Jalan Pulang Bersama
*Kebersamaan sederhana membuat hubungan mereka semakin akrab.*
Langit petang di atas pelataran kampus mendadak berubah menjadi kelabu pekat, menyerap sisa-sisa warna keemasan matahari yang baru saja bergeser ke barat. Hawa dingin merayap perlahan, membawa aroma tanah basah dan desir angin yang membuat dedaunan pohon angsana berguguran di halaman utama. Di koridor lantai satu fakultas, deretan mahasiswa berdesakan mencari tempat berlindung, sementara gerimis mulai menetes satu demi satu menghantam ubin semen yang dingin.
"Sepertinya hujan deras bakal turun dalam hitungan menit, Al. Kamu masih ada jadwal kuliah lagi setelah ini?" tanya Raka seraya merapatkan jaket denimnya yang mulai usang.
"Tidak ada, Ka. Ini jadwal terakhirku hari ini. Tapi masalahnya, bus jurusan rumahku jarang lewat kalau sudah jam lima sore begini," jawab Alya dengan helaan napas pendek sembari menatap ke arah langit yang makin pekat.
Raka melirik tas punggung Alya yang tampak berat. Gadis di sampingnya itu terlihat lelah setelah seharian bergelut dengan presentasi laboratorium dan tumpukan tugas analisis data. Ada lingkaran tipis berwarna keunguan di bawah matanya, namun senyum tipisnya tetap mengembang ramah seperti biasa.
"Motor tuaku ada di parkiran belakang. Memang sih boncengannya agak keras, tapi setidaknya ada jas hujan dan helm cadangan. Kalau kamu mau, aku bisa antar kamu pulang sampai halte utama atau langsung ke depan gang rumahmu."
"Apa tidak merepotkanmu, Ka? Rumahku kan lumayan jauh dan agak berlawanan arah dengan tempat kosmu."
"Sama sekali tidak merepotkan. Daripada kamu tertahan di sini sampai malam tanpa kepastian angkutan, lebih baik kita jalan sekarang sebelum jalannya benar-benar tergenang air."
Alya menatap Raka sejenak, mengamati kesungguhan di mata cowok yang selama ini terkenal agak pendiam namun selalu bisa diandalkan itu. Ragu-ragu, Alya akhirnya mengangguk pelan, menyibakkan rambut panjangnya yang tertiup angin sore.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak ya, Raka. Tapi janji ya, nanti kita mampir beli es teh hangat atau bensin kalau kamu kehabisan."
"Tentu saja. Ayo, pegang payung ini baik-baik selagi kita berjalan menuju parkiran belakang. Jangan sampai tas laptopmu basah kena air hujan."
Raka membuka payung lipat berwarna biru tua yang ia keluarkan dari samping tasnya. Ukuran payung itu tidak terlalu besar, sehingga mereka harus berjalan sangat berdekatan agar tidak terkena cipratan air. Langkah kaki mereka beriringan menembus gerimis yang perlahan berubah menjadi deras. Gesekan lembut bahu Alya di lengan Raka menghadirkan desir hangat yang asing di dada cowok itu, mengubah sore yang muram menjadi berkesan.
"Payung ini kekecilan untuk berdua, Ka! Bahu kananmu jadi basah kuyup begitu!" seru Alya sedikit berteriak di antara suara gemericik air yang menghantam atap seng koridor.
"Biar saja, yang penting tas dan baju kamu aman. Jaket ini tebal kok, tidak akan langsung tembus ke dalam!" sahut Raka tertawa kecil.
Kehangatan sikap Raka membuat Alya tersenyum tanpa sadar. Di tengah gemuruh hujan yang kian rapat melingkupi kampus, keputusannya untuk melangkah bersama Raka sore itu rasanya menjadi pilihan terbaik yang ia ambil hari ini.
°˖✧✿✧˖°
Mesin motor tua milik Raka berbunyi batuk-batuk dua kali sebelum akhirnya menderu stabil di tengah derasnya guyuran hujan sore kota. Alya yang duduk di boncengan belakang berpegangan erat pada jaket denim Raka, menyesuaikan diri dengan guncangan roda di atas aspal yang mulai tergenang. Jalanan protokol dipenuhi barisan lampu merah kendaraan yang merayap lambat.
"Pegangan yang kuat ya, Al! Jalanan licin dan pandangan agak terhalang oleh embun di kaca helm!" teriak Raka mengalahkan suara hujan.
"Iya, Ka! Suara mesin motormu ini khas sekali ya, unik dan agak bernada nyaring!" balurnya terkekeh di balik jas hujan plastik warna hijau muda.
"Ini motor peninggalan almarhum ayahku. Walaupun bentuknya tua dan sering rewel, mesinnya masih punya jiwa kalau dirawat dengan sabar."
Alya menyandarkan dahi helmnya perlahan ke punggung Raka. Ada rasa aman yang tak terduga hadir di sana, seolah derasnya arus lalu lintas di sekeliling mereka tidak lagi menakutkan. Di balik bau hujan dan asap knalpot, Alya bisa mencium aroma samar kayu cendana dari jaket Raka.
"Kamu merawatnya sendiri selama ini, Ka? Tanpa pernah dibawa ke bengkel besar?"
"Iya, bongkar pasang sendiri di halaman kos tiap akhir pekan. Belajar dari buku petunjuk tua dan video di internet."
Penjelasan sederhana Raka membocorkan ketekunan yang jarang dipamerkannya di kampus. Alya kian kagum pada sosok cowok yang selama ini terlihat bersahaja namun menyimpan tanggung jawab yang mendalam.
°˖✧✿✧˖°
Tiba-tiba, saat melewati persimpangan jalan alternatif yang tergenang air setinggi mata kaki, mesin motor Raka tersendat berat lalu mati total. Percikan air dari roda mobil di samping mereka menyiram bagian bawah motor. Raka dengan sigap menahan keseimbangan kendaraan agar mereka tidak terjatuh di tengah jalanan yang ramai.