa pesan dua potong biskuit jahe renyah kesukaanmu juga ya, Raka! Kita bisa membaginya berdua sambil mengobrol santai sore ini," pinta Alya tersenyum simpul dengan lesung pipi memikat.

"Tentu saja, aku tahu betul biskuit jahe itu pasangan sempurna menemani secangkir cokelat hangatmu sore ini, Alya!" sahut Raka melangkah tegap menuju meja pemesanan bar.

Di setiap ayunan langkahnya menuju meja bar, dada Raka bergemuruh hangat penuh kebahagiaan sederhana. Pemuda itu kini menyadari seutuhnya bahwa pertemuan sore ini bukan lagi sekadar rutinitas kebetulan bagi dua orang pelanggan setia kedai, melainkan sebuah babak penantian sadar yang perlahan mulai merajut ikatan takdir di antara hari-harinya dan senyum gadis itu.

°˖✧✿✧˖°

Secangkir cokelat hangat mengepulkan aroma manis kakao di hadapan Alya. Gadis itu melingkarkan jemari pada keramik cangkir, menyerap kehangatan yang mengusir dingin telapak tangannya. Di luar, gerimis mulai menyusut menjadi kabut tipis yang membiaskan lampu kota.

"Raka, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu sejak kemarin sore. Aku sengaja membawanya untukmu sore ini agar kamu bisa membacanya," ujar Alya membuka ritsleting tas kanvasnya dengan hati-hati.

"Apa itu, Alya? Apakah naskah esai sastra terbarumu yang kamu ceritakan pekan lalu?" tanya Raka penasaran seraya mencondongkan tubuhnya ke depan meja kayu.

"Bukan naskah esai biasa, melainkan draf buku kumpulan puisi perdanaku yang berjudul Lembayung di Balik Jendela," sahut Alya menyodorkan bundel kertas berikat pita biru lembut.

Raka menatap bundel naskah itu dengan takjub. Jemarinya menyentuh permukaan kertas yang harum wangi vanila percetakan.

"Apakah aku orang pertama di luar dewan penerbit yang boleh membaca lembaran berharga ini, Alya?" bisik Raka penuh rasa hormat yang tulus.

"Tentu saja kamu orang pertama, Raka! Aku ingin meminta bantuan besarmu untuk buku ini," kata Alya dengan sorot mata penuh permohonan bersungguh-sungguh.

"Bantuan apa, Alya? Selama kemampuanku mencukupi, aku pasti membantumu segenap tenaga," tegas Raka menatap sepasang mata teduh itu.

"Maukah kamu membuatkan ilustrasi sketsa arsitektur kota tua untuk halaman pembuka setiap bab puisiku? Aku selalu mengagumi kejujuran garis tanganmu," pinta Alya lembut penuh keyakinan.

Jantung Raka berdegup kencang mendengar pengakuan tersebut. Permintaan itu bukan sekadar basa-basi pertemuan kedai kopi, melainkan sebuah jembatan nyata yang menghubungkan dunia kreatif dan perasaan batin mereka berdua.

"Ini kehormatan luar biasa bagiku, Alya. Aku berjanji akan memberikan goresan sketsa terbaik yang pernah kubuat seumur hidupku untuk bukumu," jawab Raka mantap tanpa ragu.

"Janji kelingking, Tuan Arsitek? Jangan sampai kamu membatalkannya karena kesibukan proyekmu ya," canda Alya menyodorkan jari kelingking mungilnya di udara meja.

"Janji seumur hidup, Nona Penulis. Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku padamu, apa pun yang terjadi nanti di masa depan perjalanan langkah kita," sahut Raka menyambut tautan kelingking itu dengan senyum tulus yang menenangkan.

"Terima kasih banyak, Raka. Memiliki sentuhan gambarmu di dalam bukuku adalah mimpi yang akhirnya terwujud nyata dan memperindah setiap bait puisi karyaku ini," bisik Alya penuh binar bahagia di matanya.

"Aku yang seharusnya berterima kasih banyak karena kamu telah mempercayakan karyamu padaku," balas Raka merapatkan genggaman jarinya sejenak.

Tautan jemari itu mengalirkan kehangatan batin yang mendalam bagi Raka. Pemuda itu merasakan babak baru dalam hidupnya telah resmi dimulai, menyatukan langkah penantiannya ke dalam lembar-lembar mimpi Alya.

°˖✧✿✧˖°

Suasana hangat di meja mereka mendadak terinterupsi oleh getaran tajam ponsel di atas meja kayu. Layar gawai Alya menyala terang menampilkan panggilan masuk bertuliskan nama Ibu di Jakarta. Raut wajah Alya yang semula cerah seketika berubah pasi, senyum manisnya memudar digantikan kerutan kecemasan mendalam di keningnya.

Lihat selengkapnya